PALESTINA

Maraton yang ”Menabrak Tembok”

Palestine Marathon kembali digelar setelah dua tahun terhenti karena perang Hamas-Israel.

11 Mei 2026 08:08 WIB · Internasional

AP/Abdel Kareem Hana

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Ribuan pelari Palestine Marathon 2026 meninggalkan garis start pada waktu yang bersamaan, Jumat (8/5/2026). Baik pelari asing dari berbagai belahan dunia maupun pelari Palestina berlomba untuk menjadi yang tercepat. 

Ajang lari yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 2013 ini sempat terhenti di tahun 2024 dan 2025 karena pecahnya perang Hamas-Israel. Tahun ini, gelaran Palestine Marathon menjadi salah satu acara internasional besar pertama sejak perang.

Sebelumnya, banyak festival, konferensi, dan perayaan hari raya yang dulunya menarik ribuan orang terpaksa diadakan dalam skala yang lebih kecil. Sebagian lain bahkan terpaksa dibatalkan dengan alasan perang dan pembatasan Israel.

Para pelari berpartisipasi dalam Palestina Marathon di kota Betlehem di Tepi Barat, Jumat (8/5/2026).
Ratusan warga Palestina dan warga negara asing mengambil bagian dalam Palestina Marathon di kota Betlehem di Tepi Barat Palestina yang diduduki Israel pada Jumat (8/5/2026).

Warga Palestina dan warga negara asing mengambil bagian dalam lari 10 kilometer melewati menara pengawas tentara Israel, di kota Betlehem Tepi Barat Palestina yang diduduki Israel pada Jumat (8/5/2026).

Di Tepi Barat, pelari tidak dapat menyelesaikan lintasan sepanjang 42,2 kilometer tanpa melewati pos pemeriksaan atau gerbang Israel. Panitia terpaksa membuat rute maraton berputar di tempat yang sama dua kali.

Awalnya, mereka berlari menyusuri jalan-jalan sempit di dua kamp pengungsi Palestina lalu turun ke kota pertanian di sebelah Betlehem. Di sini para pelari, terutama pelari asing, bisa melihat ladang-ladang yang dipisahkan oleh tembok beton, kawat berduri, dan kamera pengawas. Rute itu berbelok kembali untuk berakhir di Alun-alun Palungan Betlehem.

<p>Melewati tembok pemisah Israel. (AP PHOTO/MAHMOUD ILLEAN)</p><p>Mural di tembok pemisah Israel (AP/MAHMOUD ILLEAN)</p><p>Ribuan warga Palestina dan warga negara asing mengikuti Palestina Marathon (AP/MAHMOUD ILLEAN)</p>

Melewati tembok pemisah Israel. (AP PHOTO/MAHMOUD ILLEAN)

Mural di tembok pemisah Israel (AP/MAHMOUD ILLEAN)

Ribuan warga Palestina dan warga negara asing mengikuti Palestina Marathon (AP/MAHMOUD ILLEAN)

Penyelenggara mengatakan bahwa lomba lari ini banyak terkendala pembatasan yang dihadapi warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki Israel. Adanya pos pemeriksaan dapat mengganggu jalannya lomba, bahkan perjalanan rutin keseharian penduduk Palestina. 

”Pelari maraton mana pun akan ’menabrak tembok’  untuk menyelesaikan lintasan lari sejauh 42 kilometer,” komentar salah satu peserta di situs web maraton tersebut. Satu-satunya kegembiraan yang terpancar adalah  suasana di Betlehem.

Kerumunan orang berkumpul di dekat Gereja Kelahiran Yesus untuk menyemangati para pelari di awal dan akhir perlombaan pagi hari. Suara balon plastik berbentuk tongkat menggema beradu suara para penabuh drum yang memainkan irama tradisional di sepanjang jalan-jalan di jalur perlombaan.

Para pelari melewati tembok pemisah Israel saat mengikuti Palestina Marathon di kota Betlehem di Tepi Barat, Jumat (8/5/2026).
Seorang wanita mengambil bagian dalam opalestina Marathon di kota Bethlehem di Tepi Barat Palestina yang diduduki Israel pada Jumat (8/5/2026).
Warga Palestina dan warga negara asing berlari disamping tembok pemisah yang dibangun Israel saat mengikuti Palestina Marathon, Jumat (8/5/2026).
Pantulan peserta Palestian Marathon di jendela toko suvenir di kota Betlehem di Tepi Barat Palestina yang diduduki Israel pada Jumat (8/5/2026).

Lari di Gaza

Pada saat berlangsungnya Palestine Marathon 2026 di Tepi Barat yang dikuasai Israel, di jalan tepi pantai di Nuseirat di Gaza tengah juga diadakan lomba yang sama, tetapi dalam skala yang lebih kecil dan sederhana. Sebanyak 15 penyandang disabilitas berbaur dengan ribuan pelari Palestina di jalan yang sama.

Para penyandang disabilitas dengan bantuan tongkat berlari sejauh 2 kilometer, sedangkan yang lain berlomba dalam jarak 5 kilometer. Tiga belas tahun lalu, ajang ini terpaksa dibatalkan karena Hamas melarang perempuan untuk berpartisipasi.

Haya Alnaji, seorang wanita berusia 22 tahun yang ikut berlari dalam lomba lari 5K, mengatakan bahwa jumlah orang yang berpartisipasi mencerminkan tekad warga Palestina di Gaza untuk hidup dan bertahan. Meskipun dilanda kehancuran akibat perang selama lebih dari dua tahun, mereka antusias berlari.

Pelari yang diamputasi di sepanjang jalan pesisir dekat Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Jumat (8/5/2026).
Para pelari Palestina mengambil bagian dalam Palestina Marathon sepanjang 5 kilometer di sepanjang jalan pesisir dekat Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Jumat (8/5/2026).
Pelari Palestina yang diamputasi bersiap untuk mengikuti Palestina Marathon di sepanjang jalan pesisir dekat Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Jumat (8/5/2026).

Titik balik pelari Palestina yang bebas dari penjara

Mohamad Al-Assi berlari di samping tembok beton saat matahari terbit di atas Bethlehem. Sepatunya mengentak kerikil, menimbulkan debu tipis, napasnya memecah kabut tipis, sementara coretan grafiti dan warna-warni cat tampak samar-samar sebagai latar belakang.

Assi yang baru dibebaskan dari tahanan Israel menjadikan ajang Palestine Marathon sebagai titik balik bagi salah satu perjalanan hidupnya. Hari itu wajahnya masih terlihat kurus dan matanya cekung. Kakinya yang dulu berotot kini melemah setelah lebih dari dua setengah tahun dipenjara.

<p>Pelari disabilitas Palestina dalam Palestine Marathon sepanjang 2 kilometer di pesisir dekat Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Jumat (8/5/2026). (AP PHOTO/ABDEL KAREEM HANA)</p><p>Para pelari Palestina mengambil bagian dalam Palestina Marathon (AP/ABDEL KAREEM HANA)</p><p>Berlari dengan alat bantu jalan kaki (AP/ABDEL KAREEM HANA)</p>

Pelari disabilitas Palestina dalam Palestine Marathon sepanjang 2 kilometer di pesisir dekat Nuseirat di Jalur Gaza tengah, Jumat (8/5/2026). (AP PHOTO/ABDEL KAREEM HANA)

Para pelari Palestina mengambil bagian dalam Palestina Marathon (AP/ABDEL KAREEM HANA)

Berlari dengan alat bantu jalan kaki (AP/ABDEL KAREEM HANA)

Dia mulai berlatih pada bulan Desember, secara bertahap meningkatkan jarak tempuhnya setiap bulan sejak saat itu. Dari aplikasi pencatat waktunya, ia telah berlari sejauh 100 kilometer pada bulan pertama setelah dibebaskan dari penjara. Pada bulan April, ia telah berhasil mencapai 217 kilometer.

Setiap pagi, ia berangkat dari rumahnya di Dheisheh, sebuah kamp pengungsi Palestina yang terdiri dari rumah-rumah blok beton bercorak grafiti di lorong-lorong yang berliku-liku. Semua dijalaninya dengan penuh keteguhan hati. Mengikuti maraton kali ini juga menjadi upaya memulihkan ketahanan mentalnya.

Pelari Palestina Mohamad Al-Assi, yang dibebaskan dari penahanan Israel enam bulan lalu, berlari disamping tembok pemisah Israel saat berlatih menjelang Palestina Marathon Palestina di kota Betlehem di Tepi Barat, Kamis (7/5/2026).
Penduduk Palestina dan warga negara asing berlari disamping tembok pemisah bertuliskan &quot;Bebaskan Marwan&quot; yang mengacu pada pemimpin Palestina yang dipenjara Marwan Barghouti, saat mengikuti Palestina Marathon di Tepi Barat Palestina yang diduduki Israel pada Jumat (8/5/2026).

Usahanya membuahkan hasil. Pada Jumat itu, ia menutup lari dengan membungkuk dan mengucap syukur kepada Tuhan setelah finis di posisi kedua secara keseluruhan. Saat para jurnalis mengelilinginya, ia mengatakan mendedikasikan larinya untuk warga Palestina yang masih ditahan di Israel.

”Setelah 32 bulan di penjara, Mohamad Al-Assi menjadi juara kelas!” teriaknya sambil menangis, mengangkat kedua tangannya dan menatap langit. (AP-AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan