Malam Lebih Bermakna Saat Perpustakaan Jakarta Buka Lebih Lama

Kebijakan perpanjangan jam operasional perpustakaan di Jakarta hingga pukul 22.00 WIB memberikan peluang lebih bagi warga untuk memanfaatkan fasilitas literasi.

06 Mei 2025 19:12 WIB · Metro

Oleh Atiek Ishlahiyah Al Hamasy

Perpanjangan jam operasional perpustakaan di Jakarta hingga pukul 22.00 WIB disambut positif oleh warga, terutama pelajar dan pekerja yang kesulitan memanfaatkan waktu di siang hari. Kebijakan ini memberikan kesempatan lebih bagi mereka untuk mengakses fasilitas literasi di luar jam sibuk.

Pada Selasa (6/5/2025) pukul 15.00, Perpustakaan Cikini di Jakarta Pusat dipadati pengunjung yang memanfaatkan waktu sore untuk menyelami dunia literasi. Terletak di kawasan Taman Ismail Marzuki, perpustakaan ini telah menjadi tempat favorit bagi pelajar, mahasiswa, dan pekerja yang mencari ketenangan untuk membaca atau menyelesaikan tugas.

Di lantai 3 dan 4 perpustakaan, rak-rak buku tertata rapi, mengundang pengunjung untuk mencari bahan bacaan yang mereka butuhkan. Sejumlah pengunjung memilih fokus membaca di bangku dan meja yang disediakan. Sementara yang lain menikmati kenyamanan suasana santai di area lesehan, sambil menikmati pemandangan luas melalui jendela besar yang menghadap ke luar.

Biasanya, Perpustakaan Cikini akan tutup untuk pengunjung pada pukul 17.00. Namun, sejak dua minggu terakhir, perpustakaan ini mulai beroperasi lebih lama, hingga pukul 22.00. Langkah ini bertujuan memberikan lebih banyak waktu bagi warga Jakarta untuk memanfaatkan fasilitas literasi tanpa terburu-buru.

Keputusan ini disambut baik oleh banyak pengunjung, terutama bagi mereka yang memiliki rutinitas padat di siang hari, seperti Aurelia Yunita (20), mahasiswa asal Jakarta Pusat.

Aurelia duduk di salah satu bangku paling ujung. Buku tebal di sampingnya terbuka lebar, sementara ia sibuk mencatat poin-poin penting untuk tugas kuliah.

”Saya merasa senang dengan perpanjangan jam operasional ini. Sebagai mahasiswa, saya sering kali hanya punya waktu untuk belajar setelah kuliah. Dengan jam buka yang lebih panjang, saya bisa leluasa membaca dan menyelesaikan tugas tanpa terburu-buru,” ujarnya.

Sejumlah warga menikmati sore di Perpustakaan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (6/5/2025).

Sebagai mahasiswa jurusan sejarah, Aurelia sering kali mencari referensi yang lebih mendalam untuk penelitian dan tugas kuliah. Di perpustakaan ini, ia merasa menemukan apa yang dicari. Koleksi buku yang beragam dan lebih lengkap dibandingkan yang ada di kampus membuatnya memilih untuk belajar di sini.

”Di sini, saya merasa lebih produktif. Buku-buku yang ada lebih lengkap daripada yang tersedia di kampus, jadi saya bisa menemukan lebih banyak referensi untuk tugas atau penelitian saya,” kata Aurelia.

Tidak hanya koleksi bukunya yang mengesankan, Perpustakaan Cikini juga menawarkan fasilitas modern yang membuat pengunjung betah berlama-lama. Ruang diskusi yang nyaman, ruang komputer untuk mencari informasi, dan area baca yang tenang menjadikannya tempat yang ideal untuk belajar.

Pencahayaan alami yang masuk melalui jendela besar juga menambah kenyamanan, menciptakan suasana yang kondusif untuk berkonsentrasi. Aurelia merasa bahwa perpustakaan ini bukan sekadar tempat untuk membaca buku, tetapi juga ruang yang mendukung proses belajarnya.

Perpanjangan jam operasional perpustakaan di Jakarta juga mendapat respons positif dari Rudi Chairul (26), seorang karyawan swasta yang bekerja di Jakarta Selatan. Bagi Rudi, perpanjangan jam operasional ini memberikan kesempatan berharga untuk memanfaatkan waktu luang setelah jam kerja.

”Jam kerja saya sering kali berakhir setelah pukul lima sore, dan biasanya banyak waktu yang terbuang begitu saja. Dengan adanya perpanjangan jam buka perpustakaan hingga pukul 10 malam, saya bisa memanfaatkan waktu luang saya untuk membaca atau mencari referensi tambahan untuk pekerjaan,” ujar Rudi.

Rudi yang bekerja di sebuah perusahaan marketing ini mengatakan bahwa selama ini ia kesulitan mencari waktu untuk belajar atau menambah wawasan setelah seharian bekerja. Namun, dengan adanya perpanjangan jam operasional di perpustakaan, ia merasa sangat terbantu.

Menurut Rudi, kebijakan ini tidak hanya bermanfaat untuk dirinya, tetapi juga untuk banyak warga Jakarta lainnya yang memiliki kesibukan di siang hari. Ia berharap kebijakan ini dapat terus berlanjut dan bahkan diperluas ke fasilitas publik lainnya.

Pengunjung bekerja menggunakan laptop di Perpustakaan Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (15/7/2023). Desain Perpustakaan Jakarta Cikini yang modern dan minimalis menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk berkunjung. Selain suasana yang nyaman dan tenang, pengunjung juga dimanjakan dengan koleksi sekitar 190.000 eksemplar buku yang terdiri dari koleksi anak, koleksi umum, koleksi referensi, dan koleksi deposit. KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA) 15-07-2023

Uji coba

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) DKI Jakarta Syaefuloh Hidayat mengatakan, pihaknya tengah melakukan uji coba perpanjangan jam operasional di Perpustakaan Cikini dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, dari sebelumnya yang hanya buka hingga pukul 17.00, kini diperpanjang hingga pukul 22.00.

Uji coba yang telah berlangsung selama dua minggu ini bertujuan untuk memberikan lebih banyak akses kepada masyarakat untuk mengakses ruang-ruang literasi di Jakarta.

Kebijakan perpanjangan jam operasional ini merupakan arahan langsung dari Gubernur Jakarta Pramono Anung. Hal ini sebagai bagian dari upaya untuk menjadikan Jakarta lebih inklusif dan memberikan kesempatan lebih besar bagi warga untuk mengakses fasilitas literasi dan budaya, terutama di sore hingga malam hari.

”Kami berharap kebijakan ini dapat memfasilitasi warga Jakarta yang membutuhkan waktu lebih untuk mengunjungi perpustakaan setelah jam kerja atau sekolah,” ujar Syaefuloh.

Uji coba ini direncanakan akan dilakukan bertahap, dimulai dengan Perpustakaan Cikini dan Pusat Dokumen Sastra HB Jassin, dan selanjutnya diperluas ke perpustakaan-perpustakaan lain yang dikelola oleh Pemprov Jakarta.

Syaefuloh menambahkan, meskipun tujuan utama adalah meningkatkan akses, pihaknya tetap akan mempertimbangkan kesiapan fasilitas dan sumber daya manusia (SDM) yang ada untuk mendukung perpanjangan jam operasional perpustakaan.

”Kami sedang menyesuaikan sistem sif bagi petugas dan terus memantau respons masyarakat untuk memastikan kebijakan ini berjalan dengan baik,” ujarnya.

Warga menikmati sore di Perpustakaan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (6/5/2025).

Berdasarkan data dari Dispusip DKI Jakarta, kunjungan ke Perpustakaan Cikini pada akhir pekan bisa mencapai lebih dari 3.500 orang, mencerminkan antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap fasilitas ini. Hal ini, menurut Syaefuloh, didorong pula oleh dukungan yang besar di media sosial, yang menunjukkan bahwa masyarakat Jakarta sangat mendambakan ruang publik yang bisa diakses lebih fleksibel.

Lebih jauh, Syaefuloh menjelaskan bahwa perpustakaan bukan hanya tempat untuk meminjam atau membaca buku, tetapi juga ruang publik yang mendukung interaksi sosial, edukasi, dan ekspresi seni.

”Perpustakaan juga menjadi tempat untuk diskusi, pelatihan menulis, storytelling anak-anak, hingga pameran karya siswa. Kami ingin menjadikan Jakarta sebagai kota literasi menuju kota global,” katanya.

Dispusip Jakarta menargetkan agar seluruh perpustakaan yang dikelolanya dapat beroperasi hingga pukul 22.00 setiap hari. Dengan perpanjangan jam operasional ini, diharapkan masyarakat Jakarta, khususnya pelajar, mahasiswa, dan pekerja, dapat memanfaatkan perpustakaan dengan lebih fleksibel.

”Kami ingin memberikan layanan terbaik kepada masyarakat, dari Senin hingga Minggu, dengan memastikan bahwa kebutuhan dan kesiapan fasilitas tetap menjadi prioritas utama,” tutur Syaefuloh.


Kerabat Kerja

Penulis:

Atiek Ishlahiyah Al Hamasy
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Rosdiana Sitompul