Air Sungai Mahakam di Kaltim meluap. Ribuan rumah warga terendam. Warga bertahan di rumah dengan makanan terbatas.
16 Mei 2024 11:42 WIB · Lingkungan
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/16/f4f9caf3-1e66-4400-9d88-3b5bacbcf74b_jpeg.jpeg)
BALIKPAPAN, KOMPAS — Sungai Mahakam meluap dan airnya menggenangi lima kecamatan di Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur. Ribuan warga terisolasi di rumah dan bertahan dengan makanan tersisa.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Mahakam Ulu Agus Darmawan mengatakan, air mulai naik pada 13 Mei 2024 di Kecamatan Long Apari, salah satu wilayah hulu Sungai Mahakam. Banjir kemudian meluas ke wilayah di sekitarnya.
Baca juga: Mahakam Ulu Ditargetkan Punya Jalan Beraspal ke Daerah Lain Akhir 2021
”Saat ini, ketinggian air di Ujoh Bilang, ibu kota kabupaten, antara 3-4 meter. Ini banjir terparah sepanjang sejarah di Mahakam Ulu,” kata Agus, dihubungi dari Balikpapan, Kamis (16/5/2024).
Ia mengatakan, banjir ini diperkirakan terjadi akibat curah hujan tinggi beberapa minggu terakhir. Hujan tersebut merata, termasuk di wilayah anak Sungai Mahakam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/16/6343fab1-6d40-47cc-ae5a-78df56fb334a_jpeg.jpg)
Terdapat sejumlah aktivitas perusahaan di sektor kehutanan di Mahakam Ulu. Namun, Agus belum bisa memastikan faktor lain yang turut memperparah banjir terbesar di Mahakam Ulu ini.
Memasuki hari keempat, banjir di Mahakam Ulu belum juga surut. Dari pantauan Agus, rumah-rumah warga hanya terlihat bagian atapnya. Kantor pemerintahan, puskesmas, toko, sekolah, dan fasilitas publik lain pun turut terendam.
Baca juga: Kala Hutan Jadi Benteng Alami dari Pandemi
Sebagian besar warga di Kabupaten Mahakam Ulu bermukim di sekitar Sungai Mahakam. Rumah warga berdiri antara 100 meter sampai 1 kilometer dari bibir sungai.
Agus mengatakan, permukiman di radius 0-2 km dari sungai terendam air. Daerah yang tidak terdampak banjir, lanjutnya, adalah daerah yang berada di radius 3-4 km Sungai Mahakam.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/16/8cbf80d3-ed02-49d5-82f6-0584c4bf3968_jpeg.jpg)
Namun, wilayah itu hanya berupa ladang atau hutan. Sedikit sekali warga yang tinggal jauh dari sungai.
Oleh karena itu, diperkirakan sebagian besar warga dari kabupaten dengan jumlah penduduk 38.000 jiwa ini terdampak banjir. Agus mengatakan, saat ini pihaknya masih menghimpun angka pasti jumlah warga yang terdampak.
Agus menambahkan, saat ini pihaknya hanya mampu membuat satu posko di pusat pemerintahan Mahakam Ulu, yakni di Desa Ujoh Bilang. Warga lansia, ibu hamil, dan anak-anak dievakuasi ke posko ini.
Posko itu hanya mampu menjangkau empat desa di sekitar ibu kota kabupaten, yakni Long Bagun Ulu, Long Bagun Ilir, Ujoh Bilang, dan Long Laham.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/16/7d78f5c3-94c4-42bc-953e-03e8ef286809_jpeg.jpeg)
Ia mengatakan, warga membutuhkan makanan siap saji. Sebab, rata-rata toko di kampung pun turut terdampak banjir. Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kaltim untuk memberi bantuan.
Sebab, Kabupaten Mahakam Ulu mengalami keterbatasan armada dan personel. ”Tiga perahu karet yang kami pakai itu pun pinjam,” kata Agus.
Ia mengatakan, saat ini arus Sungai Mahakam sangat deras dan berbahaya untuk dilalui. Kondisi itu membuat BPBD Mahakam Ulu belum bisa menjangkau daerah-daerah lain yang terdampak banjir.
Hanya jalur sungai yang tersedia di Mahakam Ulu. Antarkecamatan belum tersambung jalur darat secara mumpuni. Beberapa jalan yang sudah ada hanya berupa lahan yang baru dibuka.
”Kami akan ke Kecamatan Long Apari dan Long Pahangai, kecamatan paling ujung, setelah arus sungai aman,” katanya.
Di Long Apari, banjir melanda Desa Long Tuyoq. Desa ini berjarak sekitar lima jam berperahu dari ibu kota Mahakam Ulu dengan kondisi arus sungai normal.
Kawit Tekwan (54), warga Long Tuyoq, mengatakan, warga hanya bertahan di rumah masing-masing. Air menggenang antara 2-3 meter di kampung yang dihuni sekitar 490 jiwa itu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2020/04/15/Dikelilingi-Hutan_88734177_1586883828_jpg.jpg)
Hewan-hewan ternak warga, kata Kawit, diangkut ke rumah warga. Beberapa warga yang rumahnya terendam mengungsi ke lantai dua rumah famili.
”Kami di rumah bertahan tujuh orang, dua keluarga,” katanya.
Baca juga: Keterisolasian Mahakam Ulu Masih Tinggi
Persediaan makanan keluarga Kawit diperkirakan hanya cukup digunakan sampai seminggu ke depan. Untuk air minum, mereka membeli di toko yang ada di kampung. Harganya Rp 14.000 untuk air mineral 1,5 liter.
”Airnya masih ada beberapa, tapi uangnya ini yang nanti habis,” katanya tertawa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/12/23/36e42de9-c4f6-4b2b-879a-579c4953338b_jpg.jpg)
Adapun untuk beras, rata-rata warga menyimpan beras hasil panen. Kawit mengatakan, beberapa kali keluarganya mengambil umbut (rotan muda) di sekitar sungai yang bisa dijangkau untuk sayur dan lauk.
Menurut dia, warga khawatir kondisi listrik di kampung. Mereka mengandalkan genset yang butuh 60 liter solar setiap 24 jam.
”Sekarang tersisa 20 liter solar saja. Nanti untuk komunikasi sulit kalau tidak ada listrik,” ujarnya.
Penulis:
SUCIPTOEditor:
CORNELIUS HELMY HERLAMBANG