Timnas putri menjuarai Piala AFF 2024 di tengah pembinaan dalam negeri yang tak ideal. Dengan impian mendunia, momentum ini dimanfaatkan untuk terus ”berbenah”.
06 Des 2024 15:32 WIB · Olahraga
Sambil terpincang-pincang, Reva Octaviani menerima penghargaan pemain terbaik Piala AFF 2024 di Stadion National Laos, Vientiane, Kamis (5/12/2024). Gelandang timnas putri Indonesia itu layak mendapatkan penghargaan tersebut bukan cuma karena mencetak dua gol dalam kemenangan 3-1 atas Kamboja pada partai final.
Kemenangan itu membawa Indonesia meraih gelar perdana sejak timnas putri debut dalam kejuaraan internasional pada Kejuaraan Asia 1977. Bahkan, trofi itu juga perdana dalam 49 tahun atau sejak tim putri didirikan pada 1975.
Namun, bukan hanya karena perannya dalam menorehkan sejarah itu Reva layak menjadi pemain terbaik. Reva juga mampu menunjukkan permainan efektif sejak pertandingan semifinal melawan Singapura.
Setiap mendapatkan peluang di depan gawang, Reva sukses mengonversinya menjadi gol. Melawan Kamboja, gol Reva tercipta berkat memanfaatkan peluang pertamanya sekaligus peluang perdana Indonesia dalam laga tersebut.
Timnas putri target menembus Piala Dunia pada sekitar 2030. Tetapi, siapa tahu pada Piala Dunia 2027 kita kepleset lolos.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/06/2d2836df-29f9-4241-8263-8929ed7880b2_jpg.jpg)
Berkat tiga gol sepanjang turnamen, Reva juga sebenarnya menyamai torehan pemain Kamboja, Poeurn Kunthea. Namun, Kunthea yang berhak menyabet gelar pencetak gol terbaik karena bermain dengan menit lebih sedikit.
Usia Reva masih muda, 21 tahun. Namun, penampilan Reva di lapangan menunjukkan pengalaman dan kepercayaan diri. Jangan lupa dengan selebrasinya saat gol melawan Singapura. Reva berlari ke sudut lapangan, mendekati area fotografer. Setelah itu, dia duduk lesehan sembari bersandar ke papan iklan.
Penampilan Reva adalah buah dari pengalamannya tumbuh dan berkembang dengan kompetisi, aspek penting bagi pesepak bola. Dia menunjukkan, hasil yang diraih tidak akan mengkhianati proses pembinaan.
Lima tahun lalu, Reva merupakan bagian dari skuad yang membawa Persib Putri menjuarai Liga 1 Putri. Pemain kelahiran Bogor, Jawa Barat, ini turut menyumbang gol bagi Persib untuk kemenangan 3-0 pada pertemuan kedua di laga penentu melawan Persikabo Kartini. Dia pun dinobatkan sebagai pemain terbaik liga sepak bola putri edisi perdana tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/12/28/9df1c32a-a1be-4ada-aa3a-c94f52d8c9ea_jpg.jpg)
Reva pernah mengatakan, kehadiran kompetisi di dalam negeri sangatlah penting. Dari situ Reva tak hanya mendapatkan kesempatan menambah jam terbang, tetapi juga berkesempatan terus mengasah kemampuan.
Di tengah ketiadaan kompetisi sepak bola putri setelah Liga 1 Putri mati suri, Reva ”terbantu” karena masuk ke dalam tim PON Jawa Barat. Dia juga beruntung dipanggil timnas sehingga tetap bisa berlatih dan mencicipi pertandingan.
Sebagian besar pemain yang dibawa pelatih Satoru Mochizuki ke Laos masih berstatus amatir alias tanpa klub, seperti Reva saat ini. Di samping nama mereka hanya tertulis Tim Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI. Penyebutan Asprov PSSI itu menyesuaikan tim provinsi yang mereka bela pada ajang PON Aceh-Sumatera Utara.
Untuk itu, prestasi di Piala AFF yang sebenarnya hanya turnamen kualifikasi Kejuaraan ASEAN 2025 sangat patut diapresiasi. Selain karena mengukir sejarah, prestasi itu juga diraih dalam kondisi pembinaan yang tidak ideal.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/06/bc2ba9ba-75eb-4cbc-b42e-3042a4bfe32e_jpg.jpg)
Tidak ada kompetisi yang rutin berjalan, padahal kompetisi merupakan tolok ukur pembinaan. Kompetisi bisa menstimulus pembinaan pesepak bola putri. Selain itu, pelatih Satoru Mochizuki bisa mencari pemain-pemain, seperti Reva, dengan mudah karena ada kompetisi. Dia, misalnya, tidak perlu repot-repot memantau PON yang hanya ada empat tahun sekali.
Selain ketiadaan kompetisi berupa liga profesional dan kompetisi usia dini, turnamen pada level remaja juga tidak rutin digelar dan kerap diwarnai ketidakpastian. Piala Pertiwi 2023 putaran nasional, misalnya, batal digelar.
Padahal, beberapa daerah sudah menggelar Piala Pertiwi tingkat regional. Piala Pertiwi putaran nasional kembali digelar bulan ini, 11-20 Desember 2024.
Jika pembinaan di dalam negeri lebih berjalan, prestasi lebih tinggi akan menjadi keniscayaan. Bisa jadi, timnas putri bukan hanya bisa menjuarai Piala AFF yang berisi enam tim terbawah Kejuaraan ASEAN edisi 2022. Timnas putri juga mungkin bisa bersaing dengan empat tim ”raksasa” Asia Tenggara, seperti Thailand, Filipina, Vietnam, dan Myanmar.
Dari Kamboja, Indonesia juga bisa belajar. Kamboja telah membuktikan bagaimana pembinaan dalam negeri yang berjalan, minimal dengan kehadiran kompetisi, bisa berdampak besar pada performa timnas putri.
Sebelum berhadapan dengan Indonesia di final, Kamboja tak terkalahkan dalam tiga laga sebelumnya. Gawang mereka juga tak pernah kebobolan.
Di atas kertas, Kamboja memang berada di bawah Indonesia. Berdasarkan peringkat dunia FIFA, Kamboja menghuni posisi ke-119, sedangkan Indonesia ada di posisi ke-104. Namun, di lapangan, jarak peringkat itu tak terlalu terlihat.
Pada pertemuan sebelumnya di fase grup, Kamboja bahkan menyulitkan Indonesia dengan permainan yang terus menekan dan akhirnya menahan imbang 0-0. Pada laga final pun, Kamboja berkali-kali menggempur pertahanan Indonesia.
Dalam dua tahun terakhir, Kamboja memang tengah mengembangkan sepak bola putrinya. Di hadapan pendukungnya sendiri, mereka pun bisa finis di posisi keempat saat tampil di hadapan pendukung sendiri di SEA Games 2023. Sementara itu, Indonesia mengundurkan diri dari keikutsertaan di ajang multicabang se-Asia Tenggara tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/06/6a85f2f7-fdc0-40d1-980b-74ff9a8f4b8c_jpg.jpg)
Demi pengembangan sepak bola putri, Kamboja melanjutkan kompetisi yang sempat dihentikan pada 2021. Liga sepak bola putri Kamboja dimulai kembali untuk musim 2024-2025 sejak 17 Agustus lalu. Dalam laman AFF disebutkan, ada 10 tim yang ikut kompetisi tersebut.
Pelatih Kamboja Khuon Laboravy mengatakan, performa baik anak-anak asuhannya di Piala AFF tak lepas dari keberadaan liga tersebut. Dari 10 tim yang berpartisipasi, memang hanya lima tim yang bisa benar-benar bersaing. Namun, lima tim itu sudah cukup untuk ”memasok” pemain-pemain terbaik bagi timnas Kamboja.
”Sebagian besar pemain saya ambil dari lima tim besar di liga Kamboja. Jadi, saya tidak sulit untuk cari pemain bagi timnas,” kata Laboravy.
Kesuksesan di Piala AFF adalah momentum yang harus dimanfaatkan untuk menciptakan pembinaan yang ideal. Apalagi, Indonesia memiliki mimpi yang lebih besar dari menjadi juara Piala AFF.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/06/edc16b03-501a-4e5c-a27f-7464b3436576_jpg.jpg)
Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyebut Piala AFF merupakan jendela awal sebelum timnas putri menatap target di Asia. Dia percaya timnas putri punya masa depan yang baik seiring adanya program jangka pendek, menengah, dan panjang dengan membangun skuad yang berisi pemain-pemain remaja berkualitas.
”Timnas putri target menembus Piala Dunia pada sekitar 2030. Tetapi, siapa tahu pada Piala Dunia 2027 kita kepleset lolos,” kata Erick sembari tersenyum (Kompas.id, 21/9/2024).
Erick berkomitmen, Liga Putri akan kembali bergulir mulai musim 2026-2027. Alasannya, talenta pemain belum cukup untuk bisa digelar kompetisi dalam waktu dekat.
Erick menargetkan liga putri sudah diputuskan secara resmi pada Kongres Biasa PSSI 2025. Selain itu, PSSI juga memilih untuk memperkuat timnas lebih dahulu dengan menempa para pemain lewat pemusatan latihan jangka panjang.
Jika kompetisi baru digelar dua tahun lagi, pemusatan latihan jangka panjang harus benar-benar diwujudkan agar para pemain tidak kehilangan sentuhan bola dan tetap berlatih. Program pemusatan latihan di luar negeri, Jepang dan Belanda, yang telah dijalankan patut diapresiasi kendati tetap harus dievaluasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/26/a92ca9c0-0796-4f95-abbc-553ede33ea20_jpeg.jpg)
Selain itu, kehadiran turnamen penunjang, seperti Piala Pertiwi, juga harus dipastikan dan dilaksanakan secara reguler. Ini dilakukan tak hanya untuk mengisi ”kekosongan” kompetisi, tetapi juga menciptakan pembinaan berjenjang.
Dengan pembinaan di dalam negeri yang dibangun secara perlahan, pertumbuhan timnas putri juga tidak bisa didorong secara instan atau terburu-buru. Timnas putri harus tetap tumbuh setingkat demi setingkat dimulai dari Asia Tenggara.
Setelah Piala AFF, timnas putri harus benar-benar disiapkan untuk Kejuaraan ASEAN karena inilah turnamen ”sesungguhnya”. Dibandingkan Jepang dan Belanda, negara-negara Asia Tenggara, seperti Thailand, Vietnam, dan Filipina, adalah lawan lebih masuk akal.
Paling tidak, dari ketiga negara yang telah memiliki kompetisi putri rutin dan pernah mencicipi Piala Dunia itu, Indonesia bisa lebih banyak belajar untuk perlahan menapaki tangga prestasi secara bertahap.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari