Menuju Betlehem Masa Lalu dan Masa Kini

Seperti para gembala, kita dipanggil ke Betlehem untuk berani mengolah kelindan krisis-harapan dalam hidup yang mengalami transendensi dan keprofanan.

24 Des 2024 08:02 WIB · Opini

Oleh Daniel K. Listijabudi

Terhadap kalimat ajakan ”Marilah Kita Pergi ke Betlehem”, yang menjadi tema Natal KWI & PGI tahun 2024 ini, setidaknya satu pertanyaan logis yang mesti teraju, yakni: ”Pergi ke Betlehem yang mana?”

Jika yang dimaksud adalah Betlehem (arti harfiahnya: Rumah Roti), sekarang ini, kita akan menyaksikan krisis keamanan, sosial, ekonomi. Harian online Morning Star pada 12 Desember 2024 memunculkan headline ”Bethlehem: The Birth of Christ in Crisis”. Sebagai dampak konfik di Gaza, banyak orang (wisatawan-peziarah) menghindari lokasi-lokasi tertentu, termasuk kota yang istimewa ini.

Dilaporkan bahwa angka pengangguran melonjak, ada 10.000 orang dari Betlehem yang bekerja di wilayah Israel kehilangan pekerjaan, ini belum termasuk 7.800 orang yang bekerja di sektor pariwisata lokal. Menurut harian ini, sekitar 34 persen dari total populasi (40 persen di antaranya beragama Kristen) berjuang untuk bertahan hidup tanpa sumber penghasilan apa pun. Betlehem masa kini adalah Betlehem yang muram.

Ilustras

Jika yang dimaksud dengan pertanyaan ”Pergi ke Betlehem yang mana?” adalah ke Betlehem dalam kisah Lukas 2, maka kita akan membaca kisah tentang harapan. Para gembala yang ketakutan melihat penampakan surgawi, tergerak menjadi penyaksi bahwa yang dikatakan dalam penampakan surgawi di padang Efrata melalui sabda malaikat dan pujian penuh pesan (tentang lahirnya Juruselamat dalam rupa bayi dibungkus kain lampin dan terbaring di palungan), bukan omong kosong.

Para gembala yang berpengharapan itu berubah menjadi penyaksi mata dan maju lagi menjadi insan yang berbeda, yakni dari insan ketakutan (tetapi penasaran dan ingin membuktikan ucapan malaikat) menjadi insan yang ”kembali ke Efrata sembari memuji dan memuliakan Allah”, setelah berita yang mereka dengar di padang Efrata terkonfirmasi di kandang Betlehem. Betlehem dalam kisah masa lalu adalah Betlehem yang menebarkan asa nan indah dan evokatif (berdaya bangkit) bagi dunia.

Bisakah kita menghubungkan kedua ”Betlehem” ini?  Tentu saja bisa dan perlu agar kita tidak naif di satu pihak dan tidak membiarkan realitas digerus tanpa ampun oleh kepedihan, di lain pihak. Harapan dan kepedihan mesti ditangkup bersama menjadi suatu panggilan yang memahami konteks dan sekaligus terdorong untuk menggulatinya dan berbuat sesuatu terhadapnya.

Tambahan lagi, terhadap kalimat ajakan untuk ”Marilah kita pergi ke Betlehem”,  ada setidaknya tiga opsi respons yang potensial terberi. Antara lain adalah: (a) ”Baiklah” atau (b) ”Tidak mau” atau (c) ”Nanti saja”. Ini mewakili tiga sikap kita terhadap ajakan menggumuli kelindan harapan dan kepedihan yang memanggil-manggil kita di realitas sehari-hari, di Efrata kita masing-masing, yaitu sikap Kesigapan, Penolakan, dan Penundaan.

Quote

Harapan dan kepedihan mesti ditangkup bersama menjadi suatu panggilan.

Pilihan sikap kita sebagai respons atas konteks, secara mendasar, antara lain tergantung dari teologi operatif kita. Jika teologi kita eskapistik, kita akan membelakangi segala realitas dunia nyata dan melulu mengarahkan perhatian pada dunia ”atas”, di mana para malaikat kembali ke surga setelah menyampaikan berita. Sikap ini mungkin berlaku bagi para malaikat (dalam teks), tetapi bukanlah sikap para gembala yang adalah para manusia.

Oleh karena itu, teologi operatif kita tak boleh melupakan dunia di bawah sini. Dunia di sini adalah ”Betlehem” kita, di mana krisis dan harapan berangkulan dalam kenyataan sehari-hari. Itu terjadi baik di Tanah Israel-Palestina (dulu dan sekarang), dalam konteks Internasional lain (Ukraina dan Siria), juga dalam pengelolaan dinamika multidimensional kita di Tanah Air kita sendiri, Indonesia.

Para pengurus gereja membuat pohon Natal dari bahan botol plastik bekas di Gereja Santa Theresia Jakarta, Kamis (19/12/2024). Pengurus Gereja Santa Theresia Jakarta membuat dekorasi Natal dengan menggunakan barang-barang bekas, salah satunya pohon Natal yang dibuat dengan botol plastik bekas. Sebanyak 900 botol bekas digunakan oleh ibu-ibu Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) cabang Santa Theresia untuk dijadikan pohon Natal. Pohon Natal itu dibuat selama 3 hari. Selain pohon Natal, botol bekas juga dijadikan hiasan berbentuk rusa. Pemilihan botol bekas untuk hiasan Natal mengacu pada tema Natal tahun ini yaitu "Kembali ke Betlehem". Teman ini mempunyai makna sebagai refleksi atas nilai-nilai kasih, damai, keadilan, dan kesederhanaan. KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 19-12-2024

Kasus-kasus rapuhnya relasi sosial (intoleransi), relasi personal (berbagai kasus kekerasan di banyak narasi anak negeri, krisis moral, krisis mental pejuang yang membuat maraknya judi online), relasi dengan alam (krisis ekologi), dll adalah ladang Efrata kita.

Di situ kita perlu menajamkan telinga, menjernihkan nurani, mengasah budi dan bakti, dalam mendengarkan adanya ajakan untuk bergerak, berharap, mengambil bagian dalam terteguhkan dan meneguhkan menuju Betlehem, persis seperti, di satu pihak, peran para gembala bagi Bunda Maria, Bapa Yusuf dan bayi kudus sebagaimana terkisahkan dalam Injil Lukas 2: 18: ”semua orang yang mendengarnya heran/takjub tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka”, dan, di lain pihak, peran Keluarga Kudus yang mendatangkan sukacita dan konfirmasi bagi para gembala. Bolehlah kita katakan bahwa ada suatu dinamika resiprokal dari perjumpaan hireofani, yakni manifestasi dari yang sakral (sacred) dalam sesuatu yang sekuler-profan.

Seperti para gembala, kita dipanggil ke Betlehem (masa kini dan masa lalu), untuk berani mengolah kelindan krisis-harapan dalam hidup yang mengalami transendensi (kesakralan) dan imanensi (keprofanan). Panggilan untuk ”Pergi ke Betlehem”, dengan demikian, adalah panggilan bagi semua orang yang berani memasuki ketegangan dalam berbagai macam konteks kehidupan yang membutuhkan sentuhan nyata (dan bukan melarikan diri dari realitas).

Ini tak lain tak bukan adalah peziarahan dalam perjalanan nan kosmotheandrik (istilah yang diintoduksi imam, teolog interreligius cum filosof dari Spanyol, Raimundo Panikkar), di mana manusia (aner) diberi kesempatan merespons pengalaman mengada di dalam konteks dunia (kosmos) dengan membawa serta pengalaman perjumpaan dengan yang lIahi (Theos), setipis apa pun, dalam respons kita itu. Marilah kita menyatakan kesediaan untuk hadir dan melangkahkah kaki bergerak ke sana. Selamat Natal.

Daniel K Listijabudi, Pendeta dan Dosen Tafsir Alkitab dan Teologi Kontekstual di Fak Teologi UK Duta Wacana, Yogyakarta

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Daniel K. Listijabudi
 | 

Editor:

Nur Hidayati, Yohanes Krisnawan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .