Perubahan iklim bukan hanya soal cuaca yang berubah, tapi juga ketimpangan struktur sosial. Mereka yang di bawah dituntut beradaptasi, bahkan merasakan dampaknya.
11 Des 2025 06:00 WIB · Sains & Teknologi
Kompas/Supriyanto
Di banyak kota di belahan dunia yang tergolong berpendapatan menengah, perubahan iklim tak lagi sekadar abstraksi. Situasi itu nyata dirasakan hingga retakan tanah, terbatasnya sumber air bersih, dan makin menipisnya hamparan sawah hijau.
Perubahan iklim ekstrem yang terjadi pun telah membawa petaka nyata sebagaimana terjadi di wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Menjadi penting digarisbawahi bahwa dalam temuan modern, perubahan iklim bukan hanya fenomena alamiah, tetapi juga akibat aktivitas manusia.
Becermin dari bencana yang terjadi di Sumatera, deforestasi ditengarai menjadi salah satu penyebab utama bagaimana curah hujan ekstrem tidak lagi dapat ditampung oleh hutan dan tanah. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga melanda negara lain, seperti Brasil dan wilayah Afrika Tengah.
Di negara-negara ini pula fenomena ekstrem terjadi setidaknya selama tiga dekade terakhir. Pil pahit yang harus ditelan masyarakat adalah suhu yang hampir tiap tahun mencapai rekor baru, kekeringan berkepanjangan, hingga banjir besar yang meningkat intensitasnya.
Hal ini membuat perubahan iklim bukan lagi isu tinggi dan konseptual, tetapi makin nyata dirasakan masyarakat. Apa yang terjadi hingga akar rumput ini membuat masyarakat negara berpendatan menengah kini sungguh merasakan dampak langsung?
Laporan Pew Research Center pada November 2025 merekam bahwa tiga perempat responden dari sembilan negara berpendapatan menengah menyatakan perubahan iklim memengaruhi area tempat mereka tinggal. Efek paling besar dirasakan di Argentina, Brasil, dan Meksiko.
Mayoritas (81 persen) responden di Brasil merasakan dampak perubahan iklim yang berpengaruh ke wilayahnya tinggal. Sementara di Meksiko, angkanya bahkan mencapai 83 persen. Angka ini berkisar 74 persen di Brasil.
Indonesia, sebagai salah satu negara yang disurvei, menunjukkan angka total 68 persen. Jumlah tersebut terdiri dari 33 responden yang menyatakan perubahan iklim berpengaruh besar terhadap tempat tinggalnya dan 35 persen lainnya berpendapat agak berpengaruh.
Persepsi responden terhadap pengaruh perubahan iklim terhadap kehidupannya ini tampak sejalan dengan kekhawatiran. Apabila dilihat mediannya, 83 persen responden dari kesembilan negara ini mengaku sangat khawatir perubahan iklim akan membahayakan mereka pribadi di masa hidupnya.
Indonesia dalam hal ini menjadi negara dengan tingkat kekhawatiran tertinggi, dengan angka mencapai 91 persen. Tingkat kekhawatiran tinggi juga diungkapkan responden dari Brasil (91 persen), kemudian Kenya (87 persen), Argentina (83 persen), serta Meksiko (83 persen).
Kekhawatiran responden di Indonesia nyatanya akhirnya menjadi kenyataan dengan datangnya bencana di wilayah Sumatera akhir November lalu atau sekitar sebulan setelah laporan Pew Research ini dirilis. Sebagaimana pula menjadi pembicaraan publik termasuk di media sosial, adanya deforestasi dianggap menjadi biang keladi utama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/c0aa054c90e72491383f55be3c58f1d6-20251211_DMS_Negara_Berpendapatan_Menengah_1_mumed.png)
Hasil survei Pew Research ini sejatinya merekam kemauan responden negara menengah untuk mengubah gaya hidup mereka demi mengurangi efek perubahan iklim. Dilihat secara median, kemauan responden untuk mengubah gaya hidup sebesar 80 persen.
Artinya, tidak hanya khawatir, tetapi sebenarnya ada kemauan dari responden di negara-negara ini untuk berkontribusi demi memperbaiki ancaman bencana perubahan iklim. Di sinilah sebenarnya dapat dibaca paradoks dalam problem perubahan iklim.
Salah satunya misalnya kondisi deforestasi yang menyebabkan bencana alam. Kontribusi rakyat dalam perkara gundulnya hutan mungkin saja hanya dalam skala kecil. Skala besar disebabkan oleh aktor industri yang lebih besar. Akan tetapi, ketika kesadaran untuk mengubah gaya hidup muncul dari responden survei, paradoks itu pun muncul.
Apabila dilihat per negara, wilayah dengan kekhawatiran responden tinggi terhadap perubahan iklim, niat untuk mengubah gaya hidup pun tinggi. Indonesia, misalnya, niat responden untuk mengubah gaya hidup demi mengurangi efek perubahan iklim mencapai 81 persen.
Setali tiga uang, niat perubahan gaya hidup responden di Meksiko 86 persen. Begitu pula responden Argentina yang meniatkan mengubah gaya hidup di angka 84 persen.
Artinya, kekhawatiran responden terhadap ancaman perubahan iklim dipandang secara serius hingga menumbuhkan kesadaran mengubah pola hidup.
Sementara harapan juga ditujukan kepada komunitas internasional untuk mengurangi efek perubahan iklim. Kurang lebih enam dari sepuluh responden di sembilan negara yakin bahwa aksi yang diambil oleh komunitas internasional dapat mengurangi efek dari perubahan iklim.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/11/66aaea2850565de9ac3574e966ee3dc3-20251211_DMS_Negara_Berpendapatan_Menengah_2_mumed.png)
Dari paradigma adanya unsur keterlibatan manusia dalam perubahan iklim, akhirnya situasi ini dapat dipandang dalam kerangka fenomena sosial. Dengan demikian, ini menyangkut sistem ekonomi lokal, struktur kekuasaan, pengetahuan kultural, hingga praktik hidup sehari-hari.
Dengan kata lain, perubahan iklim tidak menimpa manusia secara merata. Dampak yang terjadi terbangun oleh struktur sosial. Inilah yang menyebabkan ketika perubahan iklim menimbulkan bencana, rakyat kecil selalu muncul sebagai kelompok yang paling terdampak.
Hal ini bukan semata karena rakyat kecil hidup ”dekat dengan alam”. Akan tetapi, posisi sosial ekonomi rakyat kecil yang berada dalam posisi paling rapuh ketika dunia fisik berubah.
Dalam situasi seperti ini, rakyat kecil pula yang pada akhirnya ditantang sebagai subyek yang harus menyesuaikan diri dalam perubahan iklim. Sebagaimana terbaca dalam survei Pew Reseach, rakyat bersedia berubah meskipun mereka bukan penyebab utamanya.
Akhirnya, perubahan iklim memperlihatkan sebuah realitas yang tak bisa terabaikan. Rakyat kecil yang paling sedikit berperan dalam kerusakan justru paling dahulu merasakan dampak, bahkan yang paling parah.
Dengan demikian, pusat perhatian sejatinya tidak lagi tuntutan terhadap rakyat untuk beradaptasi, tetapi tuntutan para pengambil keputusan untuk mengambil kebijakan yang lebih bertanggung jawab.
(Litbang Kompas)
Penulis:
Vincentius GitiyarkoEditor:
Yohan WahyuPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto