Meski sempat ada larangan, demonstran tetap menyiarkan ”live” Tiktok. Sebuah isyarat, di era media sosial, suara rakyat akan selalu menemukan ruang.
30 Agt 2025 10:04 WIB · Metropolitan
Di antara teriakan massa dan tembakan gas air mata, cahaya layar ponsel terus menyala di kerumunan demonstran. Layar-layar ponsel tampak menayangkan siaran langsung Tiktok aksi demonstrasi di sekitar Mako Brimob Polda Metro Jaya, Kwitang, Jakarta Pusat, Jumat (29/8/2025) malam.
Fenomena ini menegaskan satu hal: demonstrasi hari ini tak hanya berlangsung di jalanan, tetapi juga di ruang digital. Di balik layar, ribuan pasang mata ikut ”hadir”. Warganet tidak sekadar menonton, tetapi juga aktif berkomentar, mengirimkan gift (hadiah), dan menanyakan situasi lapangan secara real time.
Interaksi itu sekaligus memberikan energi tersendiri bagi massa. Seakan setiap langkah mereka didukung warganet yang jumlahnya melebihi peserta aksi itu sendiri.
Sejumlah demonstran mengangkat ponsel mereka tinggi-tinggi untuk mendapatkan visual sebaik mungkin. Fitur siaran langsung Tiktok dipakai bukan hanya untuk mendokumentasikan, melainkan juga memperluas jangkauan aksi mereka di media sosial.
Tak tanggung-tanggung, akun milik Isna Angga (27), misalnya, ditonton oleh sekitar 25.000 penonton saat demonstrasi di Mako Brimob pada Jumat siang. Dari aktivitas itu, dia juga mendapat tambahan sekitar 2.000 pengikut. ”Sekarang (Jumat malam) tinggal 3.000-an penonton. Tadi sekitar pukul 15.00 tembus 25.000 penonton,” ujarnya.
Dia juga beberapa kali mendapat komentar dari warganet untuk terus mendekat ke kericuhan yang terjadi di Mako Brimob. Mereka tak peduli meskipun polisi tengah menembakkan gas air mata di mana-mana. Para penonton pun mengiming-imingi Angga dengan gift.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/12b7b7862b51a447ee2e328565ddb469-IMG_20250830_WA0015.jpg)
Ada kecemasan yang dialami oleh Angga saat tengah merekam suasana mencekam. Dia khawatir aktivitasnya diamati oleh intel sehingga mengancam keselamatannya.
Kekhawatiran itu terlihat saat Kompas mengajaknya berbincang. Saat kami menghampiri, layar ponselnya diatur sangat redup supaya tidak terlihat sedang menyiarkan siaran langsung Tiktok. ”Ini (warganet) pada bilang elu intel. Benaran intel enggak? Enggak kan?” katanya waswas.
Obrolan kami terhenti saat polisi kembali menembakkan gas air mata ke dekat kami, hingga membuat massa berlari berhamburan. Angga yang ikut panik pun turut berlari menjauhi kepulan asap gas air mata.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/30/e843c94bf41f2a354009b5427ec60c24-IMG_20250830_WA0016.jpg)
Siaran langsung Tiktok juga dilakukan oleh Jodi Indarsono (24), pengemudi ojek daring asal Tangerang Selatan, Banten, yang juga ikut berdemo sejak siang. Siaran langsung Tiktok ini baru pertama kali ini dia lakukan lantaran terinspirasi dari rekan-rekannya yang lain.
”Supaya orang-orang pada tahu apa yang terjadi di sini. Kami di sini sedang menuntut keadilan. Ini jadi bentuk solidaritas teman-teman ojek daring,” katanya.
Supaya orang-orang pada tahu apa yang terjadi di sini. Kami di sini sedang menuntut keadilan. Ini jadi bentuk solidaritas teman-teman ojek daring.
Dari situ, dia seakan mendapatkan dukungan moril dari warganet setiap kali menayangkan siaran langsung. Meski kerap menerima banyak komentar provokasi, Jodi memilih untuk tidak terpengaruh.
Akun Tiktoknya sempat dilihat oleh sekitar 3.000 akun saat melakukan siaran langsung pada Jumat siang. Karena terkendala masalah jaringan, dia pun menghentikan siaran langsungnya.
”Saya cuma live saja, tidak ada niatan lain. Saat susah sinyal tadi yang nonton juga jadi sedikit,” ujar pria yang juga berstatus sebagai mahasiswa ini.
Arif Nasrudin (32), warga Kabupaten Bogor, Jawa Barat, turut memantau jalannya demonstrasi lewat sejumlah akun Tiktok, mulai dari demo buruh di Gedung DPR hingga aksi protes menuntut keadilan atas kematian pengendara ojek daring, Affan Kurniawan. Menurut dia, melihat siaran langsung Tiktok membuatnya seolah-olah hadir langsung di lokasi kejadian.
”Hanya memasukkan kata kunci demo di mana sudah langsung tersedia banyak pilihan. Menontonnya (Tiktok) rasanya seperti hadir langsung di lokasi,” katanya.
Arif mengaku hanya menjadi penonton, tidak ikut berkomentar atau mengarahkan pendemo. Hanya saja, dia melihat banyak komentar yang mengarahkan para pendemo untuk melakukan hal-hal anarkis, seperti meminta untuk mengepung titik tertentu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/30/1a839611-fd62-43dc-9b5e-488110c7d0c7_jpg.jpg)
Kompas sempat memantau kericuhan yang terjadi di sekitar Mako Brimob menjelang tengah malam lewat akun Tiktok bernama Pamanjoy. Tidak hanya komentar provokatif, akun itu juga menerima banyak simpati dari penontonnya. Penonton memintanya untuk berhati-hati dan tidak ikut merusak fasilitas umum dan menjarah barang-barang.
Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Ade Ary Syam Indradi telah melarang pendemo untuk tidak melakukan siaran langsung Tiktok saat melakukan aksi. Siaran langsung ini dikhawatirkan dapat memobilisasi massa.
”Yang metodenya kalau tidak salah berharap mendapatkan gift atau hadiah dari penonton. Kami berharap ini tidak terjadi lagi,” ujarnya.
Siaran langsung Tiktok penuh risiko. Namun, cara ini memberi kesempatan masyarakat untuk menyaksikan langsung dinamika lapangan tanpa sepenuhnya bergantung pada narasi resmi.
Ia menjadi sarana warga untuk berpartisipasi sekaligus mengawasi jalannya demokrasi, jujur dan apa adanya.
Bak pisau bermata dua, siaran langsung di media sosial memang berpotensi memicu huru-hara. Namun, di saat yang sama, ia juga mencerminkan kesadaran baru warga. Bahwa demokrasi tak lagi hanya hidup di ruang sidang parlemen atau halaman kantor pemerintahan, tetapi juga di genggaman ponsel.
Di tengah gas air mata, kamera ponsel terus menyala. Setiap sorotannya menjadi pengingat bahwa demokrasi bukan milik segelintir orang, melainkan suara kolektif yang tak bisa dibungkam.
Penulis:
Fajar RamadhanEditor:
Irene SarwindaningrumPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan