Manufaktur dan Konsumsi Lesu, Pertumbuhan Ekonomi 2024 Sulit Capai Target

Tanpa transformasi struktural, perekonomian Indonesia akan terus mengandalkan faktor musiman untuk tumbuh.

04 Nov 2024 21:16 WIB · Ekonomi

Oleh Agnes Theodora - [email protected]

JAKARTA, KOMPAS — Mesin utama perekonomian Indonesia, seperti konsumsi rumah tangga dan industri manufaktur, melambat signifikan sepanjang triwulan III tahun 2024. Di tengah kondisi itu, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2024 diperkirakan tumbuh di bawah 5 persen. Target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen sepanjang 2024 pun susah dicapai.

Kinerja industri manufaktur telah mengalami perlambatan selama empat bulan berturut-turut, dimulai sejak Juli 2024 dan berlanjut hingga Oktober 2024. Terakhir, pada Oktober, Indeks Manajer Pembelian atau Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada pada level 49,2 alias posisi kontraksi.

Posisi tersebut sama dengan level September 2024 (49,2), tetapi lebih rendah dari posisi Juli (49,3) dan di atas Agustus (48,9). Perlambatan itu disebabkan oleh turunnya permintaan yang akhirnya menyebabkan penurunan produksi industri pengolahan.

Sepanjang triwulan III-2024, pelemahan juga diperkirakan terjadi pada konsumsi rumah tangga selaku mesin utama pertumbuhan ekonomi nasional. Indikasi melemahnya daya beli dan konsumsi itu terlihat dari deflasi yang terjadi hingga lima bulan berturut-turut sejak Mei sampai September 2024.

Sepanjang Juli-September 2024, konsumsi juga diperkirakan melemah karena absennya faktor musiman seperti hari raya keagamaan pada triwulan III-2024 yang biasanya bisa mendongkrak permintaan, tidak seperti pada triwulan I dan II.

Pengunjung melihat produk pakaian yang ditawarkan dengan potongan harga di sebuah gerai fesyen di pusat perbelanjaan di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (1/9/2024). Secara umum kontribusi konsumsi rumah tangga pada pertumbuhan ekonomi triwulan II-2024 yang sebesar 5,05 persen secara tahunan, mencapai 2,62. Pertumbuhan ekonomi itu melambat dibandingkan triwulan I-2024 sebesar 5,11 persen.

Di tengah melemahnya motor-motor utama perekonomian tersebut, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai, ekonomi pada triwulan III-2024 berpotensi tumbuh di bawah 5 persen. Artinya, ekonomi tumbuh melambat dibandingkan triwulan II-2024 (5,05 persen) dan triwulan I-2024 (5,11 persen).

”Ekonomi kita berpotensi hanya tumbuh berkisar 4,9-5,0 persen di triwulan III-2024. Paling maksimal ada di 5 persen, karena masalahnya ada di dua sumber pertumbuhan utama kita. Konsumsi rumah tangga dan industri manufaktur,” katanya, Senin (4/11/2024).

Pelemahan ekonomi pada triwulan III-2024 itu juga dinilai akan memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2024. Adapun target pertumbuhan ekonomi yang dipasang oleh pemerintah tahun ini adalah 5,2 persen. Kondisi mesin-mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lemah akan mempersulit pencapaian target tersebut.

Apalagi, industri manufaktur dan konsumsi rumah tangga saling berkaitan satu sama lain. Daya beli masyarakat yang melemah serta menurunnya jumlah populasi kelas menengah berdampak pada lesunya permintaan. Sementara, saat permintaan di pasar dalam negeri turun, kinerja industri pengolahan pun ikut merosot.

”Kemungkinan tidak bisa mencapai target 5,2 persen. Paling mentok maksimal sepanjang tahun ini juga pertumbuhan maksimal di 5 persen. Bahkan, kalau mesin-mesin utama ini tetap melemah, pertumbuhan ekonomi bisa berlanjut lesu sampai periode awal tahun depan,” ujar Faisal.

Infografik riset Tren Pertumbuhan Ekonomi Dunia dan Indonesia

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, komponen yang akan mendorong laju pertumbuhan ekonomi kemungkinan adalah ekspor. Pada triwulan III-2024, ekspor diperkirakan bisa tumbuh 9,38 persen secara tahunan, meningkat dari 8,28 persen pada triwulan II-2024.

Sejalan dengan itu, kinerja impor diperkirakan tumbuh 10,55 persen secara tahunan, meningkat juga dari 8,57 persen pada triwulan II-2024. ”Kinerja ekspor yang meningkat itu dipengaruhi oleh volume ekspor yang masih tetap solid, sementara volume impor juga cenderung meningkat oleh impor barang modal dan bahan baku,” ujarnya.

Josua menilai, target pertumbuhan ekonomi pada 2024 akan sulit dicapai. Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai 5,04 persen, sedikit menurun dari 5,05 persen pada tahun 2023, alias tidak bisa mencapai target 5,2 persen.

Meski konsumsi merosot di triwulan III-2024, proyeksi pertumbuhan konsumsi masyarakat pada triwulan IV-2024 akan sedikit terbantu oleh momentum hari raya Natal dan Tahun Baru serta musim liburan. Di sisi lain, akan ada pula pengeluaran pemerintah yang sedikit meningkat di akhir tahun, bertepatan dengan penyelenggaraan pemilihan kepala daerah (pilkada).

”Jadi, pertumbuhan konsumsi rumah tangga kemungkinan akan sedikit tertolong dan ditopang oleh musim libur akhir tahun dan belanja pemerintah yang menurut pola musiman biasanya akan mencapai puncaknya pada akhir tahun,” ujar Josua.

Warga melintas di depan etalase rumah makan di kawasan Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (3/10/2024). Turunnya populasi kelas menengah RI dalam enam tahun terakhir berdampak pada pelemahan konsumsi. Kelas menengah sebagai motor utama konsumsi tumbuh pesat di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo, dari 39 juta jiwa (15,6 persen dari total populasi) pada 2014 menjadi 60 juta jiwa (23 persen) pada 2018. Namun, setelah itu, jumlahnya merosot menjadi 52 juta orang (18,8 persen).

Bergantung faktor musiman

Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2024 hanya sekitar 4,94-4,98 persen, sementara sepanjang tahun 2024 hanya mencapai 5,0-5,05 persen secara tahunan.

Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky mengatakan, selama paruh pertama 2024, Indonesia tidak mampu tumbuh signifikan lebih dari 5 persen meskipun ada faktor musiman pada triwulan I dan II. ”Fenomena ini mengindikasikan tren yang cukup mengkhawatirkan bahwa Indonesia tidak mampu tumbuh melampaui 5 persen tanpa faktor musiman,” ujarnya.

Untuk sisa tahun 2024, ia menilai perekonomian Indonesia tetap tidak akan tumbuh signifikan. Selain absennya faktor musiman pada triwulan III-2024, faktor libur akhir tahun pada triwulan IV-2024 juga tidak akan banyak mendorong pertumbuhan.

”Tanpa adanya transformasi struktural dalam waktu dekat, besar kemungkinan perekonomian Indonesia akan terus mengandalkan faktor musiman untuk tumbuh. Butuh dorongan lebih besar untuk tetap tumbuh 5 persen,” kata Riefky.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agnes Theodora
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta