KETENAGAKERJAAN

Makna Bekerja di Tengah Perubahan Pasar Kerja

Bekerja seharusnya memberi ruang untuk membangun kehidupan yang lebih stabil, merencanakan masa depan, dan menjalani hari-hari dengan rasa aman.

12 Apr 2026 14:00 WIB · Artikel Opini

Kompas/Supriyanto

Oleh Lili Retnosari

Perkembangan ketenagakerjaan Indonesia menunjukkan arah yang semakin membaik. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada November 2025, tingkat pengangguran terbuka (TPT) turun menjadi 4,74 persen atau sekitar 7,35 juta orang. Pada saat yang sama, jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 147,91 juta orang, seiring naiknya tingkat partisipasi angkatan kerja yang mencapai 70,95 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa pasar kerja semakin menyerap tenaga kerja dan melibatkan lebih banyak penduduk usia kerja dalam kegiatan ekonomi.

Penurunan pengangguran dan peningkatan jumlah orang bekerja tentu merupakan capaian penting. Namun, indikator ketenagakerjaan tidak berhenti pada pertanyaan apakah seseorang bekerja atau tidak. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah bagaimana kualitas pekerjaan tersebut dan sejauh mana pekerjaan mampu memberikan ketahanan ekonomi bagi rumah tangga pekerja.

Struktur lapangan usaha memberi petunjuk awal. Pada November 2025, lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menyerap hampir 28 persen tenaga kerja nasional, diikuti oleh perdagangan besar dan eceran serta industri pengolahan. Komposisi ini menunjukkan bahwa pertambahan kesempatan kerja masih bertumpu pada sektor-sektor yang relatif mudah dimasuki, tetapi dengan tingkat produktivitas dan stabilitas pendapatan yang beragam.

Gambaran tersebut semakin jelas ketika melihat status pekerjaan. BPS mencatat bahwa sekitar 57,7 persen penduduk bekerja masih berada di sektor informal. Artinya, lebih dari separuh pekerja Indonesia bekerja tanpa kepastian kontrak, tanpa jaminan kesinambungan pendapatan, dan tanpa perlindungan sosial yang memadai. Dalam kondisi seperti ini, perbaikan TPT tidak selalu sejalan dengan peningkatan rasa aman secara ekonomi di tingkat rumah tangga.

Dimensi lain yang tak kalah penting adalah jam kerja. Pada November 2025, sekitar 32,06 persen penduduk bekerja tergolong pekerja tidak penuh, yang terdiri dari pekerja paruh waktu dan setengah penganggur. Proporsi ini memang menurun dibandingkan dengan periode sebelumnya, tetapi secara absolut tetap menunjukkan puluhan juta orang yang bekerja dengan jam kerja belum optimal. Secara statistik mereka tercatat bekerja, tetapi intensitas kerja yang terbatas membuat pendapatan yang dihasilkan rentan terhadap fluktuasi.

Upah menjadi cermin berikutnya. Rata-rata upah buruh nasional pada November 2025 tercatat sekitar Rp 3,33 juta per bulan. Angka ini menggambarkan posisi rata-rata upah buruh secara nasional. Namun, rata-rata tersebut kerap menyembunyikan variasi yang lebar antarsektor dan antardaerah. Bagi banyak rumah tangga, terutama yang bergantung pada satu sumber pendapatan, ruang aman antara pendapatan dan kebutuhan rutin masih relatif sempit. Kenaikan harga pangan, transportasi, atau berkurangnya jam kerja dapat dengan cepat mengganggu keseimbangan ekonomi rumah tangga.

Dalam situasi seperti ini, ketahanan ekonomi rumah tangga pekerja tidak hanya ditentukan oleh besaran pendapatan, tetapi juga oleh kepastian dan kontinuitasnya. Pekerjaan dengan penghasilan yang fluktuatif, jam kerja yang berubah-ubah, atau tanpa jaminan keberlanjutan membuat perencanaan keuangan jangka menengah menjadi sulit dilakukan. Menabung, berinvestasi pada pendidikan anak, atau menyiapkan dana darurat kerap harus dikorbankan demi memenuhi kebutuhan harian. Akibatnya, banyak rumah tangga pekerja berada dalam kondisi yang tampak stabil di permukaan, tetapi rapuh ketika menghadapi guncangan kecil. Dalam konteks ini, pekerjaan belum sepenuhnya berfungsi sebagai alat perlindungan sosial yang efektif. Ia memang memberi penghasilan, tetapi belum selalu memberi kepastian.

Di titik inilah penting untuk membaca ketenagakerjaan secara lebih utuh. Penurunan pengangguran menunjukkan bahwa kesempatan kerja tersedia dan diakses oleh semakin banyak orang. Namun, struktur pekerjaan yang didominasi informalitas, jam kerja tidak penuh, dan sektor berproduktivitas relatif rendah membatasi kemampuan pekerjaan tersebut untuk menjadi penopang kesejahteraan jangka panjang.

Perubahan dinamika wilayah turut memperkuat gambaran ini. Di perdesaan, pertanian tetap menjadi tumpuan utama, dengan karakter pekerjaan yang sangat bergantung pada musim dan harga komoditas. Di perkotaan, peluang kerja lebih beragam, tetapi tekanan biaya hidup juga lebih besar. Akibatnya, sebagian pekerja berada pada posisi yang rapuh, bekerja secara aktif, tetapi dengan kapasitas menabung yang terbatas dan ketergantungan tinggi pada stabilitas pendapatan bulanan.

Situasi ini menjelaskan mengapa sebagian rumah tangga pekerja masih berada sangat dekat dengan batas kerentanan. Banyak yang bertahan melalui strategi penyesuaian seperti menambah jam kerja ketika ada kesempatan, mengambil pekerjaan tambahan, atau menekan konsumsi non-esensial. Strategi ini efektif untuk menjaga keberlangsungan dalam jangka pendek, tetapi tidak selalu menciptakan fondasi yang kokoh untuk mobilitas kesejahteraan.

-

Perlu ditekankan bahwa kondisi tersebut bukan semata-mata cerminan pilihan individu. Ia merupakan hasil dari struktur pasar kerja yang masih dalam proses transisi. Selama beberapa dekade, penciptaan kerja di Indonesia berhasil menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, tetapi peningkatan kualitas pekerjaan berjalan lebih lambat. Tantangan ini menjadi semakin relevan ketika perekonomian menghadapi tekanan biaya hidup dan ketidakpastian global.

Dalam konteks pembangunan, keberhasilan ketenagakerjaan sering kali diukur melalui indikator agregat seperti TPT dan jumlah penduduk bekerja. Indikator-indikator ini penting dan harus terus dijaga. Namun, ketika struktur pekerjaan belum sepenuhnya mendukung ketahanan pendapatan, capaian tersebut perlu dilengkapi dengan pembacaan yang lebih mendalam tentang kualitas kerja.

Ke depan, peningkatan produktivitas menjadi kata kunci. Di sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja besar, peningkatan produktivitas tidak hanya berarti adopsi teknologi, tetapi juga perbaikan akses terhadap modal, pasar, dan keterampilan. Transformasi ini akan menentukan apakah pekerjaan yang ada mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi dan pendapatan yang lebih stabil.

Formalisasi pekerjaan juga memiliki peran strategis. Peralihan dari pekerjaan informal ke formal bukan proses yang instan, tetapi setiap langkah kecil, mulai dari penyederhanaan perizinan usaha, peningkatan kepatuhan, hingga perluasan jangkauan perlindungan sosial akan memperkuat fondasi pasar kerja. Ketika perlindungan dasar tersedia, pekerja dan pelaku usaha memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas tanpa dibayangi risiko kehilangan keamanan ekonomi.

Pada saat yang sama, sistem perlindungan sosial perlu terus beradaptasi dengan karakter pasar kerja. Dalam struktur ketenagakerjaan yang masih didominasi informalitas dan fluktuasi jam kerja, perlindungan sosial berfungsi sebagai penyangga penting. Ia membantu menjaga kesinambungan konsumsi rumah tangga dan memberi waktu bagi pekerja untuk menyesuaikan diri ketika terjadi perubahan kondisi kerja.

Semua ini menunjukkan bahwa tantangan ketenagakerjaan Indonesia telah bergeser. Persoalan utama bukan lagi semata-mata menciptakan pekerjaan, tetapi memastikan bahwa pekerjaan tersebut cukup kuat untuk menopang kehidupan. Dengan kata lain, bekerja perlu kembali menjadi jalan yang masuk akal menuju rasa aman dan perbaikan kesejahteraan.

Makna bekerja tidak berhenti pada status seseorang sebagai bagian dari pasar kerja. Bekerja seharusnya memberi ruang untuk membangun kehidupan yang lebih stabil, merencanakan masa depan, dan menjalani hari-hari dengan rasa aman. Ketika pekerjaan mampu memenuhi fungsi tersebut, kerja tidak sekadar menjadi aktivitas ekonomi, tetapi juga sarana bagi tumbuhnya kepercayaan dan martabat. Di situlah arah pembangunan ketenagakerjaan perlu terus dituju, memastikan bahwa kerja tetap menjadi pijakan yang kokoh bagi kehidupan yang lebih baik.

Lili Retnosari Statistisi; Pemerhati Isu Sosial Ekonomi


Kerabat Kerja

Penulis:

Lili Retnosari
 | 

Editor:

Johanes Waskita Utama
 | 

Penyelaras Bahasa:

Didik Durianto