Atmosfer angker saja tidak cukup bagi Liverpool untuk membalikkan keadaan lawan PSG. Mereka harus tampil efisien dan intens, dua hal yang jarang terlihat musim ini.
13 Apr 2026 16:25 WIB · Olahraga
AFP
LIVERPOOL, SENIN — Kesakralan markas Liverpool, Stadion Anfield, tidak perlu dipertanyakan lagi. Namun, bagi Liverpool, itu saja tidak akan cukup untuk membalikkan keadaan versus Paris Saint-Germain. Lawan mereka adalah tim juara bertahan yang punya komposisi skuad terbaik di Eropa saat ini.
”Si Merah” akan menjamu PSG dalam laga kedua perempat final Liga Champions di Stadion Anfield, Liverpool, Inggris, Rabu (15/4/2026) pukul 02.00 WIB. Virgil van Dijk dan rekan-rekan membutuhkan kemenangan lebih dari dua gol untuk membalikkan ketinggalan agregat 0-2 dari PSG.
Sejarah berbicara, Stadion Anfield berkali-kali membawa tuah bagi Liverpool di turnamen Eropa. Salah satu momen paling berkesan adalah kemenangan 4-0 atas Barcelona pada 2019 untuk memutar agregat 0-3. Barca saat itu masih dipimpin pemain terhebat dalam sejarah umat manusia, yaitu Lionel Messi.
Kebangkitan serupa kembali diharapkan Kopites, sebutan para penggemar Liverpool, di Anfield nanti. Semua hal terasa bisa terjadi, apalagi dengan slogan klub ”You’ll Never Walk Alone” yang sangat inspiratif. Namun, seperti kata Van Dijk, itu akan bergantung pada kesiapan para pemain Liverpool.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/09/24559a318a83c38c7d1972563124ca53-wires_photo_14_.jpg)
”Kami berada di kandang dan kami harus menunjukkan keyakinan sejak awal sampai akhir. Dibutuhkan performa spesial, untungnya saya cukup beruntung pernah jadi bagian momen-momen spesial di sini. Tetapi, kami membutuhkan semua pemain untuk punya pola pikir yang sama,” ujar Van Dijk.
Bukan tanpa alasan, Van Dijk terdengar kurang yakin dengan rekan-rekannya. Penampilan tim asuhan Pelatih Arne Slot itu terasa bagaikan mainan blind box sejak awal musim. Saking inkonsisten, tidak ada yang tahu sisi Liverpool mana yang akan muncul. Sisi lemah Si Merah lebih sering keluar.
Di kandang PSG, Stadion Parc des Princes, pada laga pertama pekan lalu contohnya. Liverpool sangat beruntung bisa pulang hanya dengan ketinggalan dua gol. Jika PSG punya keberuntungan sedikit lebih banyak dan lebih klinis lagi, asa Liverpool untuk lolos ke semifinal mungkin sudah tertutup di Paris.
Dominasi PSG bisa terlihat, baik di lapangan maupun statistik. Tim asuhan Pelatih Luis Enrique terus menekan sepanjang laga dan mampu unggul dalam berbagai aspek, mulai dari penguasaan bola mencapai 74 persen hingga jumlah tembakan 18-3. Liverpool pulang tanpa tembakan tepat sasaran.
Bukan hanya Liverpool yang buruk di laga pertama, PSG juga sedang berapi-api. Khvicha Kvaratskhelia dan kawan-kawan baru saja menemukan ritme terbaik setelah fase gugur dimulai. Terbukti, mereka mampu menggasak Chelsea dengan agregat 8-2 di putaran sebelumnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/f3c9f76f0790d13e2cd7e3a5dfa715ee-wires_photo_17_.jpg)
Lagi pula, PSG tidak takut dengan atmosfer angker stadion lawan. ”Si Biru” sudah berhasil menjinakkan keangkeran itu pada babak 16 besar musim lalu saat membalikkan ketinggalan agregat 0-1 dan menang adu penalti di Anfield. Untuk konteks, Liverpool sedang berada dalam bentuk terbaik ketika itu.
Enrique tetap merendah walaupun unggul dari segala sisi. Sikap itu membuat Liverpool harus semakin waspada. Itu menandakan PSG tidak akan lengah dan terbuai dengan keunggulan dua gol. ”Akan sangat sulit bermain di Anfield. Kami akan menderita, kami tahu, tetapi mentalitas kami selalu sama di stadion mana pun,” katanya.
Sayap PSG, Kvaratskhelia, akan kembali menjadi ujian terbesar bagi Liverpool. Pemain yang pernah disandingkan dengan sosok legenda Diego Maradona itu sukses mengacak-acak sisi kanan lawan pada pertemuan pertama. Adapun posisi bek sayap kanan merupakan titik terlemah dari skuad Liverpool.
Liverpool bisa sedikit lega jelang kedatangan PSG. Setelah kalah tiga kali berturut-turut di seluruh kompetisi, mereka berhasil menang atas Fulham, 2-0, di liga pada akhir pekan lalu. Salah satu gol itu diciptakan oleh penyerang sayap veteran Mohamed Salah lewat tembakan keras dari sisi kanan.
Performa Salah jelas jauh menurun dibandingkan musim lalu. Dia baru menghasilkan 11 gol dan 8 asis di seluruh kompetisi musim ini. Itu terlihat jelas, seperti di laga penting, perempat final Piala FA versus Manchester City, saat dirinya melewatkan begitu banyak peluang besar, termasuk penalti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/13/02392919a7c55d2b7ca9949140a5fde2-Britain_Premier_League_Soccer_1_.jpeg)
Meskipun begitu, Salah membuktikan, Liverpool merupakan tim yang lebih berbahaya ketika terdapat ”Si Raja Mesir” di lini serang. Fakta itu yang perlu dipertimbangkan oleh Slot untuk laga selanjutnya. Adapun Salah hanya duduk manis di bangku cadangan saat mereka bertandang ke Paris.
Rio Ngumoha, pemain sayap 17 tahun, juga bisa menjadi opsi. Dia baru saja tampil cemerlang ketika menghadapi Fulham, termasuk mencetak gol pembuka Liverpool. ”Saya pikir dia sudah siap. Sekarang pertanyaannya, bisakah dia mengulangi performa itu dua hari kemudian,” ucap Slot. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar