Indonesia punya banyak ganda putra level dunia. Namun, yang mampu mengimbangi prestasi Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo tak banyak.
01 Jun 2026 07:00 WIB · Olahraga
RONY ARIYANTO NUGROHO
Marcus/Kevin mulai dipasangkan pada 2015. Awal mulanya seperti tak sengaja. Marcus yang sejak 2013 berada di luar Pelatnas pernah berpasangan dengan Markis Kido (almarhum). Hasilnya? Marcus/Kido menjuarai Perancis Terbuka 2013 meski mereka harus berlaga sejak babak kualifikasi.
Hasil impresif juga diraih saat mencapai semifinal All England 2014 dan tampil sebagai juara Indonesia Masters 2014. Uniknya, pada final Indonesia Masters itu Marcus/Kido menundukkan Kevin yang ketika itu berlaga dengan Selvanus Geh dengan rubber game.
Adapun Kevin mulanya berduet dengan Selvanus Geh. Salah satu pencapaian keduanya tak lain finalis Indonesia Masters 2014, yang lantas dikalahkan Marcus/Kido. Namun, pasangan Kevin/Selvanus tak bertahan lama karena Selvanus mengundurkan diri dari pelatnas seiring sakit yang dideritanya.
Bersamaan dengan itu, Marcus dipanggil lagi ke Pelatnas pada awal 2015 sebagai apresiasi atas prestasinya yang mengesankan bersama Kido. Pada titik inilah Chafidz Yusuf, sebagai pelatih kepala ganda putra yunior Pelatnas kala itu, disebut sebagai salah satu yang berinisiatif memasangkan Marcus dan Kevin.
Hanya setahun setelah berpasangan, Marcus/Kevin mencatat sejumlah prestasi membanggakan. Pada November 2016, misalnya, mereka tampil sebagai juara di ”kandang Singa”, tepatnya dalam kejuaraan China Open 2016 di Fuzhou, kota di tenggara Beijing, ibu kota China. Di final, ”The Minions” mengalahkan ganda senior Denmark, yakni Mathias Boe/Carsten Mogensen, dalam dua gim, 21-18 dan 22-20.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/11/28/BADMINTON-INA_100475354_1638111401.jpg)
Harian Kompas dalam berita ”Harapan dan Tantangan bagi Marcus/Kevin” edisi 21 November 2021 menulis: ”Dua gelar juara dari turnamen Super Series Premier China Terbuka, terutama dari Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, membuka asa akan munculnya pengganti Hendra Setiawan/M Ahsan”.
Gelar di China Terbuka itu tercatat sebagai gelar keempat. Sebelumnya mereka juga menjadi yang terbaik di Super Series India (Maret 2016), Super Series Australia (Juni 2016), dan Grand Prix Gold Indonesia Masters (September 2016). Hingga prestasi November 2016 itu, mereka sudah mengungguli pencapaian dua ganda putra lain yang sudah lebih lama di Pelatnas, yakni Angga Pratama/Ricky K Suwardi dan Rian Agung Saputra/Berry Angriawan.
Sederet prestasi kemudian mereka ukir di berbagai turnamen prestisius, salah satunya All England 2017, di Barclaycard Arena, Birmingham, Inggris. Marcus/Kevin sebagai satu-satunya wakil Indonesia pada semifinal kala itu, menang dua gim di final atas duo China, Li Yunhui/Liu Yuchen, 21-19 dan 21-14.
”Ini salah satu impian saya, bisa menjadi juara All England,” ujar Kevin, salah satu pebulu tangkis produk audisi PB Djarum, di hadapan penonton, termasuk pendukung Indonesia, di Barclaycard Arena, Birmingham. Tahun 2017 juga dihiasi dengan gelar juara India Terbuka, Malaysia Terbuka, Korea Terbuka, Jepang Terbuka, Denmark Terbuka, China Terbuka, Hong Kong Terbuka, dan ditutup gelar juara Final Super Series.
Serangkaian prestasi mengesankan itu membuat Marcus/Kevin bertengger di peringkat pertama ganda putra bulu tangkis dunia dalam kurun sekian lama. Tak heran, rekor menang-kalah Marcus sangat impresif, dengan 426 kali menang dan 155 kalah (termasuk saat bersama Kido, dan sekian lama dengan Kevin). Rekor menang-kalah Kevin tak kalah mengesankan: 364 kali menang, hanya 103 kekalahan.
Di ajang Indonesia Open Super Series Premier, Marcus/Kevin juga menjadi kampiun terakhir dari Indonesia, tepatnya pada perhelatan 2021. Pada laga final di International Convention Center, Nusa Dua, Bali, ”The Minions” menundukkan Takuro Hoki/Yugo Kobayashi (Jepang), 21-14 dan 21-18. Ini gelar juara ketiga Marcus/Kevin di Indonesia Open setelah pada 2018 dan 2019.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/06/17/f4cf3ea3-3385-4600-857f-6362ad3f5bee.jpg)
Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra semasa awal-awal Marcus/Kevin dipasangkan, menilai, pemain asuhannya itu mempunyai kelebihan di aspek mental. Mereka, kata Herry IP, bagaikan petarung yang tak pernah takut terhadap lawan. ”Di lapangan, salah satunya terlihat jika Marcus/Kevin tertinggal poin, mereka tidak panik sebelum pertandingan selesai,” kata Herry dalam berita Kompas berjudul ”Harapan dan Tantangan bagi Marcus/Kevin”, edisi 21 November 2016.
Berita Harian Kompas berjudul ”Minions Kembali ke Final”, edisi 31 Oktober 2021, juga mengulas bagaimana Marcus/Kevin tak putus asa dan tetap berjuang memberikan yang terbaik, meski lama tak mencapai babak final. ”The Minions” harus menunggu 1,5 tahun untuk kembali ke final, tepatnya di final Perancis Terbuka.
Masa-masa itu tergolong kurun waktu yang berat karena tersingkir pada perempat final Olimpiade Tokyo 2020. Adapun final terakhir Marcus/Kevin adalah pada All England 2020, ketika mereka dikalahkan ganda Jepang, Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe, dengan skor 18-21, 21-12 dan 19-21.
Keunggulan lain pasangan ini, tentunya dari sisi permainan. Smes Marcus kencang, seiring perannya sebagai ”tukang gebuk” di belakang. Sementara di depan, Kevin mempunyai kecepatan kaki dan tangan untuk mencegat bola lawan. Marcus/Kevin juga sering mengecoh lawan dengan arah pukulan tak terduga.
Gillian Clark, komentator Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), berpendapat, permainan cepat ala Marcus/Kevin telah membawa persaingan ganda putra dunia menjadi setingkat lebih ketat, serta membuat laga lebih menarik ditonton. Clark, dalam beberapa kesempatan, juga membandingkan aksi Marcus/Kevin dengan pasangan legendaris Indonesia lainnya, seperti Candra Wijaya/Sigit Budiarto dan Markis Kido/Hendra Setiawan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2023/01/24/8cd972e3-0d6b-4074-9cb4-77d1bd0079aa.jpg)
Kido, dalam sebuah wawancara pertengahan Maret 2017, menuturkan, semangat bermain Marcus yang luar biasa juga menjadi keunggulan tersendiri dan itu melecut determinasi Marcus/Kevin. ”Semangat bermain Marcus luar biasa dan selalu mau belajar. Dulu, dia gampang frustrasi saat tertekan, sekarang jauh lebih baik,” ucapnya, seperti dikutip dalam berita Kompas, ”Kevin/Marcus Wujudkan Impian” (13/3/2017).
Saat dibilang soal permainan mereka yang tergolong unik, salah satunya dengan penempatan bola tak terduga di sisi lapangan yang kosong, Kevin juga kurang tahu bagaimana awalnya. ”Kalau dibilang unik, saya juga kurang tahu. Itu memang gaya kami berdua. Kami tidak bisa meniru gaya yang lain, karena tiap orang punya karakter sendiri-sendiri,” ujar Kevin, dalam berita Kompas ”Talenta Unik Juara All England”, (16/3/2017).
Menurut Kevin, prestasi mereka yang bertahan lama di puncak ganda putra dunia adalah karena dia dan Marcus bisa saling dukung di lapangan. ”Koh Sinyo (panggilan Marcus) punya tenaga kuat. Dia bisa menguasai lapangan belakang dengan bagus,” ujar Kevin.
Adapun Marcus memuji Kevin yang cerdik mengatur serangan di dekat net. ”Dia sangat bagus main di depan, mendukung permainan saya di belakang,” kata Marcus.
”The Minions” yang fenomenal dan impresif telah gantung raket. Indonesia kini menanti pahlawan ganda putra yang bisa berjaya di Indonesia Open Super Series Premier, turnamen bulu tangkis kebanggaan kita, yang sejak 2021 podium utamanya krisis juara dari tim ”Merah Putih”.
Penulis:
Adi PrinantyoEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto