”Mak Jedor, Dorr”

”Sing penting madhang” adalah pernyataan keras rakyat kecil bahwa program pangan bukanlah program utopia masa depan, seperti program Makan Bergizi Gratis.

05 Mei 2025 17:00 WIB · Opini

Oleh Sindhunata

Tambal ban adalah sektor pelayanan jasa yang untung-untungan pendapatannya. Apabila ada ban pecah, baru pekerjanya memperoleh nafkah. Jika tidak ada ban pecah, mereka bisa hanya terlongong-longong saja seharian. Sudah demikian, perolehannya pun pas-pasan. Ongkos tambal ban motor hanya 10.000 sampai 20.000 rupiah. Ban mobil, sekitar 50.000 rupiah.

Tambal ban itu vital. Bayangkan, tiba-tiba ban motor bocor atau pecah di tengah jalan. Pengendaranya pasti kebingungan jika tidak segera menemukan tambal ban terdekat. Mobil sama saja. Bermerek apa pun mobilnya, jika bannya bocor, pengendaranya akan merasa aman apabila bisa melarikan mobilnya ke tukang tambal ban.

Kendati vital, tambal ban adalah pelayanan jasa yang terlupakan dalam hidup keseharian. Namun, akhir-akhir ini tambal ban tiba-tiba menjadi viral. Itu terjadi berkat Orkes Melayu (OM) Lorenza, kelompok musik asal Sukoharjo. Dulu grup ini juga tampil di Taman Hiburan Rakyat Sriwedari, Solo. Mereka juga menampilkan musik dangdut koplo, genre yang sedang populer. Namun, karena kerasnya persaingan, pemimpin mereka, Murjiyanto, memutuskan agar Lorenza kembali pada ciri khas orkes Melayu, yang membawakan lagu-lagu dangdut lawasan era tahun 70 sampai 90-an.

Irama musik lawasan mereka mengalun datar. Tak mengentak-entak dengan pukulan suara kendang atau ketipung seperti dangdut koplo. Di panggung, busana mereka ber-style retro, kostum yang mundur ke masa lampau. Mereka memang tampil dengan gaya jadul, celana cutbray, baju motif lawas, sepatu pantofel, sampai sarungan. Bahkan, ada yang memakai rambut palsu, gaya kribo zaman dulu.

Sekarang OM Lorenza sedang laris. Jadwalnya padat. Penampilannya bisa menjadi pemuasan bagi kerinduan terhadap dangdut lawasan. Ternyata, pencintanya bukan hanya penikmat dangdut lawasan, melainkan juga anak muda zaman sekarang. Video OM Lorenza juga menarik perhatian publik lewat platform media sosial, seperti Tiktok dan Instagram.

Panggung OM Lorenza selalu dipadati penonton. Tua-muda, laki-laki dan perempuan, menyukainya. Para penonton ini berdandan lawasan. Mereka juga menghidupkan kembali gaya joget lawasan. Sambil bergoyang, mereka memanggul radio transistor, membawa ban bekas, dan memain-mainkan senter. Suasananya sungguh jadulan.

Popularitas OM Lorenza ini makin meledak ketika mereka membawakan lagu dangdut ”Tambal Ban”. Mereka menemukan lagu itu dalam album Dangdut Jawa yang dirilis melalui label Puspita Record pada 1981. Mereka kemudian membuat aransemen ulang atas lagu itu. Semula personel orkes Melayu itu tidak mengetahui dengan pasti siapa pencipta lagu tersebut. Baru kemudian diketahui, pencipta lagu itu adalah Sofyan, anggota grup musik Usman Bersaudara di era 1980-an.

Lagu ”Tambal Ban” lalu menjadi hits kembali sampai sekarang. Selain OM Lorenza, grup-grup dangdut lainnya, berserta penyanyi-penyanyinya, ramai-ramai membawakan lagu itu. Tidak hanya di panggung pertunjukan, ”Tambal Ban” juga menyebar ke mana-mana, lewat media sosial, streaming, Tiktok dan Instagram. Terutama di kalangan masyarakat bawah, ”Tambal Ban” jadi lagu yang menjamur, disukai dengan dihidupi.

”Tambal Ban” menjadi makin populer, bersamaan dengan munculnya Pak Slamet, pengamen jalanan, yang fenomenal. Pak Slamet adalah warga Dusun Sugihan, Desa Tanggulrejo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan. Sehari-hari ia menjadi pengamen. Penampilannya apa adanya, sebagaimana layaknya pengamen jalanan. Sambil membawa peralatan sound sederhana, ia berkeliling di pasar dan jalanan sekitar desanya untuk memperoleh nafkahnya.

Pengamen yang menghiasi wajahnya dengan bedak dan kumis palsu memutar musik dangdut berkeliling di jembatan penyeberangan orang di Pasar Gembrong, Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (14/1/2015) Bermacam cara dan upaya dilakukan oleh para pendatang untuk bertahan hidup di Ibukota.

Pak Slamet menjadi terkenal setelah videonya tersebar lewat media sosial. Suaranya yang flat dan khas kemudian menarik perhatian produser. Pak Slamet lalu ditarik ke dapur rekaman. Pak Slamet menjadi makin viral ketika ia diduetkan dengan penyanyi-penyanyi dangdut untuk membawakan lagu ”Tambal Ban”. Ia tampak amat menghayati ketika menyanyikan lagu tersebut. Itu karena isi lagu ”Tambal Ban” cocok dengan pengalamannya mencari nafkah di jalan. Karena penampilan Pak Slamet, ”Tambal Ban” pun menjadi makin viral. Beginilah syair lagu ”Tambal Ban” itu:

Aku iki tukang tambal ban,

uripe sak ndalan-ndalan,

golek pangan, duit sing halal,

penting cukup kanggo sandang lan pangan

Aku iki tukang tambal ban,

rejekine untung-untungan,

nasib apik duit kantongan,

wayah apes wetengku kroso kroncongan

Mak jedor mak jedor mak jedor dorr,

ono ban pecah,

wah iki mesti rejeki teko.

Mak jedor mak jedor mak jedor dor,

ban pecah maneh,

isih esuk rejekine tambah nglumpuk oe.

tambah nglumpuk oe,

tambah nglumpuk oe,

tambah nglumpuk oe,

tambah nglumpuk oe.

Isi lagu ini jelas pas sekali dalam menggambarkan susah payah rakyat biasa untuk mencari nafkah. Mereka mengais rezeki di sepanjang jalan. Apabila nasib baik, kantongnya berisi uang. Apabila apes, perut mereka keroncongan. Hidup mereka ibarat tergantung pada ban. Jika mak jedor, dorr, itu tanda ada ban pecah dan artinya rezeki mendatangi mereka. Maka, alangkah senang mereka jika mak jedor, dorr itu terdengar berulang-ulang karena itu artinya rezeki datang menumpuk berdatangan.

Kendati ibaratnya hanya tergantung pada ban, rakyat kecil itu bahagia asal bisa memperoleh uang dengan halal. Ini adalah ironi terhadap keserakahan mereka-mereka yang tidak pernah puas dengan nafsunya. Sudah miliaran rupiah hartanya, kaum serakah ini masih menginginkan harta triliunan banyaknya. Konyolnya, itu ditumpuknya dengan tindakan tak halal bernama korupsi. Sungguh berlawanan dengan pergulatan rakyat, yang sehari-hari harus mengumpulkan uang dengan halal. Itu pun hanya demi ”asal cukup untuk memenuhi sandang dan pangan”.

”Sing penting madhang”

Memang, mencari nafkah dengan halal asal bisa makan adalah target utama dalam hidup rakyat biasa sehari-hari. Target itu amat minimum. Namun, bagi rakyat biasa, target itu tidak mudah untuk dipenuhi. Lebih-lebih bagi sekitar 25 juta rakyat yang masih berada di bawah garis kemiskinan. Kalangan ini sulit sekali mencari uang. Apalagi sekarang, ketika krisis ekonomi mulai datang.

Dalam situasi suram ini, ”bisa makan” adalah satu-satunya jaminan yang harus mereka pegang. Maka, bukan kebetulan, apabila tema ini diangkat oleh wartawan-wartawan dari kelompok Pewarta Foto Indonesia (PFI) di Yogyakarta dalam sebuah pameran foto. Pameran itu diselenggarakan di Art Galery Universitas Gajah Mada pada Mei 2025. Para wartawan foto itu memberi judul pamerannya ”Sing Penting Madhang”.

”Sing penting madhang” adalah kata-kata yang pernah populer dalam Tiktok. Kata-kata itu dikemas dalam gambar menarik: seorang gadis kecil, lucu, gemuk, sederhana, dan menggemaskan, memegang sepiring makanan. Kelihatan sambil mengacungkan piringnya, ia bersuara keras, ”Sing penting madhang, ora madhang, semaput.”

Tiktok si gadis kecil ini menjadi viral. Serentak kemudiaan diikuti dengan tiktok serupa. Intinya mengulang atau memodifikasikan lagi seruan si gadis kecil tadi. Ada yang meneriakkan, jangan pikir penampilan, yang penting makanlah banyak-banyak, mati kamu kalau tidak makan. Ada juga yang mengguraukan, jangan terlalu bersemangat dengan status di HP, sampai lupa makan bestie, bisa semaput kamu. Diserukan juga, untuk yang sedang berjuang, ayo madhang, karena berjuang dalam keadaan lapar, ndredreg guys, ayo madhang, itu utama.

Para buruh membeli makanan dari pedagang di luar area pabrik saat jam makan siang di kawasan Karawaci, Kota Tangerang, Banten, Rabu (22/11/2023). Hingga Selasa (21/11/2023) pukul 19.00 WIB, 30 provinsi telah menetapkan dan mengumumkan upah minimum provinsi (UMP) 2024. Persentase kenaikan UMP 2024 terendah adalah 1,2 persen dan tertinggi 7,5 persen. Kompas/Priyombodo (PRI) 22-11-2023

Tampak juga seorang ibu makan dengan lahap. Ditanya, kok kamu bisa lahap makan, apa kamu tidak mikir utangmu. Ibu itu menjawab ringan, utang ya utang, makan ya makan, nanti kalau tidak makan, tidak bisa mikir, tidak bisa bekerja untuk menyaur utang. Tiktok lainnya menampilkan seorang pemuda memegangi piring dan menggumankan doa rapal: sifatnya nasi ya nasi, sifatnya lauk ya lauk, aku berniat makan, untuk mengisi kekuatan, supaya bisa menghadapi kerasnya kehidupan, Allahumma.

Semua itu diucapkan dalam bahasa Jawa dengan gaya dan nada lucu. Pesannya satu dan sama: sing penting madhang, ora madhang semaput.

Seperti sudah diisinggung di atas, pameran foto wartawan-wartawan PFI tersebut terinspirasi oleh obrolan sing penting madhang itu. Foto-foto mereka memang menampilkan pelbagai peristiwa madhang yang sehari-hari terjadi di kalangan masyarakat bawah. Madhang juga diperlihatkan sebagai hal yang hakiki pada acara ritualan. Di sana peserta ritual diajak untuk merasakan syukur karena mereka masih bisa madhang. Sehari-hari mereka sudah makan, tetapi bahwa makan itu berkah, perlulah itu dirasakan dan diperingati secara khusus, seperti dalam kesempatan tersebut.

Saking biasanya, madhang serasa bisa datang dengan sendirinya. Begitu waktunya tiba, orang makan. Atau dengan sendirinya, makanan tersedia. Foto-foto rekan PFI ini mengingatkan, tidak demikianlah yang sesungguhnya terjadi dengan madhang: Madhang didapat dengan susah payah dan kerja keras. Supaya bisa madhang untuk keluarga dan dirinya, seorang bapak tua harus mengangkut rombong krupuk. Badannya terbungkuk oleh beban yang harus disangganya setiap hari.

Para petani juga harus mencurahkan tenaga dan memeras keringat agar sawahnya bisa memberinya penghasilan, yang bisa digunakan untuk kebutuhan madhang. Begitu juga, untuk madhang, seorang ibu berjualan brambang di pasar. Pembeli sepi. Timbangan diam, tak bergerak. Dan, ibu itu terkantuk. Capai dan mungkin bosan. Demikian juga dengan tukang becak dan ojek. Sehari-hari mereka harus menjelajah jalan, mengayuh dan mencari penumpang. Mengais rezeki agar bisa madhang.

Tema pameran foto ”Sing Penting Madhang” ini jelas juga mempunyai maksud kritis: menegur situasi politik sekarang ini. Politik seakan asyik bersilat dengan kekuasaan, intrik-intrikan, dan saling rebutan. Aktor-aktor politik sampai lupa bahwa tujuan utama politik adalah mengabdi agar rakyatnya bisa madhang. Apalagi sekarang, saat ancaman tak bisa cukup madhang itu sungguh real karena krisis ekonomi yang sedang datang.

Pengamen ondel-ondel anak beristirahat sembari menikmati makan siangnya di Gang Kramat Batas, Kelurahan Kemiri Muka, Kecamatan Beji, Depok, Jawa Barat, Jumat (23/7/2021). Saat mereka beristirahat, ondel-ondel yang mereka gunakan sebagai alat mengamen menjadi hiburan anak-anak sekitar. Pengamen ondel-ondel anak ini tak jauh beda dengan anak jalanan lainnya yang rentan mendapatkan eksploitasi ekonomi, kekerasan fisik, menderita penyakit, narkoba, hingga perilaku seks bebas. Kompas/Wawan H Prabowo

Moral ekonomi

Sing penting madhang adalah pernyataan keras rakyat kecil bahwa program pangan bukanlah program utopia masa depan, seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG). MBG yang direncanakan menghabiskan 400 triliun rupiah itu dicita-citakan sebagai langkah investasi untuk menciptakan struktur sosial menuju Indonesia Emas pada 2045. Sama-sama bicara tentang pentingnya makanan, program ini kiranya tidak menjawab kebutuhan sekarang dan mendesak dari rakyat kecil yang tertuang dalam jeritannya sing penting madhang.

Kebutuhan madhang juga tidak bisa dipenuhi dengan gerojokan bansos yang hanya sesaat saja. Pemerintah jelas harus membantu agar rakyat kecil bisa memperoleh kesempatan dalam memastikan kebutuhan pokok itu secara berkesenimbungan.

Sing penting madhang itu kiranya bisa dibaca dengan teori klasik James Scott tentang moral ekonomi. Teori itu bicara mengenai subsistensi prinsip ekonomi safety first. Memang teorinya bertolak dari kehidupan petani, tetapi teori itu juga bisa dikenakan kepada wong cilik pada umumnya. Karena seperti petani, wong cilik umumnya juga berusaha untuk mempertahankan prinsip subsistensi safety first agar ”bisa makan” dapat tetap dijaga dan dijamin sebagai kebutuhan paling pokok dan tak bisa diganggu gugat.

Menurut Scott, prinsip di atas sekaligus mengandung suatu tuntutan moral, yang ditujukan kepada pihak elite dan pemerintah. Para elite dan pemerintah itu berada di bawah kewajiban untuk menjaga kehidupan ekonomi yang benar-benar bisa menjamin subsistensi rakyat kecil. Pemerintah boleh menawarkan pembaruan, tetapi program kemodernan apa pun harus dijaga, jangan sampai merusak subsistensi yang sudah ada. Scott menunjukkan, petani sebagai rakyat kecil itu tiba-tiba bisa meledak dan memberontak apabila subsistensi mereka terganggu dan prinsip ekonomi safety first mereka runtuh.

Sebagai prinsip safety first, sing penting madhang jelas juga menyimpan energi perlawanan. Ini bisa dimaklumi karena prinsip sing penting madhang sebenarnya adalah prinsip mereka yang tiap hari bergulat dengan kekurangan dan kemiskinan. Dalam suatu struktur sosial yang tidak adil, di mana jurang pemisah antara yang kaya dan miskin terus melebar, kemiskinan itu sebenarnya sudah menjadi teguran kritis terhadap kekayaan, yang cenderung makin serakah dan tamak.

Quote

Scott menunjukkan, petani sebagai rakyat kecil itu tiba-tiba bisa meledak dan memberontak apabila subsistensi mereka terganggu dan prinsip ekonomi safety first mereka runtuh.

Tak mungkinlah suara itu bisa terus didiamkan untuk tidak menjadi perlawanan. Sejarah menunjukkan, pemberontakan rakyat mudah meledak apabila mereka yang miskin sudah terpuruk di bawah garis minimum safety first, alias apabila mereka tidak bisa mengisi perutnya lagi.

Maka, sing penting madhang perlu kita tangkap sebagai seruan moral yang mewajibkan pemerintah dan kaum kaya untuk menjamin subsistensi dan safety first rakyat kecil dalam kebutuhan pangannya itu. Seruan moral itu harus ditanggapi dengan sangat serius, lebih-lebih ketika krisis sudah mulai mengancam seperti yang kita alami sekarang.

Jika seruan moral sing penting madhang itu mendapatkan gema dan tanggapan positif, kita tidak perlu khawatir dengan suara mak jedor, dorr yang kini lagi hidup dan merebak di kalangan masyarakat bawah. Memang, kita mesti sama-sama menjaga agar mak jedor, dorr itu sungguh hanya suara ban pecah, bukan ledakan kemarahan dan perlawanan yang meluap dari perut yang tak bisa lagi hidup dari kebutuhannya yang paling mendasar: sing penting madhang.

Sindhunata, Wartawan, Penanggung Jawab Majalah Basis, Yogyakarta


Kerabat Kerja

Penulis:

Sindhunata
 | 

Editor:

Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra