Masker, Simbol Kekuasaan Tanpa Batas AS soal Imigrasi

Menggunakan masker dalam melakukan perintah negara bisa menyebabkan berkurangnya akuntabilitas atau rasa pertanggungjawaban.

12 Agt 2025 09:00 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Seiring waktu, kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tentang imigrasi semakin keras. Para petugas Badan Imigrasi dan Cukai AS atau ICE berseliweran menangkap orang-orang yang dianggap melanggar hukum. Ada satu benda penanda mereka saat bertugas: masker dan penutup wajah.

Tak hanya itu, para petugas ICE juga melengkapi penampilan mereka dengan topi dan kacamata hitam. Wajah mereka jadi terlindungi sempurna, entah untuk privasi, keamanan diri, atau menghindari akuntabilitas.

Aksi itu membuat dahi sebagian orang mengernyit. Negara-negara bagian Demokrat mengusulkan Rancangan Undang-Undang Tidak Ada Anonimitas dalam Penegakan Hukum Imigrasi.

Newsweek pada Juli 2025 melaporkan, RUU itu akan melarang agen federal memakai penutup wajah dan mewajibkan mereka mengenakan tanda identitas jelas selama operasi. Pengecualian berlaku untuk tujuan keamanan atau penyamaran. Tujuan RUU ini adalah untuk meningkatkan transparansi dan pembatasan kekuasaan pemerintah.

Agen federal bermasker menahan seorang pria saat ia keluar dari sidang pengadilan imigrasi di Gedung Federal Jacob K. Javitz, New York, Amerika Serikat, Senin (4/8/2025). Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) menawarkan bonus penandatanganan hingga 50.000 dollar AS dan penghapusan pinjaman mahasiswa kepada para rekrutan baru Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai (ICE). Tawaran ini keluar seiring upaya lembaga tersebut untuk memenuhi target Presiden AS Donald Trump untuk merekrut 10.000 agen ICE baru dan mendeportasi satu juta orang per tahun.

Masker dan penutup wajah para petugas ICE telah menimbulkan perdebatan. Apakah dua benda itu merupakan alat intimidasi atau perlindungan? Simbol kebaikan atau kejahatan?

”Ada begitu banyak hal yang dimuat ke dalam penutup wajah,” kata Darren Fisher, dosen seni komik dan konsep di University for the Creative Arts, Inggris, kepada The New York Times edisi Jumat (1/8/2025).

Di Asia, masker dan penutup wajah adalah hal biasa. Orang-orang memakainya untuk alasan kesehatan dan privasi. Warga Jepang tidak ingin bersinnya terkena orang lain, sedangkan warga Indonesia ogah untuk menghirup polusi jalanan. Saking populernya, masker juga menjadi bagian dari fashion.

Di negara-negara Barat, masker baru memainkan peran besar dalam wacana publik pada 2020. Tepat ketika pandemi Covid-19 melanda. Itu pun penuh dengan perdebatan panjang antara keselamatan publik dan kebebasan individu.

Arti berlapis

Sejak berabad-abad lalu, masker, penutup wajah, atau topeng memiliki makna yang berlapis di berbagai pelosok dunia. Orang-orang telah mengenakan topeng sejak zaman teater Yunani dan Romawi kuno. Di Jepang, ada topeng juga dalam tradisi Noh. Topeng juga berperan dalam berbagai ritual perdukunan. 

Topeng Guy Fawkes dari Inggris menjadi simbol pemberontakan. Beberapa tokoh terkenal fiksi juga identik dengan topeng, sebutlah Zorro dan Lone Ranger.

”Topeng mengubah orang menjadi ’arketipe’. Dan arketipe tersebut berakar pada sejarah, agama, seni, politik, dan Hollywood,” ujar Fisher. Arketipe merujuk pada gambaran mengenai struktur dari karakter manusia secara umum yang telah identik sejak masa lampau.

Di Hollywood, topeng juga merepresentasikan karakter yang bertolak belakang. Tokoh super memakainya, seperti Captain America, Batman, Spider-Man, Iron Man, dan Darth Vader. Topeng juga sering dipakai perampok bank, penjahat, dan karakter dalam film horor.

Dalam hampir setiap kasus, masker, penutup wajah, atau topeng memiliki dua tujuan. Pertama, benda tersebut untuk melindungi atau menyamarkan identitas ”asli” pemakai. Selain itu, penutup wajah juga mengubah pemakai menjadi sesuatu yang lain.

Seorang demonstran mengenakan topeng dengan bendera Argentina selama protes oleh para pensiunan dan penerima pensiunan di dekat Kongres di Buenos Aires, Argentina, Rabu (6/8/2025). Aksi ini terjadi menyusul veto Presiden Javier Milei terhadap undang-undang yang bertujuan untuk menaikkan pensiun.

Angela Ndalianis, profesor media dan hiburan di Swinburne University of Technology di Australia, menjelaskan, topeng menjadi alat bagi seseorang untuk melampaui batasan dunia fisik dan dunia manusia. Entah itu baik atau buruk, topeng melambangkan kekuatan.

”Topeng adalah bagian dari gagasan antropologis tentang liminalitas (transisi atau ambang batas),” kata profesor antropologi di Massachusetts Institute of Technology (MIT), AS, Graham M Jones, menambahkan.

Walau memakai topeng sama dengan menyamar, topeng memberikan kebebasan. Batman, Darth Vader, atau penjahat dalam film bertopeng agar tidak lagi berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri mereka sendiri. Tindakan ini bukan berarti luput dari penolakan ekspektasi sosial.

Namun, pembebasan tersebut bisa jadi menakutkan. Topeng bukan hanya soal mengungkapkan ”diri sejati”, melainkan juga soal potensi menghilangkan identitas dan akuntabilitas. 

Imigrasi AS

Kembali soal imigrasi AS, narasi topeng itulah yang membuat petugas ICE yang berpenutup wajah terasa menakutkan bagi warga setempat. Masker atau penutup wajah seolah memberikan mereka izin untuk bertindak di luar batasan.

Di samping itu, keberadaan masker memperkuat gagasan bahwa pemerintahan Trump telah melampaui norma pemerintahan demokratis. Politico mencatat, ia mengeluarkan serangkaian perintah eksekutif untuk melakukan penangkapan massal di seluruh negara. Setiap tahun, ia berencana mendeportasi 1 juta imigran. Mahasiswa asing dilarang masuk ke kampus-kampus AS.

Apabila RUU Tidak Ada Anonimitas dalam Penegakan Hukum Imigrasi lolos, situasi bisa saja lebih terkendali. Dalam beberapa kasus, telah terlihat pelaku kejahatan menjadi rapuh saat wajah aslinya terkuak.

”Wajah adalah sumber kerentanan,” ujar Elizabeth Joh, profesor hukum yang fokus pada privasi dan teknologi di University of California.

Seorang pria menggendong seorang anak berjalan memasuki ruang tunggu pengadilan imigrasi sementara agen federal berpatroli di lorong-lorong Gedung Federal Jacob K Javitz, New York, Amerika Serikat, Jumat (8/8/2025). Menurut data Proyek Data Deportasi, telah terjadi lebih dari 100.000 penangkapan imigran oleh agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) dalam lima bulan pertama masa jabatan kedua Presiden AS Donald Trump.

Wajah adalah cara manusia mengenali satu sama lain. Manusia jadi bisa memahami makna dan emosi di balik kata-kata. Menutup wajah berarti melindungi diri dari prasangka orang lain.

Selain petugas ICE, masyarakat sipil di era modern pun pernah memanfaatkan penutup wajah untuk tujuan tersebut. Mahasiswa menggunakan masker dan penutup wajah saat berunjuk rasa membela Gaza di AS atau warga Hong Kong melakukan hal serupa saat protes pro-demokrasi.

Namun, ada perbedaan antara aksi mereka dan ICE. Masyarakat menggunakan masker agar bisa berekspresi tanpa rasa takut melawan negara. Pada kasus ICE, mereka memakainya karena butuh perlindungan untuk melakukan perintah negara.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan