PEDAGOGI KRITIS

Makan Siang sebagai Kurikulum Tersembunyi

Dalam menghadapi krisis iklim dan krisis geopolitik ini, alangkah lebih baik apabila program unggulan pemerintah, yaitu MBG, berpihak pada sekolah, guru, dan siswa.

29 Mar 2026 08:00 WIB · Artikel Opini

Kompas/Heryunanto

Oleh Ardi Wina Saputra

Makan siang di sekolah tidak hanya dipahami sebagai aktivitas administratif semata, melainkan proses pembentukan kesadaran. Ada ideologi siswa yang terselip di dalamnya. Melalui makan siang, siswa tidak hanya menjadi konsumen. Siswa harus tumbuh sebagai subyek yang sadar lingkungan dan ketahanan pangan. Kesadaran ini tergolong mendesak.

Fenomena El Nino Godzila mengintai. Geopolitik sedang tidak stabil. Semua itu bermuara pada ketersediaan pangan. Pada tahap ini, program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), perlu didekonstruksi. Urgensinya bukan hanya distribusi makanan siap saji, melainkan juga upaya merekonstruksi kesadaran kritis melalui proses pembuatan hingga penyajian makan siang di sekolah.

Ruang pedagogi

Makan siang dapat bertransformasi sebagai ruang belajar. Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan, yaitu ontologis, epistemologis, dan aspek etis. Aspek ontologisnya adalah makan siang harus mampu menjadi wahana praktik sosial. Ada relasi antarmanusia, budaya, lingkungan, dan sistem ekonomi. Relasi tersebut berdampak pada proses epistemologi, yaitu proses belajar saat makan. Belajar tentang tubuh, cara makan, dan alat makan.

Pada aspek etis, murid diajak untuk memahami apa yang dimakan. Mereka diajari perihal hak atas kecukupan makanannya, hak atas kecukupan makanan orang lain, hingga kesejahteraan lingkungan dan dampak dari makanan yang mereka makan. Selain itu, pertanyaan-pertanyaan dalam aspek etis sesuai dengan konsep pembentukan kesadaran kritis dari Paulo Freire.

M Faizi melalui bukunya Merusak Bumi dari Meja Makan menyampaikan bahwa cara merusak bumi yang dilakukan oleh kaum antroposen dapat dilihat dari meja makan. Sampah plastik yang ditinggalkan, gaya hidup serakah, hingga kesadaran ekologis yang terdegradasi menjadi penyebabnya. Oleh sebab itu, aspek ontologis, epistemologis, dan etis dalam ruang pedagogis makan siang dapat mengonstruksi bumi ke arah yang lebih baik dari meja makan.

Tiga aspek pedagogis tersebut juga mengajak murid untuk menghargai kasih dalam makanan. Dalam buku Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith karya Margaret Douglas, disampaikan bahwa ibu Adam Smith menyajikan makanan untuk putranya tidak dilatarbelakangi oleh sistem ekonomi pasar, tetapi oleh kasih sayang. Penyadaran atas peran orang lain yang meluangkan waktu di dapur demi menyajikan makanan adalah bentuk penyadaran kasih. Ketika murid diajak untuk membongkar kasih yang tersembunyi dari balik meja makan, mereka juga diajak untuk menyelesaikan masalah berdasarkan kasih, bukan kekerasan.

Optimalisasi pedagogi makan siang juga dapat merujuk pada Rice and Rud dalam bukunya Educational Dimensions of School Lunch. Mereka memberikan solusi berupa foodways atau sistem praktik makan siang. Melalui skema foodways, murid diajak untuk berpikir kritis perihal apa yang dimakan, bagaimana cara makan, dengan siapa dia makan, siapa yang membuat makanan, dari mana asalnya makanan itu, hingga dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Elemen-elemen ini sering kali absen dalam proses makan siang di sekolah, padahal gagasan foodways mampu mengedukasi murid bahwa makan siang tidak sekadar nutrisi dan gizi. Banyak aspek pengetahuan lain yang komprehensif dalam makan siang di sekolah.

Ilustrasi Opini - Memantau Status Gizi Anak Sekolah sebagai Bagian dari Program MBG

Proses ini dapat terjadi apabila jam makan siang di sekolah tidak dianggap sebagai jam istirahat semata. Jam makan siang harus memiliki porsi seperti halnya jam pelajaran. Kondisi ini tentu akan memungkinkan untuk terjadinya makan pelan demi membangun relasi dan infiltrasi ideologi. Ideologi yang ditanamkan tentu ideologi cara murid makan. Cara murid makan menentukan cara murid belajar. Cara murid belajar menentukan habitus menjalankan kehidupan. Itulah sebabnya makan siang di sekolah harus mampu menjadi kurikulum tersembunyi.

Makan siang yang diaplikasikan sebagai kurikulum tersembunyi tentu berdampak baik bagi siswa. Kesehatan siswa meningkat, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mental. Prestasi akademisnya meningkat karena diajak untuk berpikir kritis dan selalu skeptis. Relasi sosialnya berlangsung amat sangat baik karena ada upaya untuk mengorganisasikan hak dan kewajiban secara komunal. Toleransi dan moderasi pun meningkat karena ada pertukaran identitas budaya saat makan siang.

Pendidikan makan siang dapat ditempuh sejak menanam. Murid diajak untuk menanam, memasak, hingga menyajikan makanannya sendiri. Tentu konsep ini didasari oleh pemikiran learning by doing yang diajarkan oleh John Dewey. Cara tersebut sebenarnya mampu untuk mengubah pola pikir murid secara mengakar dalam menghargai makanan.

Dalam menghadapi krisis iklim dan krisis geopolitik ini, alangkah lebih baik apabila program unggulan pemerintah, yaitu MBG, berpihak sepenuhnya pada sekolah, guru, dan siswa. Sekolah diberi kepercayaan untuk mengelola mulai dari pemenuhan bahan makanan hingga penyajian. Badan Gizi Nasional (BGN) memantau bukan hanya terpaku pada nutrisi, tetapi aspek pedagogis sudah berjalan optimal di setiap sekolah. Dengan demikian, sekolah berfungsi sebagai ekosistem kehidupan dan guru menjadi fasilitator pengalaman hidup. Ujung pangkalnya, muridlah yang memanen manfaatnya melalui makan siang di sekolah.

Ardi Wina Saputra Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya


Kerabat Kerja

Penulis:

Ardi Wina Saputra
 | 

Editor:

Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul