Program Istana untuk Rakyat atau Istura bisa dinikmati masyarakat kembali setelah pandemi Covid-19 mereda. Setidaknya, saat ini Istana Cipanas dan Istana Tampaksiring siap menerima kunjungan.
11 Apr 2023 23:52 WIB · Politik & Hukum
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/b7091b11-ad95-41e5-8790-df5097b007f3_jpg.jpg)
Kunjungan ke berbagai Istana Kepresidenan yang kembali dibuka setelah pandemi mereda membawa hawa segar baru bagi warga serta pencinta seni dan sejarah. Mengunjungi Istana Presiden, masyarakat bisa mengenal dan menikmati keindahan beragam koleksi seni budaya sekaligus belajar tentang sejarah bangsa. Istana membawa magnet keindahan bagi rakyat dalam kebijakan Istura atau Istana untuk rakyat.
Deputi Bidang Protokol Pers dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin menjelaskan, Istura memang program untuk mendekatkan rakyat dengan istana. Program ini ada sejak 2008 dan sempat terhenti saat pandemi Covid-19. Setelah pandemi mereda, Istura kembali berjalan.
Istura terbuka untuk rombongan atau grup. ”Rombongan keluarga juga boleh sepanjang ada penanggungjawabnya setelahnya akan dicek identitasnya. Pengunjung juga harus mengikuti persyaratan,” tuturnya.
Kelompok-kelompok masyarakat bisa mendaftar secara daring di tautan berikut https://isturacipanas.istanapresiden.go.id/trx/c_user_controller/pendaftaran
untuk Istana Kepresidenan Cipanas, https://isturayogya.istanapresiden.go.id/trx/c_user_controller/pendaftaranuntuk
Istana Yogyakarta, dan https://isturatampaksiring.istanapresiden.go.id/trx/c_user_controller/pendaftaran untuk Istana Tampaksiring.
Adapun permohonan ditujukan kepada Kepala Istana Kepresidenan paling lambat H-2. Selain daftar nama peserta dan kartu identitas, persyaratan lainnya adalah sudah divaksinasi Covid-19, mengikuti protokol kesehatan, serta berpakaian sopan dan rapi.
Program Istura ini setidaknya bisa dinikmati masyarakat setidaknya di Istana Kepresidenan Cipanas dan Istana Kepresidenan Tampaksiring Bali.
Baca Juga: Masyarakat Diundang "Masuk" Kompleks Istana
Untuk masa libur Idul Fitri tahun ini, masyarakat belum bisa mengunjungi Istana Kepresidenan Yogyakarta atau lebih dikenal sebagai Gedung Agung. Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta Deni Mulyana mengatakan, program Istura sesungguhnya sudah berjalan setelah pandemi mereda. Namun, saat ini Istura di Gedung Agung dihentikan sementara sampai Agustus 2023.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/08/08/7b1bdbbb-5b1f-4715-86e4-ce8e473c9d09_jpg.jpg)
”Ada pekerjaan drainase, enggak elok dilihatnya,” ujar Deni kepada Kompas, Senin (10/3/2023).
Sementara Istana Kepresidenan Bogor serta Istana Merdeka dan Istana Negara di Jakarta juga belum dibuka untuk Istura. Bey mengatakan, ketiga istana ini masih sering digunakan untuk acara kenegaraan dan acara lainnya oleh Presiden. Karenanya, ketiga istana itu belum bisa digunakan masyarakat.
”Ada pekerjaan drainase, enggak elok dilihatnya.”
Dikutip dari laman Kementerian Sekretariat Negara, Senin (10/4/2023), Istana Kepresidenan Cipanas kembali membuka program Istura sejak 5 Juli 2022. Prosedur protokol kesehatan ketat juga masih diberlakukan.
Jumlah pengunjung di masa sebelum pandemi yang dapat mencapai 1.000 orang per hari pun dibatasi hanya 100 orang per hari. Mereka disyaratkan sudah mendapatkan vaksin dosis ketiga atau booster.
Di Istana Cipanas tersebut pengunjung dapat menyaksikan Gedung Induk, yakni bangunan utama Istana Cipanas yang didirikan tahun 1742. Selain itu, juga ada pemandian air panas alam. Demikian pula Gedung Bentol di belakang Istana Cipanas yang menghadap Gunung Pangrango dan menjadi tempat Presiden pertama RI Soekarno mencari inspirasi saat menulis pidato kenegaraan.
Jumlah pengunjung di masa sebelum pandemi yang dapat mencapai 1.000 orang per hari pun dibatasi hanya 100 orang per hari. Mereka disyaratkan sudah mendapatkan vaksin dosis ketiga atau booster.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/07/28/20170704LKS90_1595934200_jpg.jpg)
Tak hanya Istana Cipanas, Istana Kepresidenan lainnya, seperti di Bogor dan Yogyakarta, pun dalam sejarahnya pernah terbuka untuk dikunjungi masyarakat. Istana Kepresidenan Yogyakarta resmi terbuka untuk masyarakat umum diawali dengan Musyawarah Seni Rupawan dan Pameran Besar Seni Rupa Yogyakarta pada tahun 1979 silam. Dan, selanjutnya, melalui program Istura, masyarakat dapat mengunjungi Istana Kepresidenan Yogyakarta tersebut.
Berbagai cara pun dilakukan untuk ”mendekatkan” rakyat dengan Istana Kepresidenan. Pada tahun 2018, misalnya, Istana Kepresidenan Yogyakarta bekerja sama dengan TVRI Yogyakarta untuk menyebarluaskan informasi mengenai program Istura. Informasi ini ditayangkan melalui program Ranah Publik yang bertema Istana Kepresidenan Yogyakarta Terbuka bagi Masyarakat.
Kala itu penggambilan gambar dilakukan di sekitar halaman Wisma Indraphrasta dengan dihadiri para pelajar dan mahasiswa di Yogyakarta. ”Istana terbuka untuk masyarakat, tujuannya pertama untuk edukasi bagi adik-adik yang masih bersekolah dan kuliah karena banyak informasi sejarah yang bisa digali dari Istana,” kata Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta (saat itu) Saipullah.
Mungkin ke depan bisa diakomodasi dalam bentuk penelitian, tapi saat ini hanya (dalam) bentuk melihat menggali sejarah peninggalan Belanda dan perjuangan Indonesia.
Namun, Istana belum bisa mengakomodasi kegiatan khusus. “Mungkin ke depan bisa diakomodasi dalam bentuk penelitian, tapi saat ini hanya (dalam) bentuk melihat menggali sejarah peninggalan Belanda dan perjuangan Indonesia,” katanya saat itu.
Program Istura dinilai sangat baik. Lebih dari itu, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, yang juga peneliti benda seni koleksi Presiden Soekarno, Mikke Susanto, mendorong untuk menjadikan Istana Presiden di Jakarta sebagai ruang kebudayaan. Apalagi ketika pusat pemerintahan nantinya bakal pindah ke Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/abd9b5d0-5e61-43fb-b7cc-f6efa3f58d13_jpg.jpg)
Kehadiran Istana Presiden di Jakarta sebagai ruang kebudayaan akan menjadi penyambung ruang-ruang budaya di Istana Bogor, Cipanas, Yogyakarta, dan Tampaksiring. Istana Presiden di Jakarta, Bogor; Cipanas, Yogyakarta (Gedung Agung); dan Tampaksiring, Bali; misalnya. memiliki lebih dari 2.000 lukisan, selain karya seni lainnya.
”Seandainya Istana Presiden yang ada di Jakarta itu dipakai sebagai ruang kebudayaan, misalnya museum Istana Kepresidenan secara umum. Itu mungkin akan jadi venue yang sangat penting dan bertaraf internasional sehingga karya-karya Bung Karno bisa dilihat ada di sana,” ujar Mikke, dihubungi pada Senin (10/4/2023) lalu.
Sejauh ini, menurut Mikke, masyarakat cenderung hanya mengenal Istana Jakarta. Istana Yogyakarta, misalnya, kurang populrr dan bahkan tidak dikenal masyarakat. ”Presiden dan menteri juga bisa memikirkan keberadaan museum-museum ataupun istana-istana yang ada di Jawa dan Bali lainnya sehingga konektivitas antar-istana itu tetap bisa dirasakan oleh masyarakat secara umum,” ucapnya.
Membuka Istana Presiden bagi kunjungan masyarakat dinilai penting. ”Di dalam Museum nanti bisa dialirkan magnet-magnet tentang keindahan, kehidupan, dan kebudayaan Indonesia secara mudah. Oleh karena itu dirasa bahwa ketika istana sudah pindah ke ibu kota baru itu istana yang ditinggalkan itu akan menarik publik sebagai bagian Jakarta sebagai kota proklamasi,” tambah Mikke.
Karena kalau dalam persepsi istana sebagai museum, tentu saja di dalamnya ada berbagai macam hal terkait dengan warisan benda maupun warisan tak benda. Berupa nilai-nilai sejarah filosofi estetika. Itu menjadi bagian yang penting untuk terus-menerus disosialisasikan.
Program Istana untuk rakyat diharapkan bisa diungkap secara luas kepada masyarakat. ”Karena kalau dalam persepsi istana sebagai museum, tentu saja di dalamnya ada berbagai macam hal terkait dengan warisan benda ataupun warisan tak benda. Berupa nilai-nilai sejarah filosofi estetika. Itu menjadi bagian yang penting untuk terus-menerus disosialisasikan,” kata Mikke.
Ketika berkunjung ke Istana Presiden, masyarakat diharapkan tetap menghormati Istana sebagai bagian dari sejarah kebangsaan yang sangat penting. Karena itu, upaya untuk menjaga dan melestarikan apapun yang ada di dalam Istana menjadi kewajiban bersama. Masyarakat juga harus sadar bahwa setiap benda ataupun ruang di dalam Istana Presiden memiliki kisah-kisah yang bisa dijadikan sumber inspirasi berkarya.
Mikke menambahkan pihak Istana juga harus menyiapkan berbagai macam infrastruktur agar bisa melayani tamu sebaik mungkin. Istana Presiden yang terbuka bagi rakyat sudah pasti menjadi tontonan yang berkualitas tinggi dan menjadi materi yang akan selalu dicari. Hal ini menjadi bagian dari upaya mengenal Indonesia sejak dulu hingga masa kini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/08/02/898477c0-6bd8-418a-a0be-1dcb2b29254d_jpg.jpg)
Punya kurator
Mikke juga mendorong agar Sekretariat Negara membuat tim kurator bagi koleksi seni di Istana Presiden. ”Kurator itu sejatinya selalu ada di setiap lembaga yang memiliki dokumen-dokumen atau materi-materi yang jadi arsip atas lembaga tersebut. Kuratorial juga harus dilakukan bukan hanya urusan memberi informasi kepada tamu, melainkan penggalian data riset dan hal-hal yang terkait dengan sejarah istana akan jauh lebih banyak ditemukan,” ucapnya.
Kurator itu sejatinya selalu ada di setiap lembaga yang memiliki dokumen-dokumen atau materi-materi yang jadi arsip atas lembaga tersebut. Kuratorial juga harus dilakukan bukan hanya urusan memberi informasi kepada tamu tapi penggalian data riset dan hal-hal yang terkait dengan sejarah istana akan jauh lebih banyak ditemukan.
Upaya mengajak publik turut menyaksikan ruang dalam bangunan tempat presiden berkantor atau tinggal pun dilakukan di Amerika Serikat, yakni di Gedung Putih. Hal ini dapat disimak di buku berjudul Dinasti Kennedy, Kebangkitan dan Kehancurannya 1848-1984 karya John H Davis (penerjemah Is Rachmat, Penerbit Erlangga, 1987).
Dikisahkan di buku tersebut, antara lain, ketika Jacqueline Kennedy atau lazim disapa Jackie—istri Presiden ke-35 AS John Fitzgerald Kennedy—memiliki gagasan memugar Gedung Putih agar kembali seperti keadaannya pada masa Presiden ke-5 AS James Monroe (1817-1825). Jackie pun meneliti puluhan kamar di Gedung Putih dan menemukan kembali sejumlah barang tersembunyi atau terlupakan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/23/9d532c0b-b7ad-46b9-af07-c4ab1befb456_jpg.jpg)
Baca juga: Istana Kembali Batasi Tamu Presiden
Sebut, misalnya, marmer setengah badan tokoh ternama seperti Presiden pertama AS George Washington dan meja besar terbuat dari kayu bekas kapal Inggris HMS Resolute yang dihadiahkan Ratu Victoria kepada Presiden ke-19 AS Rutherford B Hayes (1877-1881) di tahun 1878. Demikian pula seperangkat piring emas dan perak serta barang pecah belah yang dipesan para presiden AS di masa silam.
Jackie Kennedy kemudian mendirikan Perkumpulan Sejarah Gedung Putih dan mengadakan jabatan kurator Gedung Putih. Dia pun menerbitkan buku panduan resmi berjudul Panduan Sejarah Gedung Putih. Dan, selanjutnya, di tanggal 16 Februari 1962, Jackie bersama Charles Collingwood dari stasiun televisi CBS menyiarkan acara berkeliling menyaksikan Gedung Putih yang baru saja dipugar. Acara tersebut menarik perhatian 56 juta penonton.
Semua yang terkait ”istana” memang banyak menarik minat publik untuk menikmati arsitektur, hiasan interior, dan pernak-perniknya. Di Indonesia, Istura menjadi bagian dari upaya membuka Istana Kepresidenan bagi warganya. Sesuatu yang sahih dan patut karena sejatinya warga pula yang secara demokratis setiap lima tahun sekali memilih putra dan putri terbaiknya sebagai presiden di negeri ini.
Penulis:
NINA SUSILO, CYPRIANUS ANTO SAPTOWALYONO, MAWAR KUSUMA WULAN KUNCORO MANIKEditor:
SUHARTONO