Madleen dan Kisah Gagalnya Kapal Kemanusiaan Tembus Gaza

Misi kapal kemanusiaan Madleen digerakkan  Koalisi Freedom Flotilla (FFC) dengan tujuan menembus blokade Israel atas Jalur Gaza yang diterapkan sejak tahun 2007.

13 Jun 2025 12:00 WIB · Kolom

Oleh Musthafa Abd. Rahman

Kapal kemanusiaan ”Madleen” yang membawa 12 aktivis kemanusiaan pro Palestina dari berbagai negara menuju Jalur Gaza akhirnya dicegat dan diduduki pasukan komando Israel sekitar 185 kilometer dari  pantai Gaza pada Senin (9/6/2025) dini hari. Kapal Madleen yang bertolak dari pelabuhan Catania-Pulau Sisilia-Italia pada 1 Juni 2025 dengan tujuan menembus blokade Israel atas Jalur Gaza juga membawa bantuan kemanusiaan, seperti makanan, obat-obatan, dan peralatan medis.

Namun, ia akhirnya harus menyerah dan mengulang nasib seperti kapal-kapal kemanusiaan sebelumnya yang juga gagal mencapai pantai Jalur Gaza. Israel menggiring kapal Madleen ke pelabuhan kota Ashdod di Israel dan menahan 12 aktivis kemanusiaan tersebut.

Gagalnya kapal Madleen mencapai  Jalur Gaza terjadi hanya sekitar sebulan dari gagalnya kapal kemanusiaan Conscience mencapai Jalur Gaza setelah diserang drone Israel di perairan internasional dekat Malta. Misi kapal kemanusiaan Madleen digerakkan Koalisi Freedom Flotilla (FFC) dengan tujuan menembus blokade Israel atas Jalur Gaza yang diterapkan sejak 2007.

Nama  Madleen sendiri diambil dari nama seorang wanita pejuang Palestina, Madleen Kullab,  yang berprofesi sebagai nelayan di Jalur Gaza sejak tahun 2014 dan saat itu ia berusia 15 tahun. Ia bersama ayahnya menjalani profesi nelayan dengan menggunakan perahu nelayan yang dimiliki ayahnya.

Swedish campaigner Greta Thunberg talks to journalists as she arrives at Stockholm-Arlanda airport, outside Stockholm, on June 10, 2025. On June 10, 2025, Israel deported Swedish Greta Thunberg by plane to Sweden via France, after she was arrested on board an aid boat for Gaza with other pro-Palestinian activists who were taken to Ben Gurion airport for deportation. Of the 12 people on board the sailing boat Madleen, two French nationals agreed to be deported on June 10, while four others declined pending a court decision, French Foreign Minister Jean-Noël Barrot announced. (Photo by Anders WIKLUND / TT NEWS AGENCY / AFP) / Sweden OUT

Ia dikenal nelayan pemberani karena berani berlayar sampai batas laut yang diizinkan Israel bagi warga Gaza untuk berlayar. Maka sering berdekatan dengan kapal-kapal patroli laut Israel yang sangat berisiko terjadi penembakan dari kapal patroli Israel itu.  

Ayah Madleen sendiri tewas ditembak Israel, segera setelah meletus perang Gaza pada Oktober 2023. Israel juga menghancurkan perahu nelayan milik ayah Madleen dan gudang tempat penyimpanan ikan hasil nelayan. Madleen, selain kehilangan ayahnya, juga kehilangan sumber rezekinya.

Madleen mengetahui namanya digunakan nama kapal kemanusiaan yang berlayar dari Italia itu menuju Jalur Gaza dari  temannya, aktivis kemanusiaan dari Irlandia sebagai penghornatan atas perjuangannya di Jalur Gaza.  

Sepak terjang FFC

Kisah FFC yang memiliki ide out of the box dengan berupaya menembus blokade atas Jalur Gaza lewat laut, bermula dari tahun 2010. Lahirnya FFC sangat terkait dengan lembaga bantuan kemanusiaan Turki, Humanitarian Relief Foundation (IHH). IHH dibentuk aktivis kemanusiaan Turki pada tahun 1992 untuk membantu korban perang Bosnia saat itu.

Pengungsi Palestina mengantre untuk mengisi wadah mereka dengan air di lingkungan Al-Rimal di Kota Gaza di tengah Jalur Gaza pada 21 Mei 2025.

IHH kemudian memperluas jangkauan aktivitasnya, meliputi Timur Tengah dan Afrika. Pada tahun 2010, IHH berkolaborasi dengan lima organisasi kemanuasian internasional nonpemerintah membentuk FFC dengan misi menembus blokade Israel atas Jalur Gaza.

Lima organisasi kemanusiaan internasional mitra IHH itu adalah Gerakan Pembebasan Gaza (Gaza Freedom Movement/GFM), Aksi Eropa Akhiri Blokade Gaza, Aksi Kapal Yunani Menuju Gaza, Aksi Kapal Swedia Menuju Gaza, dan Komite Internasional untuk Akhiri Blokade Gaza.

Setelah itu, bergabung banyak lembaga internasional nonpemerintah pro Palestina, antara lain Koalisi Afrika Selatan untuk Mendukung Palestina, Aksi Spanyol untuk Akhiri Blokade Gaza, Lembaga Kemanusiaan Malaysia, Aksi Norwegia  untuk Akhiri Blokade Gaza, Aksi Perancis Akhiri Blokade Gaza, dan Aksi Kebebasan Armada Italia. 

FFC yang dibentuk pada tahun 2010 itu sangat terinspirasi keberhasilan kapal kemanusiaan Qatar, Al Karamah, yang berhasil tembus blokade Israel atas  Gaza pada 20 Desember 2008.

IHH Turki kemudian pada Januari 2009  meminta izin Israel bisa menyalurkan bantuan kemanusiaan lewat darat dan laut ke Gaza. Namun Israel menolak permintaan IHH Turki itu.

Penolakan Israel itu di balik lahirnya FFC pada tahun 2010 yang dibidani IHH Turki bersama lima lembaga kemanusiaan internasional nonpemerintah yang notabene dari Eropa.

Keluarga Al-Arja makan sup kacang lentil di dalam tenda mereka di sebuah kamp untuk pengungsi Palestina di Muwasi, Khan Younis, Gaza, Rabu, 21 Mei 2025.

Pada Mei 2010, FFC untuk pertama kali menggerakkan 6 kapal kemanusiaan yang dipimpin kapal MV Mavi Marmara untuk menembus blokade Gaza lewat laut. FFC saat itu menyiapkan delapan kapal kemanusiaan yang berasal dari Turki, Togo, Yunani, AS, dan Irlandia.

Pada 31 Mei 2010, kapal Mavi Marmara dengan membawa 600 aktivis kemanusiaan dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia dan Malaysia, ketika dalam jarak sekitar 116 km dari Pantai Gaza, diserang pasukan komando Israel.

Sebanyak sembilan aktivis kemanusiaan dari Turki tewas dalam bentrokan dengan pasukan komando Israel di kapal Mavi Marmara. Pasukan komando Israel lalu menggiring kapal Mavi Marmara ke pelabuhan kota Ashdod, Israel. Ini kegagalan pertama FFC menembus blokade Gaza lewat laut.

Pada 22 Juni 2011, FFC menggerakkan 10 kapal kemanusiaan untuk menembus blokade Gaza yang akan  bertolak dari pelabuhan Yunani. Namun, Pemerintah Yunani melarang 10 kapal kemanusiaan itu bertolak dari pelabuhan Yunani menuju Jalur Gaza dengan dalih demi keselamatan penumpangnya. Akhirnya  para aktivis kemanusiaan dari mancanegara yang akan menumpang 10 kapal kemanusiaan itu menuju Jalur Gaza membubarkan diri dan pulang ke negara mereka masing-masing. Ini misi FFC yang gagal untuk kedua kalinya.

The Freedom Flotilla human rights organization Madleen boat is docked near Catania's harbor, Italy, Sunday, June 1, 2025, ahead of its departure for the Mideast. (AP Photo/Salvatore Cavalli)

Pada Oktober 2012,  Swedia yang didukung FFC menggerakkan kapal kemanusiaan milik Finladia, Estelle, untuk menembus blokade Gaza. Namun pada 20 Oktober 2012, lima kapal perang Israel menghadang kapal Estelle di laut Mediterania dan digiring ke pelabuhan kota Ashdod.  Ini kegagalan ketiga kalinya dari kapal kemanusiaan menembus blokade Gaza.

Pada tahun 2015, FFC kembali menyiapkan lima kapal kemanusiaan yang dipimpin kapal The Marianne untuk menembus blokade Gaza. Namun pada 29 Juni 2015, kapal The Marienne yang berhasil mendekat pantai Gaza dicegat kapal perang Israel dan digiring ke pelabuhan kota Ashdod. Ini kegagalan FFC yang keempat kalinya.

Pada Mei 2016, FFC menggerakkan kapal konvoi wanita yang membawa para aktivis kemanusiaan wanita menembus blokade Gaza. Pada 5 Oktober 2016, kapal konvoi wanita, Zaituna Oliva, yang membawa para aktivis kemanusiaan perempuan dicegat kapal perang Israel dan digiring ke pelabuhan kota Ashdod. Ini kegagalan FFC yang kelima kalinya.

Pada 21 Juli 2018, FFC kembali menggerakkan tiga kapal kemanusiaan yang membawa 45 aktivis  kemanusiaan dari 15 negara dan bantuan kemanusiaan untuk menembus blokade Gaza. Pada 29 Juli 2018, kapal perang Israel berhasil mencegat tiga kapal kemanusiaan itu dan digiring ke Pelabuhan kota Ashdod. Ini misi gagal FFC menembus blokade Gaza yang keenam kalinya.

Pada tahun 2024, FFC kembali menggerakkan tiga kapal kemanusiaan menuju Jalur Gaza. Namun pada April 2024, FFC mengumumkan penundaan keberangkatan tiga kapal kemanusiaan itu untuk waktu yang tidak ditentukan. Ini menjadi misi gagal FFC yang ketujuh kalinya.

Inilah kisah misi gagal FFC dari kisah gagal Mavi Marmara tahun 2010 hingga kisah gagal kapal Madleen tahun 2025.

Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022


Kerabat Kerja

Penulis:

Musthafa Abd. Rahman
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari