Program percepatan penurunan ”stunting” tidak akan memberikan hasil optimal sepanjang persoalan malaria di wilayah mereka tinggal tidak bisa dikendalikan.
23 Apr 2025 05:56 WIB · Humaniora
Sebanyak 92 persen kasus malaria berasal dari Tanah Papua yang jumlah penduduknya hanya 2 persen dari populasi Indonesia.
Wilayah endemis tinggi malaria umumnya merupakan daerah dengan prevalensi stunting tinggi. Karena itu, malaria dan stunting sama-sama menjadi beban kesehatan masyarakat. Malaria tidak akan optimal diatasi tanpa memperbaiki status gizi masyarakat, sebaliknya stunting juga tidak akan bisa dicegah tanpa penanganan malaria yang baik.
Indonesia merupakan salah satu negara endemis malaria. Jumlah kasus malaria memang terus ditekan, tetapi penurunannya relatif lambat. Pada 2010 ada 464.764 kasus malaria. Jumlah kasus itu pada 2023 hanya turun 10 persen dalam waktu lebih dari satu dekade menjadi 418.546 kasus.
Meski demikian, sebanyak 92 persen kasus malaria berasal dari Tanah Papua yang jumlah penduduknya hanya 2 persen dari populasi Indonesia. Hingga Juni 2024, baru 5 dari 38 provinsi yang mendapatkan sertifikat eliminasi malaria, yaitu Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Bali. Adapun 23 persen atau 116 dari 514 kabupaten/kota di Indonesia belum dinyatakan bebas malaria.
Seperti tertulis dalam Peta Jalan Eliminasi Malaria dan Pencegahan Penularan Kembali di Indonesia Tahun 2025-2045, lambatnya penurunan jumlah kasus malaria menunjukkan intervensi yang dilakukan belum cukup efektif. Bahkan, gangguan layanan kesehatan dasar selama pandemi Covid-19 justru membuat kasus malaria kembali naik.
Indonesia menargetkan bebas dari malaria pada 2030. Namun, target itu tidak mudah meski juga bukan hal yang mustahil. Tantangan utama pemberantasan malaria di Indonesia adalah masih adanya wilayah endemis tinggi malaria dengan kondisi permukiman dan lingkungan yang memudahkan perkembangan nyamuk yang menyebarkan malaria. Kondisi permukiman dan lingkungan di daerah endemis itu memiliki banyak genangan air sehingga makin memudahkan nyamuk berkembang biak.
Malaria disebabkan parasit plasmodium yang disebarkan oleh nyamuk Anopheles betina. Nyamuk ini tumbuh dan berkembang di lingkungan beriklim tropis dan subtropis dengan ketinggian kurang dari 1.500 meter di atas permukaan laut. Pergerakan penduduk membuat penyakit ini rentan menyebar ke wilayah-wilayah non-endemis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/23/a58f634ce6e76e7ca5db9b8fd2e2b303-250422_daerah_endemis_malaria.jpg)
Penyakit kuno ini sudah ditemukan sejak tahun 2700 sebelum Masehi (SM) di China, muncul di Mesopotamia atau wilayah Irak sekarang pada tahun 2000 SM, dan Mesir kuno pada 1570 SM. Di era modern, Eropa dan Amerika Utara juga pernah menjadi wilayah endemis malaria, tetapi berhasil dieradikasi di Eropa pada 1975 dan 1950-an di Amerika Serikat.
Sementara di Indonesia, khususnya di wilayah timur, saking lamanya penyakit infeksi ini dieliminasi mmebuat masyarakat cenderung menganggap malaria sebagai penyakit biasa. Mereka enggan mencari pengobatan di layanan kesehatan, tidak minum obat, hingga akhirnya pengobatan malaria tidak tuntas dan mudah kambuh.
Selain itu, penemuan malaria di daerah endemis rendah ataupun di daerah yang sudah dinyatakan bebas malaria, terutama di kota-kota besar di Jawa, juga menjadi tantangan tersendiri. Saking jarangnya penyakit ini ditemukan membuat tenaga kesehatan pun kesulitan mendeteksi penyakit ini sejak dini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/01/26/bd63e923-f7ee-4d34-ac34-1625689f9c22.jpg)
Penderita malaria di daerah ini umumnya terjangkit saat mereka baru pulang berkunjung di wilayah endemis malaria. Selain mobilitas penduduk, perubahan tata guna lahan yang makin masif, dari hutan dan kebun menjadi permukiman, membuat risiko penularan kembali malaria pun meningkat.
Selain Tanah Papua, wilayah yang juga perlu mendapatkan perhatian serius dalam akselerasi penanganan malaria karena termasuk daerah endemis tinggi adalah Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, yang ada di dekat wilayah calon Ibu Kota Nusantara.
Sementara itu, data Survei Status Gizi Indonesia 2022 menyebut prevalensi stunting tertinggi di Indonesia dipegang NTT sebesar 35,3 persen dan Papua (termasuk Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan) di ranking ketiga dengan angka 34,6 persen. Papua Barat (termasuk Papua Barat Daya) ada di peringkat ke-6 dengan prevalensi 30 persen.
Malaria juga bisa memperburuk kondisi kekurangan gizi pada anak.
Sementara prevalensi stunting nasional di tahun yang sama hanya 21,6 persen. Adapun semua provinsi yang bebas malaria memiliki tingkat stunting lebih lebih rendah dari rata-rata nasional. Bahkan, prevalensi stunting terendah peringkat ke-1 dan ke-2 diduduki Bali dan DKI Jakarta yang sama-sama sudah berhasil mengeliminasi malaria.
Stunting adalah kondisi kurang gizi kronis akibat asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Gangguan ini bisa terjadi sejak anak dalam kandungan ibu dan biasanya baru muncul gejalanya saat anak berumur dua tahun. Kekurangan gizi kronis pada 1.000 hari pertama kehidupan bisa membuat tubuh anak pendek, otak dan kemampuan kognitifnya tidak berkembang, hingga rentan menderita berbagai penyakit degeneratif saat dewasa.
Masalahnya, malaria juga bisa memperburuk kondisi kekurangan gizi pada anak. Saat terkena malaria, asupan makanan pada anak menjadi terganggu, menghambat penyerapan nutrisi, dan meningkatkan kebutuhan metabolisme tubuhnya selama infeksi. Studi AH Shankar di The Journal of Infectious Diseases, September 2000, menunjukkan angka kesakitan dan kematian akibat malaria lebih tinggi 3,5 kali pada anak yang mengalami kurang gizi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/20/ab2fff69-d7fb-4b98-b6ed-92decdbd3343.jpg)
Selain itu, malaria juga menjadi kontributor utama anemia di Papua. Padahal, anemia pada ibu hamil dapat menyebabkan berbagai komplikasi kehamilan dan persalinan, bayi lahir dengan berat badan rendah alias kelahiran prematur, hingga janin berisiko mengalami gangguan pertumbuhan fisik ataupun kognitif atau stunting. Untuk mencegah anemia itu, ibu hamil dan remaja putri perlu rajin mengonsumsi tablet tambah darah atau tablet zat besi.
Kondisi itu akan semakin bertambah parah jika anak juga mengalami infeksi penyakit lain selain malaria, seperti infeksi usus atau diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Selain rawan kekurangan gizi, anak balita juga rentan menderita berbagai penyakit infeksi akibat imunitas tubuhnya belum sempurna. Berbagai penyakit infeksi itu dipastikan akan menurunkan nafsu makan anak sehingga mereka makin rentan mengalami kekurangan gizi.
Keterkaitan antara malaria dan stunting itu membuat upaya percepatan penurunan stunting yang menjadi prioritas nasional akan sulit berhasil jika penyebaran malaria di wilayah tersebut tidak dikendalikan. Sebaliknya, seperti studi YH Hhera dan rekan di medRxiv, 4 Januari 2024, yang belum ditinjau sejawat, penanganan malaria saja tanpa memperbaiki gizi masyarakat juga tidak akan memberikan hasil optimal.
Upaya mengeliminasi malaria di berbagai wilayah endemis di Indonesia perlu berjalan bersama dengan usaha mempercepat penurunan prevalensi anak stunting.
Studi anak-anak di wilayah Sub-Sahara Afrika dan Amazon Amerika Latin menunjukkan bahwa anak-anak dengan gizi kurang, khususnya anak balita, lebih rentan mengalami malaria. Sebaliknya, infeksi malaria yang berulang membuat populasi yang terkena malaria juga cenderung mengalami malanutrisi.
Karena itu, dalam peringatan Hari Malaria Dunia 25 April 2025, upaya mengeliminasi malaria di berbagai wilayah endemis di Indonesia perlu berjalan bersama dengan usaha mempercepat penurunan prevalensi anak stunting. Menciptakan lingkungan yang sehat dengan sanitasi dan higienitas yang baik tidak hanya bisa mencegah stunting, tetapi juga menghambat penyebaran malaria.
Jika beban ganda kesehatan akibat malaria dan malanutrisi itu bisa ditekan, maka mereka bisa memiliki kualitas kesehatan dan kesejahteraan yang lebih baik. Dengan kualitas hidup yang membaik, mereka pun punya kesempatan untuk memimpikan masa depan yang sama seperti saudara-saudara mereka di Indonesia barat.
Penulis:
M Zaid WahyudiEditor:
Nasrullah NaraPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto