LRT Jakarta ataupun LRT Jabodebek sama-sama kereta ringan. Namun, ada perbedaan besar di antara keduanya di bidang teknologi, sistem, operasional, dan pengelolaan.
25 Feb 2025 10:24 WIB · Metro
Jakarta dan sekitarnya mempunyai dua light rapid transit/LRT atau kereta ringan, yaitu LRT Jakarta dan LRT Jabodebek. Keduanya serupa, tetapi memiliki karakter yang berbeda.
LRT Jakarta dimiliki Pemprov DKI Jakarta. Pengelolaannya oleh PT LRT Jakarta, anak usaha PT Jakarta Propertindo (Perseroda). Rute layanannya hanya di dalam wilayah Jakarta.
LRT Jabodebek berada di bawah naungan pemerintah pusat. Operatornya PT Kereta Api Indonesia (Persero) Divisi LRT Jabodebek. Moda ini diproyeksikan untuk beroperasi menghubungkan Jakarta dengan Depok, Bogor, dan Bekasi.
Pemprov DKI Jakarta membangun LRT medio Juni 2016. Keretanya buatan Hyundai Rotem dari Korea Selatan yang diklaim unggul dengan sistem articulated bogie. Sistem tersebut memungkinkan kereta melaju dengan aman dan luwes mengikuti kontur jalur lintasan pada tikungan tajam.
Dua tahun kemudian, tepatnya Agustus 2018, LRT Jakarta memulai pengoperasian untuk uji terbatas. Kereta dioperasikan dengan kecepatan rata-rata 50 kilometer per jam dan dapat mencapai kecepatan maksimal hingga 90 kilometer per jam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/01/02b0de82-2c8c-4746-b706-6bacc777b5f8_jpg.jpg)
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/25/b857d93d-1a91-43af-8e2f-653e902e9f32_jpg.jpg)
Barulah pada Desember 2019, Fase 1A Velodrome ke Pegangsaan Dua sepanjang 5,8 kilometer beroperasi secara komersial. Rute ini terdiri atas enam stasiun, yakni Pegangsaan Dua, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian, dan Velodrome.
Saat ini, jam operasionalnya pukul 05.30 WIB sampai pukul 23.00 WIB dengan tarif Rp 5.000 untuk sekali perjalanan. Adapun waktu tunggu mencapai 10 menit.
Operasional tersebut dilayani delapan rangkaian kereta. Sebanyak enam rangkaian beroperasi setiap hari dan dua rangkaian sebagai cadangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/11/22/29a92535-c378-440c-988a-4e3bd4286d62_jpg.jpg)
Direktur Utama PT LRT Jakarta Hendri Saputra menyebut, manajemen sudah melakukan beberapa usaha agar warga mengakses LRT Jakarta. Selain integrasi antarmoda dengan Transjakarta dan mikrotrans, tersedia kantong parkir untuk memudahkan pengguna dan berbagai acara sebagai daya tarik sekaligus sumber pendapatan nontiket (non-farebox).
Usaha-usaha tersebut merujuk laporan tahunan 2023 antara lain berbuah 1,03 juta pengguna dengan rata-rata 2.842 pengguna harian dan ketepatan waktu tempuh hingga 99,86 persen.
Dinas Perhubungan DKI Jakarta lantas menargetkan 3.075 pengguna setiap hari. Jumlah ini terlampaui pada tahun 2024 dengan kisaran 3.300-3.400 pengguna setiap hari. Hal ini tak lepas dari sokongan integrasi antarmoda, seperti Transjakarta dari Stasiun LRT Pegangsaan Dua ke JIS, Koridor 4 Pulogadung ke Galunggung yang terhubung di Stasiun LRT Velodrome, dan mikrotrans.
Selain itu, pembangunan Fase 1B Velodrome ke Manggarai sepanjang 6,4 kilometer tengah berlangsung. Proyek yang bergulir sejak Oktober 2023 ini terdiri atas lima stasiun, yaitu Pemuda Barat, Pramuka BPKP, Pasar Pramuka, Matraman, dan Manggarai.
Fase 1B digadang akan menarik 50.000-70.000 pengguna setiap hari. Itu berdasarkan hasil studi kelayakannya atau feasibility study (FS).
Hingga awal tahun 2025 ini Jakarta Propertindo (Jakpro), BUMD milik Pemprov Jakarta, mencatat progres keseluruhan pembangunan telah mencapai 47,13 persen. Progres terdiri dari pekerjaan struktur jalur layang dengan fokus pada fondasi, konstruksi tiang jembatan, dan pemasangan balok jembatan.
”Fokus utama kami adalah konstruksi struktur jalur jembatan, mulai dari pekerjaan fondasi hingga pemasangan balok jembatan. Baru-baru ini, kami telah menyelesaikan pengeboran fondasi di area Manggarai serta pemasangan steel box girder di Rawamangun,” kata Direktur Proyek LRT Jakarta Fase 1B Ramdani Akbar.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/24/ab54ef3d-fbf3-3515-967c-9c4429e790c1_jpg.jpg)
Warga Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi mendapatkan kado kereta ringan pada HUT Ke-78 RI. LRT Jabodebek ini diresmikan pada akhir Agustus.
LRT Jabodebek merupakan penugasan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dijalankan Kementerian Perhubungan yang didukung Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian BUMN, Kementerian PUPR, Kementerian Keuangan, kementerian/lembaga terkait lainnya, serta pemerintah daerah dan semua elemen masyarakat sesuai Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2017 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Presiden Nomor 98 Tahun 2015 tentang Percepatan Penyelenggaraan Kereta Api Ringan/Light Rail Transit Terintegrasi di Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi.
Sarana dan prasarana proyek ini dikerjakan PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT INKA (Persero), PT Adhi Karya (Persero) Tbk, PT Len Industri (Persero), dan Siemens dari Inggris.
Keretanya beroperasi tanpa masinis karena mengadopsi sistem kontrol berbasis komunikasi (communication based train control/CBTC) dengan grade of automation (GoA) 3.
CBTC bekerja menggunakan sinyal komunikasi radio antara perangkat di sepanjang jalur rel dan rangkaian kereta sehingga posisi setiap rangkaian dapat diketahui secara akurat oleh pusat kendali atau operation control center (OCC).
Secara keseluruhan pelayanannya meliputi tiga lintas, yakni lintas pelayanan 1 Cibubur-Cawang, lintas pelayanan 2 Cawang-Dukuh Atas, dan lintas pelayanan 3 Cawang-Jatimulya.
Lintas pelayanan ini terdiri atas 18 stasiun, yaitu Dukuh Atas, Setiabudi, Rasuna Said, Kuningan, Pancoran, Cikoko, Ciliwung, Cawang, TMII, Kampung Rambutan, Ciracas, Harjamukti, Halim, Jatibening Baru, Cikunir I, Cikunir II, Bekasi Barat, dan Jatimulya.
Waktu operasionalnya terdiri atas Jatimulya ke Dukuh Atas mulai pukul 05.25 WIB hingga 22.13 WIB. Sementara dari Harjamukti ke Dukuh Atas dari pukul 05.35 WIB sampai pukul 21.46 WIB.
Operasional tersebut dari stasiun ujung ke ujung. Tarif maksimalnya Rp 20.000 saat jam sibuk dan Rp 10.000 di luar jam sibuk.
Selain itu, setiap hari ada 20 rangkaian kereta untuk 348 perjalanan dari Dukuh Atas ke Harjamukti dan Dukuh Atas ke Jatimulya. Manajemen menyebut total pengguna pada 2024 mencapai 21,05 juta orang dengan rata-rata 70.483 pengguna setiap hari kerja dan 33.089 pengguna pada akhir pekan.
Executive Vice President LRT Jabodebek Mochamad Purnomosidi mengatakan akan menambah empat rangkaian kereta secara bertahap mulai Maret. Dengan bertambahnya rangkaian kereta, maka akan berlangsung 396 perjalanan.
Tambahan waktu tersebut akan membuat waktu tunggu semakin pendek. Kedatangan dan keberangkatan rangkaian kereta menjadi 9 menit pada jam sibuk pagi ataupun sore hari dan 12 menit saat jam normal.
Manajemen juga tengah melakukan studi kelayakan pembangunan fase 2 dari Cibubur ke Bogor. Pembangunan lanjutan ini menggunakan skema creative financing atau penggalangan dana inovatif karena pemerintah tidak punya cukup biaya.
”Fase 2 ini harus menggandeng investor. Sedang kami jajaki,” kata Purnomosidi.
Penulis:
Fransiskus Wisnu Wardhana DhanyEditor:
Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari