Mayoritas masyarakat di Indonesia belum memenuhi standar asupan buah dan sayur harian.
27 Mei 2025 06:00 WIB · Riset
Di bulan Mei yang dipenuhi peringatan hari-hari kesehatan global ini, agaknya tepat untuk kembali merefleksikan isi piring makan kita sehari-hari. Apalagi, kecukupan gizi masyarakat Indonesia dari buah dan sayur tercatat masih sangat rendah.
Dalam satu windu terakhir, perilaku konsumsi sumber serat ini bahkan menunjukkan tren penurunan. Makin memprihatinkan di tengah rendahnya literasi masyarakat terhadap nutrisi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan konsumsi minimal 400 gram buah dan sayur atau setara lima porsi per hari untuk individu berusia di atas 9 tahun.
Sementara itu, anak usia 2 hingga 9 tahun disarankan mengonsumsi 250–350 gram atau setara 3–4 porsi per hari. Pemerintah Indonesia pun mengadopsi standar yang sama dalam kebijakan pemenuhan gizi nasional.
Standar ini penting dipenuhi karena buah dan sayur merupakan penyumbang utama serat, vitamin, dan mineral yang esensial bagi metabolisme tubuh.
Buah dan sayur juga berperan signifikan dalam menurunkan risiko penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes tipe 2, obesitas, dan beberapa jenis kanker.
Kandungan fitonutrien dan antioksidannya membantu melawan radikal bebas serta memperkuat sistem imun tubuh. Dua komposisi tersebut penting dalam pencegahan penyakit tidak menular (PTM) yang kini mendominasi angka kematian di Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/10/00e1b1d3-7d8c-4844-8589-96434c27b493_jpg.jpg)
Sayangnya, mayoritas masyarakat Indonesia belum mengombinasikan buah dan sayur dalam menu harian. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, hanya 3,3 persen penduduk mengonsumsi buah dan sayur sesuai standar minimal.
Sebanyak 17,4 persen hampir memenuhi dengan 3-4 porsi, sementara mayoritas, yakni 67,5 persen, hanya mengonsumsi 1-2 porsi per hari. Bahkan, 11,8 persen tidak mengonsumsi sama sekali. Artinya, 96,7 persen masyarakat belum memenuhi standar asupan harian.
Kondisi lebih memprihatinkan terjadi pada anak usia 5-9 tahun. Tercatat hanya 2,3 persen yang memenuhi standar. Sebanyak 67 persen hanya mengonsumsi 1-2 porsi, dan 18,5 persen tidak mengonsumsi buah dan sayur sama sekali. Ini berarti hampir seluruh anak Indonesia, 97,7 persen, berada di bawah batas minimum konsumsi yang disarankan.
Tren ini pun menunjukkan kemunduran. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat angka konsumsi buah dan sayur yang lebih baik.
Sebanyak 4,6 persen masyarakat memenuhi standar dan 18,3 persen hampir mencapainya. Artinya, dalam lima tahun terakhir, ada penurunan kesadaran sekaligus penurunan praktik konsumsi pangan bergizi.
Gambaran ini mencerminkan bahwa meski narasi tentang hidup sehat semakin sering digaungkan, belum banyak yang berubah dalam perilaku konsumsi masyarakat.
Faktor struktural seperti minimnya intervensi berkelanjutan di tingkat keluarga dan komunitas, serta kurangnya integrasi edukasi gizi dalam kurikulum sekolah, memperburuk situasi ini. Perubahan gaya hidup juga membuat masyarakat semakin bergantung pada makanan cepat saji yang rendah serat dan tinggi kalori.
Literasi nutrisi atau gizi dapat dipahami sebagai kemampuan seseorang untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, dan menerapkan informasi gizi guna membuat keputusan makan yang sehat.
Melihat potret di atas, terdapat kecenderungan bahwa tingkat literasi gizi masyarakat Indonesiea cenderung rendah. Secara umum, SKI 2023 mencatat sebanyak 43,3 persen masyarakat tidak mengetahui bahaya dari makanan berisiko yang mereka konsumsi setiap hari.
Secara khusus dalam hal sayur, mayoritas mencapaikan alasan yang bersifat personal pada keengganan mereka mengonsumsi sumber serat ini.
Dalam pertanyaan multijawaban, 81,4 persen responden mengaku tidak suka sayur, 25,4 persen tidak terbiasa, dan 12 persen malas mengonsumsinya. Bahkan 2,3 persen merasa tidak ada manfaat dari sayur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/18/eb426088-a34a-43ab-acbc-ee1d1da5c301_jpg.jpg)
Ini menunjukkan bahwa konsumsi sayur lebih banyak dipengaruhi faktor psikologis dan kebiasaan. Pola makan dalam keluarga, pengolahan yang monoton, dan minimnya pembiasaan sejak dini membuat sayur tidak menjadi bagian alami dari preferensi makan anak maupun dewasa.
Sebaliknya, alasan tidak mengonsumsi buah cenderung struktural. Sebanyak 61,8 persen menyebut buah tidak tersedia di lingkungan mereka, dan 28,6 persen menyebut tidak mampu membeli. Ini mengindikasikan adanya masalah pada distribusi, aksesibilitas, dan harga buah-buahan di banyak wilayah.
Dari sini terlihat bahwa rendahnya konsumsi buah dan sayur di Indonesia berpijak pada dua persoalan utama, yaitu preferensi personal dan hambatan struktural. Sayur ditolak karena persepsi dan selera, sementara buah terganjal oleh ketersediaan dan daya beli.
Artinya, perlu ada solusi yang menyasar keduanya. Baik itu dalam hal membangun kesadaran dan preferensi makan sehat sejak dini maupun memperbaiki sistem distribusi pangan lokal agar lebih merata dan terjangkau.
Di tengah status gizi yang mengkhawatirkan, memenuhi kebutuhan buah dan sayur menjadi langkah mendesak. WHO menegaskan bahwa cukup konsumsi buah dan sayur dapat mencegah jutaan kematian tiap tahun akibat PTM, termasuk penyakit jantung, kanker, dan diabetes.
Ada beberapa langkah solutif yang bisa ditempuh. Keterbatasan akses terhadap buah dapat diatasi dengan menanam buah lokal yang minim perawatan di pekarangan rumah, seperti pepaya, pisang, atau belimbing.
Memilih buah musiman juga bisa menekan pengeluaran karena harganya lebih terjangkau dan lebih mudah ditemukan di pasar lokal.
Hal ini juga membuka peluang bagi pemerintah untuk menghadirkan kebijakan yang mempermudah distribusi, memperkuat produksi buah lokal, hingga memberi insentif bagi UMKM dan petani hortikultura. Program seperti subsidi pangan sehat, urban farming terpadu, serta edukasi gizi di sekolah bisa menjadi motor perubahan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/27/24116cf6-b293-4328-a9ed-706bc51d094b_jpg.jpg)
Bagi yang sudah terbiasa mengonsumsi buah dan sayur, diversifikasi menjadi langkah berikutnya. Setiap warna buah dan sayur menyimpan kandungan nutrisi yang berbeda.
Misalnya saja warna merah untuk likopen, hijau untuk lutein, ungu untuk antosianin. Dengan memperbanyak variasi warna di piring, kita juga memperkaya zat gizi yang masuk ke tubuh.
Literasi nutrisi tidak hanya tentang tahu makanan sehat, tapi juga soal keberanian untuk memilih dan mengutamakannya dalam keseharian.
Ketika masyarakat dapat memahami manfaat gizi secara menyeluruh, bukan sekadar ikut tren diet sesaat, maka kebiasaan makan akan terbentuk dengan sendirinya.
Saat buah dan sayur bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi pusat dari isi piring kita, maka Indonesia tidak hanya lebih sehat, tetapi juga lebih tangguh menghadapi tantangan kesehatan masa depan. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Arita NugraheniEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul