Catatan Bola Sindhunata: Manchester United Gelap

Krisis terus mendera Manchester United sepeninggal Pelatih Alex Ferguson. Mengapa mereka begitu sulit untuk keluar dari kegelapan?

13 Mar 2025 04:00 WIB · Opini

Oleh Sindhunata, wartawan

Krisis. Itulah petaka yang sedang menimpa klub bola Manchester United. Sampai tahun 2013, bersama Sir Alex Ferguson, MU adalah klub bola yang menggetarkan dan mengagumkan dunia. MU identik dengan juara, dalam laga apa pun.

Tak terbayangkan, bagaimana mungkin klub yang demikian raksasa, dan selalu menjadi raja di Liga Premier, kompetisi bola paling bergengsi di dunia, terus nyungsep ke dalam krisis? Lebih-lebih, bagaimana mungkin klub seraksasa itu tidak bisa segera bangkit dari krisisnya, malah sebaliknya makin terbenam dalam krisis yang tiada habis?

Target MU sekarang seakan hanya target klub medioker, yang baru saja promosi dari divisi Champhionship, dan kemudian di Liga Premier berjuang mati-matian untuk asal tidak melorot ke jurang degradasi. Dengan target asal selamat ini, MU seakan menghilangkan jejak sejarahnya sebagai klub yang senantiasa bertengger di papan atas kasta sepak bola Inggris itu.

”Tiap Minggu selalu datang schock yang baru pada MU,” kata mantan pemain dan pakar Premier League, Rene Adler, dalam siaran analisis bola ZDF. Benar, schock terbaru adalah hasil di Old Trafford, Senin (10/3/2025) dini hari WIB. MU berharap menang. Namun, ternyata di kandangnya sendiri, mereka hanya berhasil menahan imbang tamunya, Arsenal, 1-1. Old Trafford tak lagi menjadi kandang yang angker dan menakutkan bagi lawan-lawan MU.

Sejak Freguson mundur, silih berganti pelatih didatangkan. David Moyes, Ryan Giggs (interim), Louis van Gaal, José Mourinho, Ole Gunnar Solskjær, Michael Carrick (interim), Ralf Rangnick, Erik ten Hag, Ruud van Nistelrooy (interim). Semuanya gagal menyalakan harapan.

Terakhir, harapan itu diletakkan pada pundak Ruben Amorim. Tak juga ia menunjukkan mampu membawa MU keluar dari kegelapan. Malah setelah ditekuk Brighton, 1-3, Januari lalu, Amorim pun sambat, ”Mungkin, kami adalah tim terjelek dalam sejarah Manchester United.”

Manchester United's Bruno Fernandes leaves the pitch after the English Premier League soccer match between Manchester United and Arsenal at Old Trafford stadium in Manchester, England, Sunday, March 9, 2025. (AP Photo/Dave Thompson)

Ketika gelap melanda, segala langkah jadinya hanya salah. Uang mungkin ada, tetapi transfer pemainnya yang salah. Seperti dituturkan Mark Ogden dalam analisisnya di ESPN, sejak awal musim 2019-2020, MU menghabiskan 776,2 juta pound sterling untuk transfer pemain. Yang ditaksir Jude Bellingham, tetapi dapatnya Donny van de Beek. Atau Declan Rice, dapatnya Casemiro. Dan, maunya Erling Haaland, yang diperoleh Odion Ighalo.

Mirip dengan kisah beberapa tahun sebelumnya. Tahun 2017, José Mourinho ngebet untuk memboyong Virgil van Dijk dari Southampton. Entah bagaimana juntrungannya, ternyata pemain baru yang menandatangani kontrak pada saat itu adalah Victor Lindelöf. Begitulah, kalau situasi lagi gelap, memilih dan memperoleh pemain pun jadi keliru.

Dalam hal transfer pemain, MU terlihat kalah cepat dan cerdik dibandingkan Chelsea, Liverpool, dan Manchester City. MU tampak puas-puas saja dengan pemain-pemain lamanya. Ini memberi kesan seakan MU membiarkan pemainnya tinggal di zona nyaman di Old Trafford. Padahal, dalam persaingan Liga Inggris yang demikian tinggi dan keras, siapa puas dengan zona nyaman, dia pasti akan ketinggalan.

Di bawah manajer legendaris Sir Alex Ferguson, dari tahun 1986 hingga 2013, MU menjadi kekuatan sepak bola dunia, dengan 13 gelar juara, dua gelar Liga Champions. Mereka makin bersinar karena pemain bintangnya, seperti Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, dan David Beckham.

Kata wartawan Raphael Honigstein, praktis Ferguson menjadi penguasa tunggal di MU. Rasanya, ia tidak memerlukan atau mengizinkan ada pakar bola lain berada di sampingnya, apalagi di atasnya. Apa yang ditinggalkan Ferguson adalah kejayaan. Namun, kejayaan itu akan cepat ambruk jika tak disertai penyangga strukturalnya. Struktur itulah yang tidak ada pada MU sekarang.

Bisa saja struktur itu dulu ada, tetapi rapuh karena hanya tergantung pada kehebatan otokrasi Ferguson. Begitu kekuasaan Ferguson pergi, otokrasinya ikut hilang, sementara tak ada struktur ideal yang menyangganya. Akibatnya, MU pun terjerembab ke dalam gelapnya krisis.

Manchester United's Scottish former manager Alex Ferguson (R) is seen in the crowd during the English FA Cup third round football match between Manchester United and Reading at Old Trafford in Manchester, north west England, on January 5, 2019. (Photo by Oli SCARFF / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Secara finansial, MU juga kedodoran. Malah mungkin salah urus dalam hal manajemennya. Sejak musim 2013/2014, MU mengalami defisit transfer sebesar 1,46 miliar euro. Kesulitan finansial itulah antara lain alasan mengapa mereka meniadakan makan siang gratis bagi karyawannya. Tidak hanya itu, mereka bahkan mem-PHK 200 karyawannya.

Krisis di tubuh MU kiranya boleh menjadi alasan buat kita boleh memahami ulasan Prof Daniel Innerarity tentang apa sesungguhnya krisis itu. Innerarity adalah esais dan profesor yang mengajar filsafat sosial politik di Universitas Basque Country dan Ikerbasque Foundation for Science, Spanyol.

Menurut Innerarity, krisis adalah momen spesifik dan sementara, di mana sebuah institusi memutuskan untuk mempertahankan survival-nya. Institusi itu bisa mengambil langkah, atau meniadakan apa yang menyebabkan krisis, atau mengusahakan pemulihan agar bisa kembali ke keadaan semula, atau membuat perubahan demi survival ke depan.

Di samping karena kelemahan institusi, krisis itu terutama dikarenakan oleh faktor dari luar, misalnya bencana alam atau epidemi. Untuk bangkit dari krisis semacam ini, kemungkinannya ada, dan peluangnya relatif besar.

Akan tetapi, kata Innerarity, lebih dari pada krisis temporer itu, ada krisis yang jauh lebih kompleks. Lain dengan krisis di atas yang temporal, dan lebih eksternal penyebabnya, krisis yang terakhir ini sebenarnya tidak lagi bisa disebut krisis. Krisis sedemikian ini yang kini menimpa kebanyakan masyarakat-masyarakat dan negara-negara dunia.

Dengan pengertian yang kedua itu, ia menjelaskan, jika sebuah masyarakat dilanda krisis, maksudnya bukanlah bahwa masyarakat itu sedang ada dalam krisis atau ketularan krisis, melainkan bahwa masyarakat itu sendiri adalah krisis yang menularkan krisis. Krisis macam ini tidaklah temporer, tetapi nyaris permanen.

Manchester United's Dutch striker #11 Joshua Zirkzee (L) reacts to a missed chance during the English Premier League football match between Manchester United and Arsenal at Old Trafford in Manchester, north west England, on March 9, 2025. (Photo by Paul ELLIS / AFP) / RESTRICTED TO EDITORIAL USE. No use with unauthorized audio, video, data, fixture lists, club/league logos or 'live' services. Online in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No video emulation. Social media in-match use limited to 120 images. An additional 40 images may be used in extra time. No use in betting publications, games or single club/league/player publications. /

Memberantasnya tidak mudah, malah merebaknya bisa luar biasa cepatnya. Maklum, krisis itu bukanlah ”virus” dari luar yang sedang menghinggapi masyarakat, melainkan masyarakat itu sendirilah virus yang menyebarkannya.

Masyarakat yang sedang dilanda krisis demikian sebenarnya tidak sedang ditantang untuk menghadapi penyebab krisis dari luar, tetapi untuk mengatasi ”penyakit” yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Dengan kata lain, problemnya bukanlah ”datang dari luar”, problemnya adalah masyarakat itu sendiri.

Dalam krisis semacam ini, kita mudah sekali terjerumus ke dalam solusi serampangan. Semboyan ”kembali ke yang lama atau melanjutkan yang sebelum ini” hanya akan menjungkalkan kita ke dalam krisis lebih dalam. Sebab, ”yang lama dan yang sebelum ini” justru adalah bagian atau malah ”virus” yang mengakibatkan krisis sekarang.

Dalam keadaan demikian, kita mesti menjauhi kata normalitas, atau malah mungkin stabilitas. Sesungguhnya, normalitas dan stabilitas itu sudah tergerus oleh krisis dan, kalau keduanya musnah, artinya memang keduanya tidaklah kuat menanggung krisis. Maka, apa gunanya itu dicari kembali, dipertahankan, dan dilanjutkan. Yang perlu justru dibuat adalah melakukan perubahan transformatif dan perubahan the way of life secara radikal dan besar-besaran.

Berhadapan dengan tantangan itu, sistem seperti otokrasi atau oligarki hanya akan menyengsarakan orang untuk makin tenggelam dalam krisis. Tantangan transformatif dan perubahan the way of life itu hanya akan tercapai apabila seluruh elemen masyarakat disertakan dalam suatu proses yang demokratis. Apa yang akan terjadi dan bagaimana solusinya, itulah yang harus dipikirkan bersama-sama.

Manchester United's head coach Ruben Amorim reacts during the English Premier League soccer match between Ipswich Town and Manchester United at Portman Road stadium in Ipswich, England, Sunday, Nov. 24, 2024. (AP Photo/Dave Shopland)

Kita tidak tahu klub bola Manchester United sebagai lembaga sedang menderita krisis dalam arti pertama atau kedua. Kalau mengingat sudah bertahun-tahun mereka tidak bisa keluar dari krisis, jangan-jangan mereka sedang berada dalam krisis yang tidak temporer dan eksternal lagi. Mungkin mereka sedang menghadapi masalah; dan masalah itu sesungguhnya adalah diri mereka sendiri.

Pendeknya, MU sedang gelap. Kata wartawan Raphael Honigstein, seluruh Inggris memandang peristiwa MU dengan perasaan campur aduk, ”menyukur-nyukurkan”, horor, dan sedikit rasa kasihan. Adapun menurut analis bola Mark Ogden, MU seharusnya berada di tempat di mana mereka seharusnya berada, tetapi ternyata mereka mendapati diri mereka sendirilah yang layak disalahkan dan diratapi.

​Bagi penggemar bola dan lebih-lebih bagi fans berat MU di Indonesia, kiranya krisis MU adalah pemicu yang tepat untuk kritis bertanya mengapa, oleh sebagian anak bangsa, Indonesia disebut sedang gelap? Mengapa akhir-akhir ini masalah datang seakan tiada habisnya? Jangan-jangan sebagai bangsa kita sedang menderita krisis, dan biang krisis itu adalah masyarakat kita sendiri, siapa pun mereka atau apa pun kelompoknya.

Sindhunata, wartawan


Kerabat Kerja

Penulis:

Sindhunata, wartawan
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra