NILAI TUKAR RUPIAH

Lonjakan Harga Minyak Tekan Rupiah ke Level Rp 17.000

Nilai tukar rupiah semakin terdepresiasi seiring menguatnya kurs dolar AS. Penguatan ini terjadi akibat lonjakan harga minyak dunia hingga 114 dolar AS per barel.

09 Mar 2026 11:34 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah dalam perdagangan spot pada Senin (9/3/2026) menembus level Rp 17.000 per dolar AS. Tekanan terhadap nilai tukar ini, antara lain, disebabkan oleh lonjakan harga minyak dunia.

Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah pada hari ini dibuka di level Rp 17.017 per dolar AS atau melemah 0,54 persen dibandingkan penutupan pasar sebelumnya. Secara tahun kalender berjalan, rupiah tercatat terdepresiasi sebesar 2,03 persen.

Pelemahan rupiah ini terjadi seiring dengan menguatnya dolar AS. Indeks dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) telah menembus level 99,56 atau menguat 0,57 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Penguatan kurs dolar AS tersebut didorong oleh lonjakan harga minyak dunia. Dalam hal ini, kurs dolar AS dipandang sebagai kelas aset aman (safe haven) sekaligus mata uang negara pengekspor minyak.

Infografik-Tren IHSG dan Kurs Rupiah terhadap Dolar AS Februari-Maret 2026

Adapun harga minyak mentah Brent saat ini telah menembus 114 dolar AS per barel. Angka ini meningkat 23,98 persen dibandingkan penutupan sebelumnya, sedangkan secara tahun kalender berjalan kenaikannya mencapai 88,61 persen.

”Minyak tetap menjadi saluran transmisi ke dalam ekspektasi inflasi, suku bunga, dan pasar mata uang,” kata Head of Markets Macro Strategy BNY Bob Savage, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Selain itu, penguatan dolar AS saat ini mengingatkan pada krisis energi yang pernah terjadi pada 2022. Adapun sepekan ke depan akan menjadi ujian bagi pasar dalam melihat konflik di Timur Tengah sebagai guncangan yang terbatas atau memperhitungkan gangguan pasokan yang lebih berkepanjangan.

Quote

Investor semakin mengevaluasi kembali ekspektasi terhadap pelonggaran moneter, termasuk bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Kini, pasar memperhitungkan pemotongan suku bunga pada Juli dan Oktober 2026.

Lebih lanjut, para analis memperkirakan, kawasan Asia berisiko akan menanggung dampak terberat dari guncangan harga energi lantaran tingkat ketergantungannya pada pasokan minyak dan gas dari Timur Tengah. Akibatnya, inflasi meningkat seiring konflik yang berkepanjangan dan tekanan nilai tukar.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menyebut, kenaikan harga energi dikhawatirkan dapat memicu inflasi global. Selain itu, investor pun mulai menghindari aset-aset berisiko (risk-off) di pasar keuangan.

”Investor semakin mengevaluasi kembali ekspektasi terhadap pelonggaran moneter, termasuk bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed). Kini, pasar memperhitungkan pemotongan suku bunga pada Juli dan Oktober 2026,” ujarnya.

Karyawan menyiapkan uang rupiah di tempat penukaran valuta asing Dolarindo di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2026). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kemarin, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS adalah Rp 16.826 per dollar AS. Melemah 45 poin dibandingkan sehari sebelumnya.

Berbagai pertimbangan tersebut berdampak terhadap pergerakan nilai tukar rupiah. Ia memperkirakan, rupiah pada hari ini cenderung akan bergerak dalam rentang Rp 16.887-Rp 17.045 per dolar AS.

Sementara itu, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi berpendapat, tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, terpilihnya pemimpin tertinggi baru Iran mengindikasikan ketegangan masih akan terus berlangsung, setidaknya sampai enam bulan ke depan.

Sementara itu, dari sisi domestik, muncul kekhawatiran terhadap pelebaran defisit fiskal akibat harga minyak yang melonjak. Jika tidak diantisipasi, lonjakan harga minyak ke level 114 dolar AS per barel berisiko memperlebar defisit fiskal mencapai 3,6 persen.

”Karut-marut inilah yang membuat rupiah pada saat pembukaan pasar terjadi gap up cukup tajam,” katanya.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Kementerian Keuangan mencatat hingga akhir Desember 2025, defisit APBN 2025 mencapai Rp 695,1 triliun atau 2,92 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Angka tersebut melampaui proyeksi defisit 2,78 persen.  *** Local Caption ***

Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

FX Laksana Agung Saputra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti