Pada hari pertama pelaksanaan makan bergizi gratis, hanya satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang beroperasi melayani 3.062 siswa.
06 Jan 2025 11:05 WIB · Nusantara
KUPANG, KOMPAS — Program makan bergizi gratis digelar secara nasional pada Senin (6/1/2025) ini. Kenyataannya, di Nusa Tenggara Timur hanya ada 1 dari 749 titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang sudah siap beroperasi.
Dari pantauan Kompas, tempat pelayanan yang sudah siap berada di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Sejak pagi, petugas mengantar makanan ke sejumlah sekolah.
Namun, gerbang tempat pelayanan ditutup. Media yang hendak masuk ke dalam halaman tempat parkir kendaraan pun tidak diizinkan.
”Tidak boleh masuk. Mohon pengertiannya,” kata M de Jesus, petugas keamanan.
Tampak dari luar, ada politisi Partai Gerindra yang berbincang-bicang dengan petugas di halaman. Tempat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) itu dikelola Yayasan No Fitu Timor.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/06/02b172d75033a9034aaaf11612652377-1000366300.jpg)
Perwira Seksi Teritorial Komando Distrik Militer 1604 Kupang Kapten Infanteri Sudirman yang ditemui di lokasi melaporkan, SPPG itu melayani 12 sekolah yang terdiri dari 1 TK, 8 SD, 1 SMP, dan 2 SMA. Total penerimaan Makan Bergizi Gratis (MBG) itu sebanyak 3.062 orang.
Menurut Sudirman, untuk wilayah NTT, baru satu SPPG yang sudah siap. Sementara itu, berdasarkan data Badan Gizi Nasional, total SPPG di NTT sebanyak 749 titik. Alokasi anggaran untuk program makan bergizi di NTT sebanyak Rp 8 triliun dari total anggaran secara nasional sebanyak Rp 71 triliun.
Di SDI Noelbaki, para siswa menyambut gembira datangnya mobil pengangkut makanan. Sebanyak 591 boks makanan diberikan berdasarkan jumlah siswa yang terdaftar. Mereka lalu menyantapnya. Menu makanan terdiri dari nasi, sayur buncis, tahu, ayam goreng, dan buah pisang.
Sebelum menyantap, para guru menjelaskan kepada siswa bahwa makanan itu gratis, dan akan diberikan kepada mereka lima hari per minggu. Para siswa diminta membawa sendok dan air minum.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/06/1adb8442ebf673f56f12f535447e92cc-1000366297.jpg)
Ardi Tamelab (8), siswa kelas 2, senang dengan makanan tersebut. ”Saya suka karena ada daging ayam. Saya biasa sarapan di rumah itu makan nasi dan mi saja,” ujar putra bungsu dari lima bersaudara itu.
Orangtua Ardi adalah buruh serabutan dengan penghasilan pas-pasan. Tiga kakaknya putus sekolah dan kini menjadi buruh kelapa sawit di Pulau Sumatera. Satu lagi kini masih duduk di bangku SMP.
Kepala SDI Noelbaki Novi Riwu mengatakan, kurang dari 10 persen siswa di sekolah itu yang sarapan secara teratur. ”Kebanyakan orangtua siswa adalah nelayan dan petani sehingga pagi hari mereka sudah di laut dan kebun. Akibatnya, banyak anak tidak sarapan dengan baik,” katanya.
Novi pun mengapresiasi program makan bergizi yang diberikan pemerintah. Makanan bergizi itu sangat dibutuhkan siswa di sekolah tersebut. Ia yakin kesehatan dan prestasi siswa akan meningkat.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/06/7cee91b2a8836254a016b33c08a092f2-1000366292.jpg)
Penulis:
Fransiskus Pati HerinEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari