Wujud dan kemampuan robot humanoid semakin mendekati manusia. Dalam beberapa tahun ke depan, robot ini diyakini sudah menguasai hidup manusia.
23 Okt 2024 07:19 WIB · Nasional
Oleh Muchamad Zaid Wahyudi - [email protected]
Sejumlah negara maju berlomba mengembangkan robot humanoid. Berbagai inovasi pun melahirkan humanoid yang mampu berpikir dan melakukan aktivitas selayaknya manusia. Perkembangan itu membuat banyak ahli yakin humanoid akan segera mengambil alih dunia. Namun, tidak sedikit pakar yang skeptis akan masa depan humanoid.
Salah satu perkembangan terbaru robot humanoid adalah robot STAR1 milik China. Seperti dikutip dari Livescience, 18 Oktober 2024, robot ini mampu berlari dengan kecepatan 12,87 kilometer per jam atau 3,6 meter per detik. Kecepatan ini dicapai setelah perekayasa melengkapi kedua kaki humanoid itu dengan sepatu kets (sneaker).
STAR1 adalah robot bipedal buatan perusahaan China, Robot Era. Humanoid ini memiliki tinggi 171 sentimeter, berat 65 kilogram, serta 12 tingkat gerak yang mengacu pada jumlah sendi yang yang dimiliki dan rentang gerakan yang dapat dilakukan.
Selain itu, STAR1 ditenagai oleh motor torsi tinggi dan algoritma kecerdasan buatan (AI) yang mampu memproses 275 triliun operasi per detik (TOPS). Sebagai perbandingan, daya pemrosesan AI pada komputer jinjing terbaik yang ada saat ini hanya 45-55 TOPS.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/22/0be04d9c0da58616e365517f94145ffe-241022_star1_robot_era.jpg)
Dengan tambahan sepatu itu, STAR1 berhasil berlari melintasi berbagai medan uji di Gurun Gobi, barat laut China, termasuk padang rumput, tanah berkerikil, hingga jalan aspal dan jalan tanah. Bahkan, robot ini mampu mempertahankan kecepatan tertingginya selama 34 menit.
Meski sebutannya berlari, sejatinya kedua kaki robot itu tidak pernah benar-benar melayang keduanya alias salah satu kaki robot akan menyentuh tanah saat humanoid tersebut berlari. Dengan mengacu pada definisi berjalan dan berlari yang digunakan manusia, sepertinya yang dilakukan STAR1 dan humanoid lainnya adalah berjalan cepat.
Capaian itu menjadikan STAR1 sebagai humanoid yang paling cepat berlari di dunia saat ini. Rekor kecepatan humanoid tertinggi sebelumnya dipegang robot H1 milik Unitree, perusahaan China lainnya, yang mampu berlari dengan kecepatan hingga 11,9 km/jam atau 3,3 m/detik.
STAR1 hanyalah salah satu dari banyak robot humanoid yang dikembangkan perusahaan-perusahaan teknologi di seluruh dunia. Sejumlah humanoid lain yang cukup populer saat ini antara lain Optimus Gen-2 milik Tesla yang mampu bergerak dengan kecepatan 2,24 m/detik dan Atlas dari Boston Dynamics, perusahaan Amerika Serikat lain yang bisa berjala hingga 2,46 m/detik.
Humanoid adalah robot canggih yang mampu meniru gerakan, penampilan, pemikiran, hingga emosi manusia. Robot jenis ini dibuat semirip mungkin dengan manusia karena dirancang untuk mampu melakukan aktivitas harian manusia, terutama tugas-tugas repetitif dengan keterampilan rendah, seperti memindahkan barang, melayani pelanggan restoran, hingga melayani warga senior di panti wreda.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/22/adea000fa536412c71e13c7cae2285f2-241022_nvidia_1.jpg)
Berbeda dengan robot konvensional, bentuk dan ukuran humanoid itu sengaja dibuat menyamai karakteristik fisik manusia agar lebih mudah diintegrasikan dengan sistem kerja manusia. Dengan bentuk dan ukuran yang sama, humanoid bisa melewati pintu, menaiki tangga, hingga berada di ruang sempit di antara mesin-mesin industri, tempat manusia hidup, beraktivitas, dan bekerja selama ini.
Wujud yang makin menyerupai manusia itu juga dipilih agar robot lebih mudah diterima manusia. Secara psikologis, robot yang memiliki bentuk sangat mirip dengan manusia lebih bisa diterima dan dipercaya manusia karena dianggap sebagai makhluk yang lebih cerdas.
Profesor robotika Jepang, Masahiro Mori, pada tahun 1970-an membuat hipotesis tentang pola interaksi manusia dan robot yang disebut The Uncanny Valley alias Lembah Keganjilan. Dalam hipotesis itu, manusia umumnya bereaksi positif terhadap mesin yang mirip manusia. Namun, saat kemiripan mencapai tingkat tertentu, manusia justru merasa tidak nyaman, bahkan jijik, seperti pada penggunaan tangan prostetik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/22/d0b42281cf545aaadd1c99fb3a4ce9d6-241022_masahiro.jpg)
Selanjutnya, semakin tinggi lagi kemiripan robot tersebut dengan manusia hingga robot dan manusia sulit dibedakan, manusia justru kembali bereaksi positif terhadap robot. Kondisi psikologis inilah yang menjadi tantangan perekayasa humanoid untuk benar-benar bisa menghadirkan robot yang membuat manusia nyaman dan percaya.
Untuk mendukung interaksi dengan manusia itu, humanoid juga dibekali dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi menggunakan AI. Dengan AI, robot bisa menerima perintah lisan atau diajak berbicara oleh manusia, mempelajari perintah tersebut, hingga melakukan apa yang diminta manusia secara sempurna.
Berbagai keunggulan itu membuat humanoid menjadi robot atau mesin yang kompleks. Karena itu, pengembangan humanoid pun dilakukan lintas bidang sains dan teknologi, mulai dari AI, biomekanika, mesin pembelajar, sistem sensor, teknik mesin, teknik elektro, pengembangan kognitif hingga ilmu perilaku.
Dibandingkan robot tradisional yang ada saat ini, robot humanoid jauh lebih cerdas karena mampu melakukan sejumlah hal sekaligus. Humanoid juga dirancang dengan misi yang spesifik untuk menjadi tenaga kerja pengganti manusia yang lebih murah dan efisien.
Dengan berbagai keunggulan itu, wajar jika baru sejumlah negara maju yang mampu mengembangkannya. Terlebih, investasi yang dibutuhkan juga sangat besar. Namun, banyaknya perusahaan rintisan yang membuat humanoid menunjukkan robotika humanoid adalah bidang yang akan berkembang pesat di masa depan dan menguntungkan.
Pertumbuhan industri robotika humanoid yang besar membuat sejumlah ahli yakin humanoid komersial sudah akan ada di pasaran dalam beberapa tahun ke depan. Bahkan, pemilik Tesla, Elon Musk, seperti dikutip dari lembaga riset AS, Global X ETFs, 1 Maret 2024, memperkirakan akan ada 1 miliar humanoid di bumi tahun 2040.
Pangsa pasar industri humanoid global pada 2035 diperkirakan mencapai 4,85 triliun dollar AS atau setara Rp 75.500 triliun dengan 36 persennya adalah humanoid untuk layanan dan rumah tangga. Sisanya baru humanoid untuk industri.
Tingginya nilai industri robotika humanoid terjadi karena harga humanoid tidak murah. Humanoid H1 milik Unitree yang bisa berjalan, berlari, dan melakukan sejumlah hal dibanderol seharga 150.000 dollar AS atau sekitar Rp 2,3 miliar. Sementara robot anjing Spot milik Boston Dynamics dihargai 75.000 dollar atau Rp 1,16 miliar untuk model standar hingga 200.000 dollar atau Rp 3,1 miliar untuk tipe dengan sejumlah tambahan fungsi.
Harga humanoid itu, seperti dipublikasikan Humanity Redefined, 12 Juni 2024, belum termasuk biaya perawatan dan dukungan, pengawasan, atau biaya tak terduga lainnya. Karena itu, ditahap awal implementasi humanoid, banyak ahli yakin penggunaan humanoid belum akan efisien.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/22/8a945bafd12f92794f47f042328e790e-241022_optimus_tesla_2.jpg)
Namun, penggunaan humanoid dipastikan akan terus berkembang hingga pada satu titik akan dicapai keseimbangan antara biaya pengoperasian humanoid dan penggunaan tenaga manusia atau robot tradisional lain.
Di luar tantangan ekonomi, integrasi humanoid dan manusia juga dipastikan tidak akan mudah. Jika alasannya untuk menggantikan tenaga manusia yang jumlahnya kian terbatas dan mahal, asumsi ini tentu tidak cocok untuk negara-negara dengan penduduk muda melimpah dan gaji rendah seperti Indonesia.
Selain itu, humanoid tetaplah bukan manusia. Meski humanoid bisa mempelajari bahasa hingga mampu menerima perintah tingkat tinggi dan melakukannya dengan benar, humanoid belum bisa meniru komunikasi nonverbal manusia, seperti gerak tubuh, mimik wajah, atau sorot mata. Humanoid juga belum mampu mempelajari bahasa isyarat manusia, seperti gerakan tangan memanggil atau menyuruh berhenti. Komunikasi non-verbal itu penting agar komunikasi humanoid dan manusia bisa berjalan efektif.
Resistensi manusia terhadap humanoid tetap ada. Seperti ditulis di Tech Wire Asia, 5 Juli 2023, sebagian ahli memandang humanoid sebagai ancaman terhadap manusia. Mereka terus mendesak agar robot tersebut diuji lebih ketat dan berulang karena menilai humanoid berpotensi membawa bahaya bagi kemanusiaan di masa mendatang.
Beberapa negara maju sudah mengatur penggunaan AI sebagai ”otak” utama humanoid karena keputusan yang diambil AI sering menghasilkan bias dan data tidak akurat. Di banyak negara, termasuk Indonesia, pengaturan AI ini masih sangat lambat dan bersifat responsif meski pemakaian AI sudah cukup meluas di masyarakat.
Di sisi lain, kehadiran humanoid dipastikan akan mengancam jutaan pekerjaan. Bahkan, Ketua Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU) yang menyelenggarakan Pertemuan Tingkat Tinggi AI untuk Kebaikan di Geneva, Swiss, 2023, Doreen Bogdan-Martin mengingatkan bahwa dalam skenario terburuk, AI bisa memicu keresahan sosial, kesenjangan ekonomi, hingga ketidakstabilan geopolitik.
Karena itu, intervensi manusia tetap diperlukan. Menyiapkan manusia agar melek AI dan bisa berinteraksi dengan humanoid tidaklah mudah. Meski sejatinya keputusan akhir atas penggunaan keputusan yang dihasilkan AI, termasuk di dalam humanoid, ada pada manusia, nyatanya manusia justru lebih membabi buta dalam menuruti dan mengikuti semua yang disarankan AI.
Jadi, masihkah manusia memiliki daya untuk mengendalikan dirinya? Atau AI dan humanoid akan mengambil alih hidup manusia? Waktulah yang akan menjawabnya.
Penulis:
Muchamad Zaid WahyudiEditor:
Aloysius Budi KurniawanPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan