Trump melanjutkan pola lama kekuasaannya: mengampuni teman, pendukung, donor, dan mantan staf terkemuka.
28 Mei 2025 16:12 WIB · Internasional
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi. Ia berencana memberikan pengampunan bagi kroninya yang dihukum atas penipuan bank dan penggelapan pajak. Trump melanjutkan pola lama kekuasaannya, yakni mengampuni teman, pendukung, donor, dan mantan staf tekemuka.
Pada Selasa (27/5/2025), Gedung Putih mengumumkan Trump akan mengampungi pasangan selebritas, Todd dan Julie Chrisley. Keduanya bintang acara realitas terkenal, ”Chrisley Knows Best” yang dihukum atas penipuan perbankan hingga 36 juta dollar AS pada 2022.
Laporan Independent, Rabu (28/5/2025), menyebutkan, Todd dijatuhi hukuman penjara 12 tahun dan Julie 7 tahun. Mereka menggunakan uang hasil penipuan dan penggelapan pajak untuk membiayai gaya hidup mewah.
Trump menyatakan, pengampunan itu hadiah bagi orang-orang yang disebutnya korban sistem peradilan. Pengampunan disampaikan Trump melalui panggilan telepon kepada Savannah Chrisley, putri pasangan bintang realitas itu.
Penasihat Gedung Putih, Margo Martin, mengunggah video percakapan telepon mereka di X. Dalam video itu terlihat Trump berkata kepada Savannah, ”Orangtuamu akan bebas dan bersih dan saya harap kita bisa melakukannya besok.”
Kepada Savannah, yang merupakan pendukung Trump dalam Konvensi Nasional Partai Republik tahun lalu, Trump juga berkata, ”Mereka diperlakukan cukup kasar berdasarkan apa yang saya dengar.”
Dalam konvensi itu, Savannah mengatakan, orangtuanya ”dianiaya oleh jaksa penuntut” karena profil dan keyakinan politik mereka.
Dalam upaya mendapatkan pengampunan bagi pasangan Chrisley, pengacara keluarga itu, Alex Little, menyiapkan berkas-berkas dokumen pengadilan dan kesaksian untuk diserahkan kepada pejabat Gedung Putih dan Departemen Kehakiman. Little menulis, putusan pengadilan memberi contoh tentang penggunaan keadilan sebagai senjata melawan kaum konservatif dan tokoh masyarakat. Tindakan ini dinilainya mengikis perlindungan konstitusional dasar.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/28/d5ac6cc3-c9a8-4a85-8d21-a2e42ed66f73_jpg.jpg)
Di AS, langkah Trump sontak menuai hujan kritik. ”Trump baru saja mengampuni tokoh televisi, Todd dan Julie Chrisley, yang berkonspirasi untuk menipu bank-bank di daerah Atlanta hingga 30 juta dollar AS dalam bentuk pinjaman palsu. Amerika di era Trump, kejahatan dirayakan dan hukuman penjara dipersingkat,” kata Harry Sisson, pemengaruh Partai Demokrat di X.
Ia menyebut langkah Trump ”kegilaan yang sebenarnya”. Dalam unggahan lain, Sisson mencatat, pengampunan untuk keluarga Chrisley diberikan setelah Trump mengampungi seorang sheriff di Virginia yang dituduh menerima suap lebih dari 75.000 dollar AS.
Trump menyebut sheriff itu ”orang yang luar biasa”. Sementara Sisson menyebutnya ”korupsi yang mencolok.”
Penyanyi sekaligus penulis lagu Ricky Davila juga menyatakan, ”Trump mengampuni Sheriff Virginia Scott Jenkins yang dihukum karena penyuapan dan penipuan. Sekarang, dia mengampuni Todd dan Julie Chrisley yang menipu bank.”
Menurut Davila, tindakan Trump itu seperti ”penjahat yang memberikan pengampunan kepada penjahat lain atas kesetiaan mereka”.
Laporan The New York Times mengungkapkan, pengampunan Trump menjadi contoh bagaimana Trump menggunakan kewenangannya untuk mengampuni para pendukungnya yang dihukum karena kejahatan.
Hal itu sudah terlihat pada 20 Januari 2025. Di hari pertama Trump kembali menjabat, ia memberikan pengampunan sepenuhnya kepada semua orang yang terlibat dalam penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/28/3825be96-5b34-4ca6-9b63-dc30e75689df_jpg.jpg)
Agastya Wardhana, pengajar kajian luar negeri AS pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, menyatakan, di periode kedua jabatannya ini, Trump sudah mengetahui cara memimpin. ”Trump sudah tahu batasannya di mana, dia tahu limit of power-nya di mana, dia melakukan semua sesuai dengan keinginannya,” ujarnya.
Trump, lanjut Agastya, sangat transaksional, sangat mementingkan diri sendiri (selfish). Akhirnya, kepribadian Trump itu terefleksi dalam kebijakannya, baik kebijakan dalam negeri maupun kebijakan luar negeri.
”Dia tidak suka seseorang, (orang itu) dipecat. Dia tidak suka universitas melawan, semakin dia ditekan. Dia sangat ingin menunjukkan kekuasaannya,” pungkas Agastya.
Hal itu pula yang juga tecermin dari kebijakan baru-baru ini soal kebijakan tarif dan kebijakan memerangi anti-semitisme. Trump melarang kampus-kampus elite menerima mahasiswa internasional dan memotong atau menghentikan dana federal untuk penelitian universitas. (AFP)
Penulis:
Helena Fransisca NababanEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto