Magnet Emas Menguat, Diversifikasi Jadi Penopang Bisnis Tambang

Pertambangan emas masih menarik bagi perusahaan tambang. PT United Tractors Tbk, misalnya, menambah portofolio tambang emas, yakni tambang Doup di Sulawesi Utara.

28 Sep 2025 15:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Aditya Putra Perdana

Pertambangan mineral, khususnya emas, masih memikat sejumlah perusahaan tambang. Selain sebagai bagian dari strategi diversifikasi untuk penyeimbangan portofolio perusahaan, emas sebagai komoditas dianggap strategis, bernilai ekonomi tinggi, dan berkelanjutan. Bahkan, emas juga diproyeksikan menjadi salah satu penopang bisnis di masa mendatang.

Hal tersebut salah satunya dilakukan PT United Tractors Tbk (UT). Telah memiliki tambang emas melalui dua anak usahanya, yakni PT Agincourt Resources (tambang Martabe di Sumatera Utara) dan PT Sumbawa Juntaraya (Nusa Tenggara Barat), UT menambah lagi kepemilikan tambang emas.

Pada Jumat (12/9/2025), UT menandatangani kesepakatan perjanjian jual beli bersyarat (conditional sale and purchase agreement/CSPA) untuk mengakuisisi PT Arafura Surya Alam (ASA). ASA adalah perusahaan pertambangan emas yang memiliki izin usaha pertambangan operasi-produksi di Blok Doup, Sulawesi Utara.

Lantaran masih tahap CSPA, nilai transaksi akuisisi tersebut belum diungkap. ”Penutupan transaksi pada akhir 2025 ini. Kami mengakuisisi melalui (anak usaha UT) PT Danusa Tambang Nusantara. Pembiayaan berasal dari internal,” kata Investor Relations Head United Tractors Ari Setiyawan dalam Corporate Update UT, di Jakarta, Kamis (25/9/2025).

Suasana Corporate Update PT United Tractors Tbk di Jakarta, Kamis (25/9/2025).

Setelah diakuisisi, UT berencana membangun fasilitas pengolahan (processing plant) dan infrastruktur pendukung. Nantinya, dari fasilitas tersebut, ditargetkan dihasilkan 140.000-150.000 ounce emas per tahun. Adapun produksi ditargetkan mulai 2028. Tambang Doup pun diharapkan sudah memberi kontribusi bagi pendapatan perusahaan pada tahun tersebut.

”Berapa besar kontribusinya? Akan bergantung dari harga emas. Pada 2028, kapasitas produksi emas (Grup UT) kira-kira akan meningkat 1,5 kali lipat,” kata Ari.

Per Agustus 2025, penjualan setara emas UT, dari Agincourt dan Sumbawa Jutaraya, mencapai 161.000 ounce atau meningkat 11 persen dari periode sama tahun lalu. Adapun penjualan setara emas UT sepanjang tahun 2024 mencapai 232.000 ounce.

Akuisisi tambang emas Doup diharapkan menyeimbangkan portfolio perusahaan. Berdasarkan ringkasan keuangan perseroan per semester I-2025, kontraktor pertambangan menjadi segmen penyumbang terbesar pada pendapatan perusahaan, disusul mesin konstruksi, serta pertambangan batubara termal dan metalurgi. Setelah itu, tambang emas dan mineral lain, termasuk nikel.

Khusus nikel, UT baru masuk pada bisnis tersebut pada 2023, melalui kepemilikan saham mayoritas di PT Stargate Pasific Resources di Konawe, Sulawesi Tenggara. Kemudian, UT berinvestasi di perusahaan Nickel Industries Limited, dengan kepemilikan saham sebesar 20 persen.

Tampak area tambang Awak Mas oleh PT Masmindo Dwi Area, anak usaha PT Indika Energy Tbk.

Penguatan portofolio

Perusahaan lain yang semakin serius dalam pertambangan emas ialah PT Indika Energy Tbk. Selama ini, Indika Energy mengandalkan bisnis inti, yakni pertambangan batubara, melalui anak usaha mereka PT Kideco Jaya Agung. Beberapa tahun terakhir, bisnis Indika Energy aktif menggarap bisnis nonbatubara, termasuk emas.

Pada 2023, Indika Energy memperoleh fasilitas kredit sebesar 250 juta dollar AS dalam jangka waktu 5 tahun untuk mendanai pengembangan proyek tambang Awak Mas. Adapun operasi komersial dan produksi tambang Awak Mas ditargetkan mulai semester II-2026. Adapun produksi ditargetkan sebesar 100.000-120.000 ounce emas per tahun.

Head of Corporate Communications Indika Energy Ricky Fernando mengemukakan, nantinya, tambang Awak Mas diperkirakan akan menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat portofolio pendapatan nonbatubara Indika Energy. ”Dampaknya akan terasa secara bertahap, seiring dengan stabilnya operasi dan tercapainya efisiensi biaya,” katanya.

Sementara itu, PT Merdeka Gold Resources Tbk (MGR) resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode EMAS, Selasa (23/9/2025). Adapun MGR mengelola Proyek Emas Pani di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, yang memiliki potensi sumber daya mencapai 7 juta ounce emas, yang akan menjadikannya salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia.

Proyek tersebut dirancang sebagai tambang berbiaya rendah dengan umur panjang dan produksi puncak hingga 500.000 ounce per tahun. Adapun produksi emas pertama dijadwalkan pada kuartal I-2026.

Melalui penawaran umum perdana saham (IPO) tersebut, MGR memperkuat fondasi keuangan perseroan. ”Langkah ini akan mendukung pengembangan Proyek Emas Pani dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan, termasuk masyarakat di wilayah operasional kami,” ujar Presiden Direktur MGR Boyke P Abidin.

MGR merupakan anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), yang mengelola sejumlah proyek pertambangan, termasuk Tambang Emas Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam beberapa tahun terakhir, MDKA melakukan diversifikasi ke bisnis nikel, meliputi pertambangan dan pengolahan bijih nikel serta sejumlah produk turunannya.

Quote

Emas masih potensial dan masih prospek. Selain itu, emas juga bisa untuk mem-’back up’ devisa.

Suasana eksplorasi di tambang emas Tujuh Bukit di Banyuwangi, Jawa Timur, Jumat (25/10/2024) Tambang emas yang dioperasikan PT Bumi Suksesindo (PT BSI), anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk sejak tahun 2012. Tambang Emas Tujuh Bukit merupakan tambang terbuka yang menggali bijih mineral dan mengekstraksi kandungan emas dan perak, dengan metode pelindian yang efisien. Target produksi emas dan perak di tahun 2024 sebanyak 100.000 hingga 120.000 ounces. Kompas/Hendra A Setyawan

Sebelumnya, Ketua Indonesia Mining & Energy Forum (IMEF) Singgih Widagdo menuturkan, pertambangan emas masih terbilang prospektif meskipun dalam hal eksplorasi relatif panjang. Selain itu, produk emas pun bisa berkembang tanpa harus langsung diekspor. ”Emas masih potensial dan masih prospek. Selain itu, emas juga bisa untuk mem-back up devisa,” ucapnya.

Di sisi lain, pertambangan tanpa izin, termasuk pada emas juga masih menjadi pekerjaan rumah di Indonesia. Bagaimanapun, kata Singgih, pertambangan ilegal tidak bisa dibenarkan dan mesti diberantas. Dampak kerusakan lingkungan bisa meningkat signifikan jika praktik tersebut masih banyak terjadi.

Kompas Professional Mining

Laporan mendalam dan analisis tren industri untuk mendukung para profesional pertambangan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aditya Putra Perdana
 | 

Editor:

Maria Susy Berindra
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra