Mendominasi sejak Dulu, Mengapa Baru Sekarang China Batasi Ekspor Logam Tanah Jarang?

China jadi pemasok utama logam tanah jarang dunia. Pengembangan kapasitas domestik untuk memutus ketergantungan pada impor membuat China berani batasi ekspor.

13 Okt 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Negosiasi untuk meredakan perang dagang antara Amerika Serikat dan China di ujung tanduk. Keputusan Beijing untuk semakin membatasi ekspor logam tanah jarang membuat Presiden AS Donald Trump gusar. Mengapa China sampai begitu berani?

Pertengkaran AS-China terkait logam tanah jarang (LTJ) memasuki babak baru. Kementerian Perdagangan China, Minggu (12/10/2025), menanggapi kemarahan Trump beberapa hari lalu. Beijing memakai istilah pengendalian ekspor, bukan pembatasan ekspor LTJ.

Kemendag China menyebutkan, pengendalian itu menanggapi serangkaian tindakan negatif AS ke China. Beberapa di antaranya, AS memasukkan sejumlah perusahaan China ke dalam daftar hitam perdagangan. AS juga mengenakan biaya pelabuhan terhadap kapal-kapal yang terkait dengan China.

”Tindakan AS telah sangat merugikan kepentingan China serta merusak atmosfer perundingan ekonomi dan perdagangan bilateral, dan China dengan tegas menentangnya,” kata Kemendag China.

Beijing tidak secara eksplisit menghubungkan tindakan AS tersebut dengan pembatasan ekspor LTJ. Kemendag China menyebutkan, langkah tersebut berkaitan dengan kekhawatiran atas penggunaan militer dari material-material tersebut di tengah ”seringnya konflik militer”.

Kemendag China membantah narasi Trump bahwa kebijakan soal LTJ untuk menyerang semua negara, bukan hanya AS. ”Kontrol ekspor China bukanlah larangan ekspor. Setiap pendaftaran izin ekspor untuk penggunaan sipil yang mematuhi peraturan akan disetujui dan perusahaan terkait tidak perlu khawatir,” demikian Kemendag China.

Potensi logam tanah jarang dunia pada 2022

Selepas China memperluas pembatasan ekspor LTJ, Trump tantrum. Ia mengancam akan menambah 100 persen tarif bea masuk impor kepada semua barang China ke AS. Ia juga menyiratkan pembatalan rencana pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan, akhir bulan Oktober ini.

Pada April 2025, selepas Trump mengumumkan tarif BMI ke sejumlah negara, China mengumumkan pengetatan izin ekspor LTJ. Pengetatan berlaku pada samarium, gadolinium, terbium, disprosium, lutetium, skandium, dan itrium. Lalu, pada 9 Oktober 2025, China menambah holmium, erbium, tulium, europium, dan iterbium dalam daftar pengetatan ekspor.

Seluruh material terkait LTJ itu juga terkena pembatasan ekspor. Setiap ekspor yang dilakukan oleh siapa pun dan ditujukan ke mana pun harus dapat izin dari pemerintah.

Beijing menyebutkan, semua ekspor yang dipastikan hanya untuk kepentingan sipil akan diizinkan. Sementara semua ekspor yang dapat terindikasi untuk kepentingan militer tidak akan diizinkan.

Hal itu berarti, produksi aneka persenjataan canggih di Barat akan lumpuh. Komponen F-35 hingga rudal Tomahawk buatan AS membutuhkan LTJ, makanya Trump tantrum.

AS tak berdaya pada pembatasan itu. Sebab, meski diprediksi punya cadangan, AS belum mampu memproduksi sendiri berbagai LTJ. ”Kalau bisa ditambang di California, harus dikirim ke China untuk pemurnian,” kata Direktur Kajian Mineral Penting pada CSIS AS Gracelin Baskaran.

Menurut Badan Energi Internasional (IEA), hingga 61 persen LTJ ditambang oleh China. Beijing juga mengendalikan 92 persen pasokan global untuk LTJ siap pakai.

Dalam skenario paling optimistis, AS baru bisa memenuhi sebagian kebutuhan LTJ untuk industri pertahanan pada 2027. Sekarang, AS sama sekali tak punya fasilitas pengolahan untuk mineral mentah yang berpotensi mengandung LTJ.

Akhir 2025 ini, AS diproyeksi bisa memproduksi hingga 1.000 ton magnet NdFeB. Sebagai pembanding, China bisa memproduksi 300.000 ton logam itu pada 2024. Kapasitas produksi China terus bertambah dari tahun ke tahun.

Pekerja menggunakan mesin untuk menggali di tambang logam tanah jarang atau LTJ (rare earth elements) di daerah Ganxian, Provinsi Jiangxi, China, pada tanggal 30 Desember 2010.

Ada dua jenis LTJ berdasarkan berat atom: berat dan ringan. LTJ berat lebih langka. AS tidak memiliki kemampuan untuk memisahkan LTJ setelah proses ekstraksi. Aturan baru China tentu akan memberatkan AS.

Kontrol ekspor itu dapat berdampak besar. AS sangat bergantung pada China untuk pasokan LTJ. Menurut laporan Survei Geologi AS, 70 persen impor LTJ berasal dari China selama tahun 2020-2023.

Bagi militer AS, LTJ sangat penting. Menurut catatan CSIS pada 2025, AS memakai LTJ dalam jet tempur F-35, kapal selam, laser, satelit, rudal Tomahawk, dan banyak lagi.

Peluang negosiasi

LTJ kini menjadi salah satu alat untuk menaikkan daya tawar China dalam negosiasi dengan AS. Melihat respons terbarunya, Beijing tidak segera menanggapi serangan balasan tarif baru Trump. Ada peluang bagi kedua negara untuk bernegosiasi demi deeskalasi.

”Dengan mengklarifikasi alasan di balik tindakan pembalasannya, Beijing juga menguraikan potensi jalur negosiasi ke depan. Bola sekarang berada di tangan AS,” kata Alfredo Montufar-Helu, Direktur Pelaksana di GreenPoint.

Namun, Hutong Research memperingatkan, bisa saja langkah Beijing tidak menanggapi tarif 100 persen Trump. Sebab, Beijing tidak lagi memprioritaskan kesepakatan jangka panjang dengan Washington. Artinya, Beijing tidak lagi percaya pada kemampuan Trump untuk menahan diri dari sikap agresif atau menepati komitmen.

”Poin-poin penting saat ini: apakah Beijing akan membekukan atau mempersulit penjualan Tiktok mengingat simbolisme politiknya. Apakah akan melanjutkan penjualan dalam kondisi saat ini akan dipandang sebagai konsesi besar dari Beijing,” kata perusahaan riset tersebut, Sabtu.

Surat kabar  lokal yang dijajakan di sebuah kios di Beijing, China, Senin (3/12/2018), menampilkan berita utama tentang pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping. Judul berita utamanya adalah ”Kedua Pemimpin Sepakat Tidak Meningkatkan Tarif”.

Isu lain yang menjadi alat negosiasi China adalah regulasinya yang menyasar perusahaan-perusahaan AS. Bulan lalu, Badan Regulasi Pasar Negara China (SAMR) membahas pelanggaran undang-undang antimonopoli China oleh produsen cip, Nvidia, selama perundingan dagang AS-China di Madrid, Spanyol. SAMR sedang menyelidiki Qualcomm.

Tidak kalah penting, China terus mengurangi ketergantungan pada AS. Pernah ada periode China mendapat 95 persen kebutuhan heliumnya dari AS. Kini, AS cuma memasok lima persen kebutuhan helium China. Sisanya didapat China dari Qatar dan Rusia.

China juga berusaha memproduksi sendiri helium. Bukan cuma di daratannya, China berusaha menambang helium di bulan.

Helium memang bukan cuma untuk balon. Gas itu dipakai dalam aneka industri teknologi tinggi, termasuk semikonduktor dan komputasi kuantum.

Kemandirian China juga ditunjukkan pada industri semikonduktor hingga perangkat lunak komputer. Pembatasan ekspor semikonduktor oleh AS ke China malah memacu industri semikonduktor China. Secara mengejutkan, China bisa memproduksi semikonduktor hingga 10 tahun lebih cepat dari proyeksi berbagai pihak.

AS kini jauh tertinggal dari China soal produksi semikonduktor. AS masih mengendalikan sebagian teknologi dalam proses produksi dan pengujian semikonduktor.

(AP/AFP/Reuters)

Kompas Professional Mining

Laporan mendalam dan analisis tren industri untuk mendukung para profesional pertambangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase