Lipsus LALIGA: Sepak Bola Spanyol dan Visi Keberlanjutan Javier Tebas

Javier Tebas adalah sosok sentral di balik kestabilan finansial klub-klub LALIGA Spanyol. Visi keberlanjutannya menyelamatkan banyak klub Spanyol dari kerugian.

12 Jun 2025 07:30 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra dari Madrid, Spanyol

Sekitar dua dekade silam, sepak bola Spanyol dipenuhi persoalan finansial. Banyak klub mengalami masalah keuangan akibat tidak adanya pengawasan ekonomi. Pemilik klub secara bebas menggelontorkan dana untuk membeli serta menggaji pemain tanpa batasan. Kecenderungan ini mengakibatkan klub pada akhirnya merugi hingga tidak mampu menggaji pemain dan agennya serta menghindar dari kewajiban membayar pajak.

Namun, itu adalah kisah masa lalu. Saat ini, LALIGA Spanyol termasuk liga paling berkelanjutan (sustainable) dari sisi pengelolaan keuangan. Tidak ada lagi kisah klub yang menunggak gaji pemain dan pajak. Semua itu berkat sistem kontrol ekonomi yang dicetuskan Presiden LALIGA Javier Tebas sejak terpilih pada 2013 silam.

Secara garis besar, sistem itu dirancang untuk mencegah klub mengeluarkan uang melebihi batas kemampuan mereka. Kemampuan keuangan klub dihitung berdasarkan pendapatan, pengeluaran non-olahraga, dan pembayaran utang.

Semua variabel itu dikalkulasikan setiap musim dan disesuaikan pada setiap jendela transfer. Tujuannya agar klub bisa memastikan keberlanjutan finansial tanpa mengorbankan tingkat persaingan. 

Aturan atau sistem ini pula yang menyebabkan Barcelona, dalam beberapa musim belakangan, menghadapi kendala saat mendaftarkan pemain. Musim ini, misalnya, tim ”Blaugrana” sempat tidak bisa memainkan Dani Olmo yang baru dibeli dari RB Leipzig.

Hal itu karena Barca dalam kondisi yang ”lebih besar pasak daripada tiang” akibat membeli serta menggaji pemain dengan nominal tinggi di masa lalu. Agar Olmo bisa didaftarkan, Barca harus mengaktifkan tuas ekonomi seperti menambah jumlah kursi premium (VIP) di stadion serta menjual banyak pemain. 

Presiden LALIGA, Javier Tebas

”Kami adalah liga yang berkelanjutan secara finansial. Jadi, klub-klub telah bekerja keras selama beberapa tahun terakhir untuk memastikan bahwa kerugian yang mereka alami selama periode Covid-19 terbayar. Ini akan membantu kami untuk memiliki lebih banyak investasi di masa mendatang saat kami perlu merekrut pemain,” kata Tebas dalam sesi wawancara khusus bersama Kompas di kantor pusat LALIGA di Madrid, Spanyol, Jumat (23/5/2025).

Keberlanjutan finansial memang menjadi perhatian utama Tebas. Sejak terpilih sebagai Presiden LALIGA, Tebas hendak memastikan setiap klub sehat secara keuangan. Itulah sebabnya sistem kontrol ekonomi menjadi kebijakan yang langsung ia terapkan setelah terpilih.

Tebas yang berprofesi sebagai pengacara dulu banyak membantu menangani klub-klub Spanyol yang terlilit utang. Dari pengalamannya itu, Tebas menyadari ada yang salah dalam pengelolaan klub di Spanyol. Akar masalah itu, salah satunya, akibat kecenderungan klub yang menghambur-hamburkan uang untuk membeli dan menggaji pemain bintang tanpa menyadari kondisi keuangan mereka sendiri.

Quote

Sejak 2014 hingga 2020, kekayaan bersih gabungan klub-klub LALIGA meningkat sebesar 250 persen.

Dahulu kala, hampir seluruh klub di Spanyol dimiliki oleh para suporter. Tetapi, kenyataannya, klub sering kali dikuasai oleh tokoh atau pengusaha lokal yang punya kekuasaan. Pada awal 1990, Pemerintah Spanyol mencoba memberlakukan kontrol yang lebih besar dengan mendorong seluruh klub menjadi sociedad anonimas deportiva (SAD/perseroan terbatas olahraga).

Transformasi menjadi SAD ini, dalam perjalanannya, tidak menghentikan presiden dan direktur klub untuk menghabiskan uang melebihi kemampuan mereka. Akibatnya, klub-klub itu bangkrut tanpa bisa membayar pajak, menggaji pemain, dan membayar agen. Pada rentang 2004 hingga 2012, lebih dari setengah klub profesional di Spanyol sudah memasuki tahap administrasi untuk menghindari pembayaran kepada para kreditor mereka.

Pemilik Paris Saint-Germain, Nasser bin Ghanim Al-Khelaifi, mencium trofi setelah timnya menjuarai Liga Champions Eropa, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB. Nasser dengan kekuatan uangnya mengubah PSG menjadi tim yang disegani di Eropa

Situasi di Spanyol saat itu mirip dengan Liga Inggris saat ini. Investasi tidak terbatas dari pemilik modal luar negeri membuat harga serta gaji pemain menjadi semakin mahal. Klub pun berpotensi mengeluarkan uang melebihi yang seharusnya. Namun, perbedaannya, di Inggris para investor asing amat loyal hingga bersedia menutupi kerugian klub dengan dana yang berasal dari kekayaan mereka sendiri.

Pro dan kontra

Meskipun bertujuan mulia, kebijakan kontrol ekonomi tetap mengundang pro dan kontra. Di satu sisi, kebijakan ini bisa menghindarkan klub dari kebangkrutan. Akan tetapi, ada pula pendapat yang mengkritisi kontrol ekonomi bisa menghambat pertumbuhan klub Spanyol dari yang seharusnya. 

Hal ini lantaran kebijakan kontrol ekonomi mengharuskan klub tunduk pada aturan yang sangat ketat mengenai berapa banyak uang yang dapat mereka investasikan dan bagaimana uang bisa dibelanjakan. Tidak seperti di Inggris dan banyak negara lain, tidak ada investor yang bisa datang dan langsung memutuskan untuk menghabiskan banyak uang dengan harapan bisa langsung membuat timnya menjadi kuat.

Kritik itu pada akhirnya terbantahkan dengan sendirinya. Walaupun klub Spanyol menjadi tidak leluasa mendatangkan megabintang, mereka setidaknya tetap bisa kompetitif di level Eropa.

Klub-klub Spanyol memenangi 21 trofi antarklub Eropa sejak 2013, lebih banyak dari gabungan semua liga Eropa lainnya. Real Madrid sukses menjadi klub dengan trofi Liga Champions Eropa terbanyak, 15 kali. Sevilla pun menguasai Liga Europa dengan perolehan tujuh gelar. 

Berkat kontrol ekonomi, prestasi di lapangan turut menjalar ke kondisi finansial. Sejak 2014 hingga 2020, kekayaan bersih gabungan klub-klub LALIGA meningkat sebesar 250 persen. Di sisi lain, kewajiban utang berkurang dari 650 juta euro pada 2013 menjadi hanya 3 juta euro pada 2023. Demikian pula gaji yang tidak dibayarkan kepada pemain telah turun drastis dari 89 juta euro menjadi nol.


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra dari Madrid, Spanyol
 | 

Editor:

Yulvianus Harjono
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar