Eksplorasi tambang nikel di Raja Ampat sejak 1998. Target produksi 1,8 juta ton per tahun.
06 Jun 2025 12:52 WIB · Nusantara
Tepat empat tahun silam, Juni 2021, tim Kompas pergi ke Pulau Gag di kawasan Raja Ampat, Papua Barat Daya. Cuaca buruk disebut bakal menjadi teman selama perjalanan.
Akan tetapi, hal itu tidak menghalangi kami melihat dan menuliskan dampak tambang di sana. Ironisnya, belakangan, kabar tentang aktivitas itu meledak dibicarakan warganet.
Cuaca buruk menjadi kenyataan. Untuk mencapai pulau seluas 6.060 hektar itu, tim Kompas berhadapan dengan angin sangat kencang. Kecepatannya bisa menegakkan punggung gelombang hingga 5 meter.
Dengan ancaman itu, tidak heran apabila jalur menuju Pulau Gag disebut rawan kecelakaan laut. Banyak kapal tenggelam. Penumpangnya disebut tak selamat. Kami berlayar dalam cemas.
Beruntung, perjalanan laut selama 4 jam dari Waisiai, ibu kota Raja Ampat, itu berjalan lancar. Alam masih berbaik hati.
Akan tetapi, saat tiba di pesisir, hati tim Kompas ternyata masih jauh dari tenang. Kali ini, bukan waswas karena cuaca melainkan khawatir pada masa depan alam sekitar Raja Ampat.
Saat tiba di pesisir, air lautnya keruh. Permukaannya berlumpur.
Berbeda dengan pesisir pulau-pulau lain di Raja Ampat yang disinggahi beberapa hari sebelumnya. Karang dan ikan bisa dilihat dengan mata telanjang dari atas permukaan air.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/02/22/eb948e19-c6ce-46b6-82f4-50ae7afd3a3c.jpg)
Berada dalam wilayah Raja Ampat yang dijuluki ”Surga Terumbu Karang Dunia”, Gag menampilkan wajah jauh berbeda. Pesisir pulau itu rusak berat. Eksploitasi nikel dituding menjadi penyebabnya.
Tambang nikel di Pulau Gag itu belakangan kembali ramai dibicarakan. Publik menyoroti dampak tambang terhadap keberlangsungan ekosistem Raja Ampat. Pihak manajemen menyatakan akan menghentikan sementara kegiatan penambangan.
Pelaksana Tugas Presiden Direktur PT Gag Nikel Arya Arditya mengatakan, penutupan itu sesuai perintah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia. Selanjutnya, akan dilakukan verifikasi lapangan terkait kegiatan usaha pertambangan (Kompas.id 5/6/2025).
Sebelumnya, izin eksplorasi nikel di Pulau Gag turun pada 1998. Perusahaan lalu mendapat izin produksi pada 2017.
Mereka mulai melakukan produksi satu tahun kemudian. Target produksinya mencapai 1,8 juta ton per tahun.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/06/16/652b659d-7cec-40bd-96ec-01f4dbb22c58.jpg)
Empat tahun silam, guru besar logam berat dari Universitas Pattimura Ambon, Profesor Yusthinus T Male, sudah memprediksi penambangan nikel di Pulau Gag bakal merusak ekosistem Raja Ampat.
”Akhirnya mata semua orang terbuka melihat dampak nikel,” ujar Yusthinus lewat pesan singkat, Jumat (6/6/2025).
Ia kembali menegaskan sedimen yang mengandung logam berat, khususnya Nikel (Ni), sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup terumbu karang.
Selain itu, nikel juga sangat beracun bagi anemon laut. Nikel bahkan lebih beracun dari logam tembaga (Cu) karena mematikan larva karang.
Menurut Yusthinus, banyak lokasi tambang di daerah tropis berada di pulau-pulau kecil tercemar limbah tambang, seperti nikel. Padahal, penduduk setempat menjadikan laut sebagai sumber utama protein.
Ke depan, ia mendorong penelitian tentang risiko jangka panjang dampak polutan logam berat. Tidak hanya rantai makanan, tetapi juga ekosistem perairan.
Abraham Mariwy, pakar kimia dari Universitas Pattimura Ambon, menambahkan, banyak logam yang biasanya berasosiasi dalam tambang nikel. Tanpa disadari risiko besar bagi manusia dan lingkungan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/06/16/494316bc-083b-486f-a8de-3a1750350b73.jpg)
Menurut dia, nikel yang menjadi mineral utama dapat menyebabkan toksik bagi manusia berupa iritasi kulit, gangguan saluran pernapasan, merusak organisme air, dan mengganggu kualitas tanah dan air. Ada juga merkuri dan arsenik yang berbahaya.
Abraham pun mempertanyakan alasan pemerintah membiarkan kerusakan itu terus berlangsung. ”Wilayah timur yang menjadi benteng terakhir ekosistem di Indonesia dirusak setelah wilayah barat habis dieksploitasi. Ini masalah besar,” ujarnya.
Surga terumbu karang dunia itu kini terancam. Hal itu menunjukkan kawasan alam terbaik di Nusantara ini juga butuh perhatian semua pihak untuk sekadar bertahan hidup.
Penulis:
Fransiskus Pati HerinEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari