”Tertawa adalah obat bagi jiwa,” kata Bruno Dadic, pengunjung Museum HaHaHouse di Zagreb, Kroasia.
11 Feb 2025 20:59 WIB · Internasional
Hari-hari terasa muram dibombardir berita-berita seram? Segera hapus kemuraman itu dan segarkan jiwa dengan tertawa.
Caranya? Datanglah ke museum tawa. Di ibu kota Kroasia, Zagreb, berdiri museum tawa bernama ”HahaHouse”. Pendirinya adalah Andrea Golubic (43).
Ide awal berdirinya museum itu tercetus saat pandemi Covid-19. Kala itu, banyak orang muram, mengalami depresi, dan merasa terisolasi.
”Saya sadar, misi saya adalah menyembuhkan orang dengan tertawa,” ujar Golubic.
Ide tersebut datang dari lubuk hati. Golubic mengaku terinspirasi oleh dirinya sendiri di masa kecilnya. Seperti terlihat dalam foto dirinya saat berusia tujuh tahun dan duduk di bangku kelas satu, Golubic tampak tertawa lebar.
”Saat masih kecil, saya suka bercanda terus,” tutur Golubic.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/11/fc00712603565300a354973759e50b19-CROATIA_MUSEUM_OFFBEAT_127402587.jpg)
Dengan tertawa, energi negatif bisa dibuang. Pengunjung langsung disemprot dengan embusan asap putih ketika menginjakkan kaki masuk museum HahaHouse.
Embusan asap putih itu semacam ”disinfektan dari energi negatif” yang membasuh kecemasan-kecemasan pengunjung sebelum mereka memanjat dan masuk ”mesin cuci raksasa”.
Tema lain sajian di HahaHouse adalah ”sentrifugal kehidupan”. Di sini pengunjung meluncur lewat terowongan dengan muara di sebuah kolam penuh bola-bola warna putih. Di sinilah awal perjalanan menuju kegembiraan dimulai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/11/d22109fcf346b490f30af8c7fa1f1a90-CROATIA_MUSEUM_OFFBEAT_127402584.jpg)
Ada delapan zona interaktif di Museum HaHaHouse. Di salah satu zona itu, misalnya, terdapat paduan suara boneka anak ayam berbahan karet, yang menyanyikan lagu-lagu hit, seperti lagu Dancing Queen-nya ABBA.
Ada pula ruangan karaoke dengan suara-suara yang terdistorsi. Juga ada ruangan ”Arena Sumo” dengan kostum menggembung.
Tak ketinggalan, tayangan beberapa sejarah humor dari zaman kuno sampai era modern melalui teater, film, atau secara daring. Museum HaHaHouse juga menjelaskan gaya-gaya humor dengan permainan kata-kata, dagelan, hingga humor satire.
”Saya begitu sering melakukan operasi plastik. Kelak jika meninggal, aku akan mendonasikan tubuhku kepada Tupperware,” demikian petikan dari komedian AS, Joan Rivers, yang ditampilkan di museum itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/11/7be490589b0eddc769f77c7ce698754f-cropped_image.png)
Golubic menerangkan, HaHaHouse cocok buat seluruh kalangan, dari anak kecil hingga warga lansia. Orang dewasa diperbolehkan bermain-main seolah mereka kembali jadi anak-anak lagi.
”Mereka yang merasakan sedikit kegembiraan masa anak-anak bisa memperoleh energi (kegembiraan) itu lagi,” ujar Golubic.
Bruno Dadic, pensiunan yang berkunjung ke HaHaHouse, menuturkan dirinya merasa puas atas kunjungannya ke museum itu. ”Tertawa adalah obat bagi jiwa,” katanya.
Sebuah rumah sakit psikiatrik di Zagreb menyatakan ketertarikan untuk mengadakan tur kunjungan ke HaHaHouse. Kontak museum juga dilakukan dengan sekolah-sekolah dan rumah-rumah panti untuk para pensiunan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/11/078b2328c936f71b53d1f97cebc02ff5-CROATIA_MUSEUM_OFFBEAT_127402548.jpg)
Zorica Bucic, penyanyi asal kota pantai Split, mengatakan, museum HaHaHouse menjadi tempat yang tepat pada hari-hari ini ”ketika kita dibombardir terus-menerus oleh berita-berita buruk. ”Masuk (museum) di sini seperti memasuki masa kekanak-kanakan, semua masalah hilang,” tuturnya.
”Jika Anda sering datang ke mari, Anda tidak akan butuh psikologis,” lanjut Bucic.
Menurut psikolog Petar Kraljevic, tertawa adalah mekanisme pertahanan yang memberikan kekuatan pada orang dalam menghadapi masalah-masalah mereka. ”Andai saja sebuah resep untuk tertawa selama tiga jam per 24 jam bisa dituliskan, niscaya (resep) itu pasti akan memberikan hasil positif,” ujarnya. (AFP)
Penulis:
Muhammad Samsul HadiEditor:
Fransisca Romana Ninik WPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase