Forum Taman Bacaan Masyarakat Jakarta membuktikan literasi yang digagas dari masyarakat/komunitas dapat menjadi penyambung silaturahmi lintas negara.
06 Nov 2025 10:33 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
DOKUMENTASI FORUM TBM JAKARTA
JAKARTA, KOMPAS — Literasi yang digerakkan masyarakat lewat taman bacaan masyarakat atau TBM membuka jalan untuk mengenalkan keragaman budaya bangsa ke mancanegara. Tumbuh di ruang lokal dan akar rumput, berbagai TBM di Jakarta yang tergabung dalam Forum TBM Jakarta juga bisa menjadi penyambung silaturahmi lintas negara.
Sebanyak enak pegiat literasi dan pengelolal TBM Jakarta di bawah payung Forum TBM Jakarta dengan dukungan Kementerian Kebudayaan hadir dalam Festival Sastera 2025: Eksplorasi dan Kebitaraan Sastra Tunas pada 4–5 November 2025 di Pusat Kesenian Pro Canselor (PCAC), Universiti Brunei Darussalam. Di tahun 2024, Forum TBM Jakarta juga mengikuti kegiatan literasi di Doha, Qatar.
Ketua Forum TBM Jakarta Yudy Hartanto, yang dihubungi dari Jakarta, Kamis (6/11/2025), mengatakan, keberangkatan tim Forum TBM Jakarta ke Festival Sastera Brunei menjadi momen berharga yang membuktikan bahwa gerakan literasi tak hanya tumbuh di ruang lokal, tetapi juga menjalin silaturahmi lintas negara.
”Kami hadir membawa semangat Betawi sebagai identitas budaya Jakarta untuk diperkenalkan ke saudara-saudara di Brunei. Melalui kegiatan interaktif, pembacaan cerita rakyat, permainan tradisional, dan seni budaya, kami ingin menunjukkan bahwa literasi adalah jembatan untuk saling mengenal dan menghargai keberagaman,” kata Yudy yang juga pendiri Rumah Baca Zhaffa Jakarta.
Yudy menambahkan, Forum TBM Jakarta menyambut baik kesempatan ini untuk berbagi praktik literasi, memperluas jaringan komunitas, dan menampilkan kreativitas pegiat literasi Indonesia di kancah internasional. ”Semoga ini menjadi langkah awal bagi kolaborasi literasi dan budaya di tingkat regional Asia Tenggara,” ujar Yudy.
Festival Sastera 2025 diselenggarakan Program Bahasa, Linguistik, dan Kesusastraan Melayu Fakultas Sastera dan Sains Sosial Universiti Brunei Darussalam. Festival ini bertujuan memperkuat jaringan sastra serantau dan membuka ruang pertukaran ilmu antara penulis, pembaca, dan penggiat seni dari berbagai latar budaya Nusantara.
Festival Sastera 2025 juga menjadi platform penting bagi komunitas sastra untuk belajar, berbagi, dan menampilkan karya mereka dalam konteks internasional. Pihak Universiti Brunei Darussalam yakin bahwa keikutsertaan Forum TBM Jakarta akan memperkaya pertukaran budaya dan mempererat hubungan Indonesia-Brunei Darussalam, khususnya dalam bidang sastra dan literasi masyarakat.
Pegiat Literasi Kargo Baca, Edi Dimyati, menurutkan, mengikuti Festival Sastera 2025 di Brunei Darussalam menjadi pengalaman berharga. ”Selain berbagi semangat literasi, kami juga memperkenalkan kekayaan budaya Betawi kepada sahabat dari beberapa negara. Sastra dan budaya menjadi jembatan persaudaraan lintas negara dengan cara yang menyenangkan,” katanya.
Sementara itu, Safrudiningsih, pendiri TBM Bukit Duri Bercerita dan juga Sekretaris Forum TBM Jakarta, menyatakan, ikut kegiatan Festival Sastera di Brunei merupakan kesempatan sekaligus peluang untuk memperkenalkan diri, baik secara pribadi maupun melalui Forum TBM Jakarta. Dalam kegiatan ini, FTBM ingin mengenalkan budaya Betawi yang dinamis dan terbuka kepada negara tetangga, Brunei Darussalam.
”Selama ini, masyarakat Brunei mungkin hanya mengenal Jakarta sebagai ibu kota atau kota besar lain, tetapi Jakarta dan Betawi memiliki kebudayaan yang patut dibanggakan,” ujar Safrudiningsih.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/06/fe3bb5276084d9d48bb8d9dbcf9b63a7-Forum_TBM.jpg)
Cecep Damanhuri dari Kampung Qur’an Jakarta mengatakan, keunikan tradisi Betawi, seperti palang pintu yang digunakan dalam hajatan pernikahan untuk hiburan dan nasihat melalui balas pantun, ondel-ondel yang awalnya sebagai penangkal roh jahat, tarian yang mengajarkan kekompakan, serta silat sebagai sarana menjaga diri, menjadi bagian dari warisan budaya yang dibawa ke Festival Sastera di Brunei. ”Di sisi lain, kami juga belajar banyak tentang kebudayaan, literasi, pendidikan, dan keragaman yang ada di negeri serumpun,” katanya.
Ketua Divisi Program Forum TBM Jakarta Virgina Veryastuti, yang juga Pendiri Melati Taman Baca Jakarta, mengatakan, kegiatan ini menjadi momen berharga untuk belajar literasi dari teman-teman lintas negara, bertukar pengetahuan, serta mengenal seni dan budaya. Forum TBM Jakarta berharap pengalaman ini menginspirasi lebih banyak kegiatan lintas negara dan pertukaran budaya serta pengetahuan di masa depan.
”Kami percaya, literasi itu tidak mengenal batas negara,” kata Virginia.
Forum TBM Jakarta merupakan salah satu anggota Forum TBM. Adapun Forum TBM didirikan tahun 2005 dengan dukungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. TBM merupakan ruang gerakan membaca dan kecakapan literasi yang diinisiasi oleh dan untuk masyarakat.
Adapun TBM di masyarakat dapat ditemukan dalam beragam nama, seperti TBM, taman baca, ruang baca, rumah baca, rumah literasi, rumah belajar, dan beragam nama lainnya. Termasuk yang menggunakan bahasa daerah sesuai lokasi TBM berada.
Di ajang Temu Pegiat TBM 2025 yang digelar di TBM Ibnu Hajar, Magelang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu, Ketua Umum Forum TBM Opik mengatakan, TBM yang hadir dari inisiatif masyarakat untuk mendukung peningkatan literasi untuk semua orang terus memperkuat jejaring literasi di beberapa daerah serta mendorong peran aktif masyarakat dalam meningkatkan minat baca di Indonesia.
Kiprah TBM dalam mendukung gerakan literasi masyarakat tanpa batas mendapat perhatian dan dukungan pemerintah. Perpustakaan Nasional, misalnya, memiliki program 1.000 buku, yang juga menyasar TBM di seluruh Indonesia.
Secara terpisah, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti di acara Rapat Koordinasi Nasional Bidang Perpustakaan Tahun 2025, beberapa waktu lalu, mengatakan, literasi bukan sekadar melek aksara, melainkan juga mencakup aktivitas untuk memahami apa yang dibaca dan menelaah berbagai hal sebagai bagian dari proses literasi yang terbuka. Karena itu, peningkatan budaya baca harus diiringi dengan ketersediaan bahan bacaan bermutu.
Mengingat pentingnya literasi bagi kemajuan bangsa, kata Mu’ti, upaya bersama antarberbagai pihak perlu ditingkatkan. Untuk efektif dalam upaya peningkatan literasi diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi nonpemerintah, sektor swasta, dan komunitas. Setiap pemangku kepentingan memiliki peran dalam menciptakan program yang inovatif dan inklusif.
Penyediaan bahan bacaan bermutu membutuhkan sinergi berbagai pihak. Dengan demikian, minat baca generasi muda dapat tumbuh dan berkembang optimal. ”Ini perlu kita dukung dengan sinergi seluruh masyarakat. Kemendikdasmen membuka keterlibatan dan partisipasi masyarakat agar apa yang kita lakukan menjadi bagian kerja sama dari kemitraan,” kata Mu’ti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/12/21/a167b720-0be8-46ef-8f2b-9fec26effccf.jpg)
Mu’ti menggarisbawahi pentingnya ketersediaan bahan bacaan dalam mengembangkan minat baca. ”Ketersediaan bahan bacaan akan mendorong dan bersinergi dengan minat semangat membaca,” ujarnya.
”Tidak ada bahan bacaan kalau tidak ada yang menulis dan tulisan (yang dihasilkan) itu harus memiliki makna yang mampu mencerahkan, menggerakkan, dan menginspirasi pembaca menjadi (pribadi) yang lebih baik,” jelasnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/23/1b1506051b8fd909e772b6833773a86b-WhatsApp_Image_2025_06_23_at_5.10.07_PM.jpeg)
Penulis:
Ester Lince NapitupuluEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan