Otoritas pengendalian penyakit China mengumumkan mereka tengah menguji coba sistem pemantauan untuk pneumonia yang tidak diketahui asalnya.
30 Des 2024 13:51 WIB · Nasional
JAKARTA, KOMPAS — China dilaporkan mengalami lonjakan penularan infeksi saluran pernapasan. Influenza, rhinovirus, human metapneumovirus, dan pneumonia mikoplasma menjadi jenis infeksi saluran pernapasan yang paling umum di antara kunjungan rumah sakit.
Untuk itu, kantor berita Reuters pada Jumat (27/12/2024) melaporkan, otoritas pengendalian penyakit China mengumumkan mereka tengah menguji coba sistem pemantauan untuk pneumonia yang tak diketahui asalnya, dengan kasus sejumlah penyakit pernapasan diperkirakan meningkat selama musim dingin.
Data untuk penyakit infeksi saluran pernapasan akut di China dilaporkan menunjukkan tren peningkatan secara keseluruhan pada 16 hingga 22 Desember 2024.
Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Nasional China (Chinese Center for Disease Control and Prevention/CDC China) telah menetapkan prosedur bagi laboratorium untuk melaporkan dan bagi badan pengendalian dan pencegahan penyakit untuk memverifikasi dan menangani kasus penyakit infeksi pernapasan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/11/27/653766fe-80a0-418a-9334-8c9ea36b22b3_jpg.jpg)
Upaya tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan penyakit pernafasan secara tidak terkendali, sebagaimana terjadi saat penularan Covid-19 empat tahun lalu.
Kan Biao, Kepala Institut Nasional Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular CDC China, dalam konferensi pers, menyatakan, infeksi flu influenza, rhinovirus, human metapneumovirus, dan pneumonia mikoplasma sekarang menjadi yang paling umum di antara kunjungan rumah sakit.
Menurut Kan Biao, penyebaran patogen pernapasan musim dingin di China kali ini tidak terlalu intens dibandingkan dengan musim lalu, tetapi berbagai penyakit menular diperkirakan akan terus beredar secara bersamaan hingga musim semi mendatang.
Kasus-kasus yang baru-baru ini terdeteksi mencakup patogen, seperti rhinovirus dan human metapneumovirus. Kasus human metapneumovirus di antara orang-orang di bawah usia 14 tahun ini menunjukkan tren peningkatan, terutama di provinsi-provinsi utara di China.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/04/89307590-b0c7-4f53-a91f-6eff2d284783_jpg.jpg)
Tingkat positif infeksi flu diperkirakan akan terus meningkat. Sementara tingkat infeksi rhinovirus dan kasus infeksi pneumonia mikoplasma yang biasanya menyerang anak-anak berusia 5 hingga 14 tahun keduanya mengalami tren penurunan.
Namun, tingkat positif virus sintaksis pernapasan di antara anak-anak berusia lima tahun ke bawah meningkat, demikian pula tingkat human metapneumovirus di antara anak-anak berusia 14 tahun ke bawah.
Kan menambahkan, penyebaran Covid-19 dan penyakit pernapasan lainnya sekarang berada pada tingkat rendah. Mengenai penularan norovirus, yaitu infeksi perut yang bisa menyebabkan muntah dan diare, kluster infeksi telah meningkat sejak September lalu. Penyebaran penyakit ini sedang mencapai puncaknya dan diperkirakan tetap tinggi selama dua bulan ke depan.
Tjandra Yoga Aditama, ahli kesehatan masyarakat yang juga Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, di Jakarta, Senin (30/12/2024), mengutarakan, surveilans dan deteksi dini merupakan kunci utama pengendalian penyakit menular.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2020/03/07/20200307_ADI_Perbedaan-Virus-Covid_mumed_1583582151.png)
”Berita yang menyebut otoritas pengendalian penyakit China mengumumkan tengah menguji coba sistem pemantauan khusus pneumonia yang belum diketahui penyebabnya merupakan langkah amat baik. Ini perlu juga dipertimbangkan di negara kita untuk infeksi pernapasan sampai pneumonia ataupun penyakit menular lainnya,” ungkapnya.
Menurut Tjandra, China dan sekitarnya selalu mengalami peningkatan kasus influenza like illness pada akhir tahun dan musim dingin seperti saat ini. Oleh karena itu, mereka meningkatkan upaya penanggulangannya.
Berita yang menyebut otoritas pengendalian penyakit China mengumumkan tengah menguji coba sistem pemantauan khusus pneumonia yang belum diketahui penyebabnya merupakan langkah amat baik.
”Di Indonesia beberapa hari lalu juga diberitakan peningkatan kasus Dengue. Seharusnya sejak sekarang sudah kita lihat peningkatan upaya penanggulangannya, tentu selain peningkatan kasus pernapasan dan demam yang lain,” ujarnya.
Tjandra menambahkan, inluenza A yang banyak dibicarakan di China dan atau influenza B selalu mengalami fluktuasi peningkatan dari waktu ke waktu di berbagai belahan dunia. Karena itulah, WHO selalu mengompilasi data ini dan diumumkan agar negara-negara dapat mengambil langkah yang diperlukan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/05/1a3b09ae-25a5-4874-a5e9-6b694924bf97_jpeg.jpg)
Sementara HMPV (human meta pneumo virus) yang kini juga diberitakan banyak terjadi di China bukan penyakit baru. Jurnal ilmiah CDC China di 2024 sudah menerbitkan publikasi berjudul ”Vital Surveillances: Seasonal and Genetic Characteristics of Human Metapneumovirus Circulating-Henan Province, China, 2017-2023”.
Paparan ilmiah tersebut membahas tuntas mengenai pola epidemiologik dan karakteristik genetikanya sehingga bisa jadi panduan Pemerintah China untuk program pengendalian dan bahkan proses vaksinasinya kelak.
”Akan baik kalau pola epidemiologik dan genetik berbagai penyakit menular kita juga dipublikasikan dalam jurnal ilmiah resmi seperti ini, untuk jadi panduan,” kata Tjandra.
Belajar dari China, Indonesia perlu menjaga dan meningkatkan pengendalian penyakit menular dari tingkat dasar, yaitu pemahaman dan pola hidup masyarakat, vaksinasi, surveilans dan deteksi dini, hingga penangannan kasus dan kontaknya. ”Perlu diingatkan tentang promotif preventif. Jadi, jangan hanya bertumpu pada penanganan kasus yang sudah sakit,” tuturnya.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
Evy RachmawatiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .