KELISTRIKAN

Listrik Sumatera Bagian Utara Masih Padam, Dirut PLN: Butuh 15-20 Jam Hidupkan Kembali PLTU

Proses paling lama adalah menghidupkan, menyambungkan, dan menyinkronkan kembali pembangkit listrik tenaga uap yang memakan waktu 15-20 jam.

23 Mei 2026 15:13 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/NIKSON SINAGA

Oleh Nikson Sinaga

MEDAN, KOMPAS – Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Darmawan Prasodjo menyebut proses pemulihan kelistrikan di Sumatera bagian utara masih butuh waktu. Proses paling lama adalah menghidupkan dan menyambungkan kembali pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU yang memakan waktu 15-20 jam.

”Untuk sistem PLTU batubara prosesnya membutuhkan waktu yang cukup panjang karena kami harus memanaskan air untuk menjadi uap, dengan proses yang harus dinyalakan satu per satu,” kata Darmawan dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

Ia menjelaskan, sistem kelistrikan di wilayah Sumatera bagian utara (Sumbagut) yang meliputi Sumut, Aceh, Sumbar, Riau, dan Jambi lumpuh hampir seluruhnya sejak Jumat pukul 18.44 WIB. Indikasi awal, lumpuh total atau blackout itu terjadi akibat gangguan di jalur transmisi 275 kV Muarabugo-Sungai Rumbai di Jambi karena cuaca buruk.

Gangguan transmisi itu menyebabkan sistem kelistrikan Sumatera bagian tengah terputus dari sistem Sumbagut. Hal ini membuat sistem Sumbagut mengalami shock karena putusnya pasokan ataupun beban kelistrikan secara tiba-tiba.

Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) Darmawan Prasodjo dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (23/5/2026).

”Akibatnya, pembangkit listrik di Sumbagut langsung secara otomatis keluar dari sistem. Pembangkitnya juga secara otomatis padam,” kata Darmawan.

Ia menyebutkan, pembangkit listrik otomatis padam karena menanggung beban yang sangat besar. Pembangkit lainnya padam karena kehilangan beban sehingga tegangan naik dan otomatis padam.

Padamnya sejumlah pembangkit listrik menyebabkan efek domino di seluruh sistem Sumbagut sehingga semua pembangkit di sistem itu padam.

Darmawan menjelaskan, PLN telah mengambil sejumlah langkah awal. Pertama, pihaknya melakukan asesmen atau pemeriksaan apakah ada dampak kerusakan pada gardu induk dan sistem transmisi. ”Dalam waktu sekitar dua jam, seluruh sistem gardu induk dan transmisi bisa kami pulihkan,” ucapnya.

Namun, listrik tidak bisa otomatis menyala. PLN harus menghidupkan kembali pembangkit listrik, menyambungkan, dan menyinkronkan ke sistem secara bertahap.

Darmawan mengatakan, Sumbagut ditopang berbagai jenis pembangkit listrik. Pembangkit bertenaga air dan gas lebih mudah dan cepat untuk dihidupkan kembali. ”Cepat dalam hal ini adalah 5-15 jam,” lanjutnya.

Namun, untuk PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara, proses untuk menghidupkan kembali mesin yang padam memakan waktu 15-29 jam.

Langkah selanjutnya, kata Darmawan, adalah menyambungkan pembangkit tersebut kepada sistem transmisi melalui gardu induk, lalu menyinkronkannya ke sistem.

Dalam jangka panjang, ujar Darmawan, PLN akan memperbaiki sistem kelistrikan Sumatera agar kejadian blackout atau padam total tidak terjadi lagi di Sumatera.

”PT PLN menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat yang berada di Sumatera, terutama di Jambi, Sumbar, Riau, Sumut, dan Aceh, karena adanya gangguan di sistem kelistrikan sejak tadi malam,” kata Darmawan.

Pantauan Kompas, aliran listrik sudah mulai pulih di beberapa daerah di Sumbagut. Di Medan, listrik mulai menyala khususnya di pusat perkotaan. Namun, sebagian besar listrik masih padam.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah mengatakan, pelaku industri menyesalkan padamnya listrik yang berlangsung sangat lama hingga 20 jam. Kerugian akibat padamnya listrik tersebut cukup dalam karena berbarengan dengan harga solar industri yang juga meroket hampir Rp 30.000 per liter.

Beberapa pabrik karet remah tetap beroperasi untuk memenuhi target produksi dan kontrak penjualan meskipun biaya membengkak karena harus menggunakan generator pembangkit. Namun, ada juga pabrik yang memilih berhenti beroperasi karena biaya pengolahan karet meningkat 100 persen jika harus menggunakan generator pembangkit listrik.

Masyarakat beraktivitas menggunakan lilin akibat listrik yang padam total di sistem Sumatera bagian utara di Kabupaten Deli Serdang, Sumut, Jumat (22/5/2026) malam.

”Di Kabupaten Labuhanbatu, sebuah pabrik memilih berhenti beroperasi untuk menghindari kerugian yang lebih dalam akibat biaya pengolahan yang meningkat 100 persen,” kata Edy.

Ia berharap, pemulihan bisa segera dilakukan agar kerugian dunia usaha tidak semakin besar. Bagi industri karet, lanjut Edy, listrik adalah pasokan energi utama dalam rantai produksi. Pabrik karet remah menggunakan motor listrik yang membutuhkan daya cukup besar untuk melakukan penggilingan dan peremahan karet. Untuk mengolah 1 ton karet dibutuhkan listrik 180 kilowat-jam (kWh).  

Lumpuhnya jaringan listrik juga berdampak ke berbagai sektor lain. Jaringan komunikasi seluler lumpuh di sejumlah tempat. Sebagian lampu lalu lintas juga tak bisa hidup sehingga menyebabkan kemacetan lalu lintas yang cukup parah di beberapa persimpangan. Beberapa mesin ATM juga tak beroperasi karena gangguan listrik tersebut. Sudah 20 jam listrik di Sumbagut padam sejak Jumat pukul 18.44.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikson Sinaga
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul