Program Makan Bergizi Gratis dapat menumbuhkan kebiasaan makan yang lebih sehat dan menyenangkan. Anak harus bebas dari rasa tertekan harus menghabiskan makanan.
21 Jan 2025 08:00 WIB · Opini
Pemerintah mengalokasikan anggaran lebih dari Rp 70 triliun untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa dan siswi sekolah. Asupan makanan bergizi, khususnya bagi anak yang lebih membutuhkan, diharapkan dapat meningkatkan status gizi mereka sehingga berdampak terhadap derajat kesehatan dan kualitas pembelajaran.
Jutaan ton beras, daging, telur, ikan, sayur-mayur, dan buah-buahan, demikian juga jutaan liter susu yang diberikan secara gratis setiap hari sepanjang masa sekolah diperkirakan dapat memenuhi sebagian kebutuhan gizi anak-anak tersebut. Program ini diharapkan juga membuka lapangan kerja baru terkait dengan kebutuhan pengadaan dan produksi bahan-bahan pangan, seperti beras, daging, ikan, telur, sayur-mayur, dan buah-buahan.
Demikian pula, aktivitas penyiapan dan distribusi makanan yang disajikan kepada para siswa-siswi di sekolah menyerap tenaga kerja di seluruh pelosok Tanah Air. Pemberian makanan secara gratis dapat meringankan beban finansial keluarga untuk membeli bahan bekal makanan bagi anak setiap hari.
Potensi dampak program MBG lebih dari sekadar kecukupan gizi anak sekolah. Program tersebut dapat menumbuhkan kebiasaan makan yang lebih sehat dan menyenangkan. Perilaku makan tidak hanya dipengaruhi oleh kebutuhan fisiologis, tetapi juga oleh aspek psikososial, seperti suasana hati, kebiasaan, dan norma budaya.
Makan bersama di sekolah dapat menjadikan makanan sebagai sumber kegembiraan dan menciptakan relasi yang sehat dengan makanan, selain mencukupi kebutuhan tubuh. Waktu makan bersama harus cukup longgar sehingga anak dapat menikmati makan dengan nyaman.
Perlu dibangun suasana santai, bebas dari rasa tertekan harus menghabiskan makanan. Apabila perlu, selama makan bersama di sekolah diputar iringan musik yang lembut. Warna, rasa, dan tekstur makanan harus menarik bagi anak-anak. Di sisi lain, penyebutan makanan ”baik” atau ”buruk” perlu dihindari agar tercipta hubungan yang baik antara anak dan makanan yang mereka santap.
Kecenderungan dalam pelaksanaan program MBG, penyedia makanan menyiapkan porsi dan jenis makanan yang sama bagi semua anak di suatu sekolah. Makanan katering ini seolah dipaksakan untuk dikonsumsi dan dihabiskan.
Stigma terhadap anak yang tidak menghabiskan makanan sering terjadi dalam berbagai konteks sosial dan budaya. Memaksa anak untuk selalu menghabiskan makanan dapat membuat mereka kehilangan kemampuan alami untuk mengenal sinyal lapar dan kenyang, yang bisa memicu overeating pada masa mendatang.
Sekali waktu anak-anak perlu dilibatkan dalam memilih dan menyiapkan makanan bagi mereka. Akan lebih menarik bagi anak untuk diajak mengeksplorasi rasa makanan dan apabila mungkin memodifikasi atau mengatur variasi makanan yang disantap sesuai dengan seleranya. Anak yang merasa memiliki kontrol terhadap pilihan makanan akan lebih terbuka untuk mencoba makanan baru.
Memaksa anak untuk selalu menghabiskan makanan dapat membuat mereka kehilangan kemampuan alami untuk mengenal sinyal lapar dan kenyang, yang bisa memicu overeating pada masa mendatang.
Program MBG di sekolah telah berhasil meningkatkan kemampuan akademik dan menurunkan kejadian obesitas pada anak-anak di beberapa negara maju. Di Jepang, dalam program Kyushoku, semua anak mendapat makan siang bergizi yang dirancang oleh ahli gizi.
Sebagai pelopor dalam memberikan makan siang gratis untuk semua siswa, Finlandia menekankan program makan bergizi yang mengutamakan makanan lokal dan segar. Sekolah di Swedia menyediakan makan siang gratis yang berfokus pada gizi seimbang dan pelestarian lingkungan. Menu sering kali bersifat vegetarian untuk mengurangi jejak karbon. Perancis menyediakan makan siang dengan fokus pada kualitas makanan, variasi menu, dan pengalaman kuliner.
Pendidikan bagaimana makan bersama secara sehat dapat dilakukan, misalnya untuk menerapkan berhenti makan ketika 80 persen kenyang (hara hachi bu). Anak dapat dilatih mindful eating, yakni menyantap makanan dengan perhatian penuh pada pengalaman makan, termasuk rasa, tekstur, aroma, dan sinyal lapar atau kenyang dari tubuh.
Mindful eating bertujuan menciptakan hubungan yang lebih sehat dengan makanan, mengurangi makan berlebihan, dan meningkatkan kepuasan saat makan. Dibutuhkan waktu yang lebih lambat untuk menikmati setiap suap makanan yang disantap, sehingga proses ini hanya sesekali dapat dilakukan pada program makan bersama di sekolah.
Tidak bisa dimungkiri, pada saat ini di daerah pelosok yang sepi dan tandus di Indonesia ditemukan food deserts, wilayah tanpa akses terhadap makanan yang sehat dalam jumlah cukup. Sebaliknya, di daerah perkotaan yang padat penduduk mungkin mudah dijumpai food swamps, wilayah dengan banyak makanan cepat saji, sehingga sulit menemukan menu makanan yang sehat.
Program MBG menyediakan alternatif makanan yang lebih sehat di lingkungan-lingkungan sulit tersebut. Makanan alami seperti ketela, biji-bijian, sayur, dan buah dengan kecukupan karbohidrat kompleks, protein, lemak sehat, dan serat perlu selalu menjadi pilihan. Pola makan ini tentu mengalami tantangan ketika makanan olahan yang manis, gurih, dan asin sudah membudaya.
Masih banyak tantangan yang dihadapi dalam menjaga keberlanjutan program MBG agar dapat dicapai hasil maksimal dalam meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup anak-anak pada umumnya. Anggaran yang besar untuk program ini telah menggeser alokasi-alokasi mata anggaran yang lain. Partisipasi swasta dan swadaya masyarakat dalam menggalang dana di luar APBN untuk program makan bergizi gratis dapat mendukung program tersebut untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Perlu pelatihan guru dan edukasi masyarakat bahwa pola makan dan cara makan yang baik sangat berperan dalam meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Kemampuan menyesuaikan menu makanan dengan bahan lokal yang sehat dan mudah diperoleh menjadi salah satu faktor kunci keberlanjutan program makan bergizi gratis yang menjadi prioritas pemerintah sekarang.
Hari Kusnanto, Rektor Universitas Respati Yogyakarta
Penulis:
Hari KusnantoEditor:
Yovita ArikaPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari