Arsenal harus segera mencari solusi di kotak penalti lawan jika ingin lepas dari kutukan Natal. Kutukan itu terasa nyata dengan tren ”Si Meriam” belakangan ini.
27 Des 2025 06:43 WIB · Olahraga
AP
Alih-alih hadiah, posisi puncak klasemen Liga Inggris di hari Natal lebih identik dengan kutukan bagi Arsenal. ”Si Meriam” sudah begitu sering berada di peringkat teratas saat hari raya itu tiba, tetapi mereka selalu gagal juara pada akhir musim. Ketakutan serupa kembali menghantui musim ini.
Natal tahun ini terasa begitu spesial bagi tim asuhan Manajer Mikel Arteta. Mereka menjalani separuh musim yang nyaris sempurna. Arsenal saat ini memuncaki klasemen Liga Inggris dan babak grup Liga Champions, serta baru saja lolos ke semifinal Piala Liga Inggris.
”Luar biasa kami ada di posisi ini,” kata Arteta yang enggan membahas lebih lanjut ketika ditanya soal laju performa dan mentalitas juara tim pada paruh pertama musim, Jumat (26/12/2025). ”Selamat Natal untuk semuanya. Terima kasih banyak,” tutup manajer asal Spanyol tersebut.
Jika mengambil sudut pandang Arteta, memang tidak mudah menilai arah angin Arsenal saat ini, khususnya ketika fokus ke liga domestik. Martin Odegaard dan rekan-rekan masih unggul dua poin atas pesaing terdekat, Manchester City, tetapi mulai kehilangan momentum dalam sebulan terakhir.
Bulan lalu, setelah kemenangan derbi atas Tottenham Hotspur, Arsenal masih unggul tujuh poin atas City. Tiga laga tanpa kemenangan dari empat laga tandang terakhir mengusik tren positif mereka. Saat bersamaan, City sedang tak terhentikan dalam laju lima kemenangan beruntun.
Akan lebih baik jika kami bisa mencetak lebih banyak gol. Dengan itu, kami bisa lebih mengendalikan permainan. Unggul satu gol membuat situasi lebih menegangkan di akhir laga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/21/08f38978f7440aa5f7b98a57baa49ac9-AFP_88QZ9RK.jpg)
Kutukan Natal terlihat semakin mendekati Arsenal. Sepanjang sejarah Liga Primer, Arsenal sudah empat kali memuncaki klasemen saat Natal. Namun, mereka tidak pernah meraih juara sekali pun. Dua kali di antaranya terjadi dalam masa kepemimpinan Arteta, musim 2022-2023 dan 2023-2024.
Menariknya, di dua musim itu, Arsenal finis di peringkat kedua dan kalah dari City. Kutukan berpotensi terulang, terutama jika Arsenal tidak mampu melepas tren sebulan terakhir. Mereka harus segera bangkit saat menjamu Brighton and Hove Albion di Stadion Emirates, London, Sabtu (27/12/2025) pukul 22.00.
Problem utama Arsenal saat ini tecermin dalam tiga laga terakhir di seluruh kompetisi. Mereka bisa menghasilkan empat gol dari tiga pertandingan itu, tetapi semua berbau keberuntungan. Tiga gol berasal dari bunuh diri pemain lawan dan satu gol dari tendangan penalti.
Beruntung, Arsenal masih mampu memenangi tiga laga itu dengan margin sangat tipis. ”Akan lebih baik jika kami bisa mencetak lebih banyak gol. Dengan itu, kami bisa lebih mengendalikan permainan. Unggul satu gol membuat situasi lebih menegangkan di akhir laga,” jelas penyerang Arsenal, Viktor Gyokeres.
Arsenal sama sekali tidak kekurangan striker. Ujung tombak baru mereka, Gyokeres, tampil dua kali sebagai starter dalam tiga laga itu. Penyerang veteran Gabriel Jesus juga sudah kembali dari cedera dan langsung kembali ke daftar starter dalam laga Piala Liga versus Crystal Palace.
Walaupun kekurangan gol, bukan penyerang tajam yang dirindukan Arsenal. Mereka sangat kehilangan sosok bek tengah tangguh Gabriel Magalhaes. Pemain asal Brasil itu merupakan target utama Si Meriam dalam eksekusi bola mati. Seperti diketahui, mereka sangat bergantung terhadap bola mati.
Gabriel mengalami cedera otot paha pada jeda internasional bulan lalu. Sebelum itu, Arsenal sudah menghasilkan 10 gol dari bola mati di liga, tidak termasuk penalti. Sebulan setelah itu, jumlah gol bola mati mereka masih sama. Data itu bisa memperlihatkan betapa besar peran Gabriel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/22/bba6ea6b-13bc-405d-8ad2-13d0ce5ee2da_jpg.jpg)
Gabriel memang baru menyumbang satu gol dan dua asis di liga. Namun, perannya tidak hanya sebatas untuk menjadi eksekutor utama di kotak penalti. Presensinya sering dijadikan pancingan untuk mengelabui sistem pertahanan lawan. Dia bisa menarik gravitasi di kotak penalti lawan.
Ketergantungan Arsenal terhadap bola mati masih sangat terasa. Bedanya, tidak ada sosok yang bisa menjadi pembeda. Lihat saja tiga dari empat gol terakhir mereka. Setiap gol ke gawang Everton, Palace, dan Wolves bermula dari tendangan sudut yang gagal diantisipasi oleh pemain lawan.
Harapannya, problem itu bisa segera teratasi. Gabriel sudah sangat dekat untuk kembali merumput meskipun kemungkinan masih versus Brighton. ”Kami masih harus menunggu dan melihat lagi. Dia belum berlatih, masih melakukan rehabilitasi. Semoga dia bisa tersedia secepatnya,” kata Arteta.
Selain Gabriel, suntikan juga datang dari kembalinya sang penyerang andalan Kai Havertz. Setelah cedera nyaris pada separuh awal musim, Havertz sudah berlatih bersama rekan-rekannya dalam sepekan terakhir. Adapun Havertz merupakan pemain tersubur Arsenal di seluruh kompetisi pada musim lalu (15 gol).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/10/b5e7cad5-0d1d-429f-8671-f41f432be89c_jpg.jpg)
Lewat presensi Havertz, Arsenal bisa berharap mencetak lebih banyak gol dari permainan terbuka. ”Mari kita lihat langkah selanjutnya bagaimana responsnya. Dia adalah pemain yang sangat kami rindukan, pemain yang membawa tim ke dimensi yang berbeda,” ujar Arteta.
Pada akhirnya, eksekusi di kotak penalti lawan akan menjadi faktor paling penting bagi Arsenal dalam perebutan titel juara. Benteng pertahanan mereka yang mencatat rekor kemasukan paling sedikit di Liga Inggris dan Liga Champions tak perlu diragukan lagi. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan