AS-Iran akan bertemu dengan mediasi Pakistan. Setidaknya ada lima perkara rumit yang harus disepakati sebelum sampai ke gencatan senjata permanen.
11 Apr 2026 09:50 WIB · Internasional
AFP/Mohammed HUWAIS
ISLAMABAD, JUMAT — Lokasi pertemuan Amerika Serikat dan Iran sudah siap. Penjagaan keamanan di Islamabad, Pakistan, sudah diperketat. Trotoar di sepanjang jalan menuju lokasi pertemuan sudah dicat ulang dengan warna kuning dan hitam. Islamabad tinggal menunggu.
Sebagai tuan rumah pertemuan AS-Iran, Pakistan optimistis bisa mencapai hasil positif. Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance yang menjadi pemimpin rombongan perunding AS juga optimistis meski menyelipkan ancaman kepada Iran.
”Jika Iran bersedia bernegosiasi dengan itikad baik, kami tentu bersedia mengulurkan tangan terbuka. Jika mereka mencoba mempermainkan kami, mereka akan berhadapan dengan tim negosiasi yang tidak responsif,” kata Vance sebelum terbang ke Islamabad. Dalam negosiasi ini, ia didampingi Utusan Khusus Trump, Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/11/07bec59c73147fc7e3d402ebebe29412-APTOPIX_Iran_US_Vance.jpg)
Seperti Vance, belum juga bertemu, Presiden AS Donald Trump sudah mengeluarkan pernyataan yang berisiko mengganggu perundingan. Melalui media sosial miliknya, Truth Social, ia mengatakan, satu-satunya alasan orang Iran masih hidup adalah untuk menegosiasikan kesepakatan.
”Orang Iran tampaknya tidak menyadari mereka tidak memiliki kartu apa pun, selain pemerasan jangka pendek terhadap dunia dengan menggunakan jalur air internasional. Satu-satunya alasan mereka masih hidup hari ini adalah untuk bernegosiasi!” tulis Trump.
Lebih lanjut Trump juga mengatakan akan membuka Selat Hormuz ”dengan atau tanpa” kerja sama Iran. ”Kami akan buka Teluk dengan atau tanpa mereka. Kami akan segera membukanya,” ujarnya. Selain isu Hormuz, prioritas AS dalam negosiasi ini adalah memastikan Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir.
Di sisi lain, Iran, sebagaimana posisi AS, tidak percaya dengan Washington. Meski demikian, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengatakan, Teheran memiliki niat baik pada negosiasi ini.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/02/19/3f972980-564f-4936-8694-29cb0c5a515a_jpg.jpg)
”Iran siap mencapai kesepakatan jika Washington menawarkan perjanjian yang tulus dan memberikan hak-hak Iran,” ujarnya. Bersama Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Qalibaf akan memimpin tim negosiasi Iran.
Mereka bersama tim Iran sudah tiba di Islamabad, Jumat (10/4/2026) malam. Kantor berita semiresmi Iran, Tasnim, melaporkan, rombongan Iran terdiri dari 70 orang, termasuk spesialis teknis di bidang ekonomi, keamanan, politik, dan wartawan.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengingatkan, negosiasi ini adalah fase penentu dan taruhannya besar karena yang dibahas adalah gencatan senjata permanen. Sebelum bisa mencapai itu, banyak perkara rumit yang harus diurai dan disepakati. Ia berharap kedua pihak mau bekerja keras dan bekerja sama untuk mencapai kesepakatan.
Ada lima perkara rumit yang akan dibahas dalam pertemuan. BBC News menyebutkan, kelima perkara itu adalah Lebanon sekaligus isu sekutu regional Iran, Selat Hormuz, program nuklir, dan pencabutan sanksi Iran.
Terkait isu Lebanon, serangan Israel atas Hizbullah di Lebanon bisa menggagalkan pembicaraan bahkan sebelum dimulai. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sudah menegaskan tidak ada gencatan senjata terkait Hizbullah. Namun, Trump memastikan Israel akan bersikap sedikit lebih tenang.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian di X menulis, kelanjutan serangan Israel ini akan membuat negosiasi tidak berarti. ”Jari-jari kami tetap berada di pelatuk senjata. Iran tidak akan pernah meninggalkan saudara-saudari di Lebanon,” tulisnya.
Jaringan sekutu dan proksi regional Iran, yaitu Hizbullah di Lebanon, Houthi di Yaman, Hamas di Gaza, dan sejumlah milisi di Irak, memberi Iran pengaruh di kawasan regional. Ini memungkinkan Iran untuk tetap kuat melawan AS dan Israel.
Sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023, jaringan yang disebut Iran sebagai ”Poros Perlawanan” itu telah terus-menerus diserang. Salah satu anggota poros itu, yakni rezim mantan diktator Suriah, Bashar al-Assad, sudah tidak ada lagi. Meski demikian, Israel tetap melihat poros itu ancaman eksistensial yang perlu diberantas sepenuhnya. Belum ada tanda-tanda Iran mau meninggalkan sekutunya.
Perkara rumit berikutnya adalah Selat Hormuz. Trump menganggap Iran tidak banyak membantu mengizinkan kapal melewati selat. Hanya sedikit kapal yang boleh lewat dan masih ada ratusan kapal yang terjebak di dalam Teluk. Iran mengumumkan pembuatan rute transit baru.
Rute itu untuk menghindari ranjau-ranjau antikapal yang sudah disebar di rute yang biasa dilewati. Ada beberapa laporan yang menyebut sejumlah kapal boleh lewat setelah membayar ”uang tol” sebesar 2 juta dolar AS. Trump memperingatkan Iran agar jangan memungut biaya sepeser pun dari kapal tanker.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/10/5250833879a92d8b9a8ba316b38ab3ee-Lebanon_Israel_Hezbollah_Timeline.jpg)
Isu rumit lain adalah program nuklir Iran yang jadi fokus perhatian AS. Iran tetap membantah berupaya membangun bom dan hanya memperkaya uranium untuk tujuan sipil, yang adalah hak Iran sebagai penanda tangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir.
Perkara pelik terakhir adalah pencabutan sanksi. Iran didera sanksi internasional selama puluhan tahun. Mereka menuntut pencabutan semua sanksi AS dan internasional sebagai bagian dari kesepakatan perdamaian. Qalibaf mengatakan, aset Iran yang dibekukan senilai sekitar 120 miliar dolar AS harus dilepaskan sebelum negosiasi dimulai. Namun, Sharif tidak menyebut perihal pelepasan aset yang dibekukan.
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei, Kamis, menegaskan, Iran akan menuntut ganti rugi atas semua kerusakan akibat perang. ”Kami tentu tidak akan membiarkan para agresor kriminal yang menyerang negara kami lolos dari hukuman,” ujarnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/03/13/3bc9c6e3-41b4-4eef-bd67-19eb6a80fcae.jpg)
Meski Trump telah menyatakan kemenangan dan menurunkan kemampuan militer Iran, perang tersebut belum mencapai banyak tujuan yang ia tetapkan di awal, yakni menghilangkan kemampuan Iran untuk menyerang negara-negara tetangganya, membongkar program nuklirnya, dan mempermudah rakyatnya untuk menggulingkan pemerintah mereka.
Iran dilaporkan masih memiliki rudal dan pesawat nirawak yang mampu menyerang negara-negara tetangganya dan persediaan lebih dari 400 kilogram uranium yang diperkaya mendekati tingkat yang dibutuhkan untuk membuat bom. Para penguasa ulama, yang menghadapi pemberontakan rakyat beberapa bulan lalu, mampu menahan serangan tersebut tanpa tanda-tanda perlawanan terorganisasi.
Kontraktor pertahanan AS, Lockheed Martin, mengumumkan pesanan baru Pentagon, Jumat, untuk pasokan rudal Patriot. Perusahaan itu menyebutkan, pesanan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan perusahaan untuk meningkatkan produksi Patriot dari 620 unit tahun lalu menjadi 2.000 unit per tahun pada 2030. Kesepakatan ini ditandatangani Lockheed dan Pentagon pada Januari lalu.
Sebelumnya, kantor berita Associated Press bulan lalu melaporkan, sejumlah besar rudal pertahanan udara Patriot AS telah dipindahkan dari Eropa ke Timur Tengah karena AS mengalihkan sumber daya ke perang melawan Iran. Pergeseran ini meninggalkan celah yang mengkhawatirkan dalam pertahanan udara Eropa terhadap Rusia. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti