Mau Ikut Lomba Lari atau Berburu Sembako, ”Runners”?

Ajang-ajang lari di Indonesia masih menjejali berbagai macam produk sponsor ke dalam paket lomba. Ada pelari yang senang, tetapi tidak sedikit yang kurang berkenan.

15 Des 2024 08:00 WIB · Olahraga

Oleh Kelvin Hianusa, Nino Citra Anugrahanto

Pekan lalu, jagat media sosial diramaikan dengan perdebatan kaum “mendang-mending” tentang lomba lari. Banyak pelari membandingkan isi paket lomba atau race pack antara satu ajang dengan yang lain. Mereka memuji lomba dengan isi paket segudang dan mengkritik lomba yang minim variasi produk.

Natal masih beberapa minggu lagi, tetapi rombongan sinterklas seolah sudah hadir. Gambaran itu yang terbayang di kepala saat para pelari mengambil paket lomba untuk salah satu ajang lari jalan raya di Kota Bandung, pekan lalu. Mereka menggeret tas troli dengan ukuran sekitar 50 liter.

Isi tas beraneka ragam, berkantong-kantong. Mulai dari makanan ringan, susu, odol, sabun, sampai pembalut. Berbanding terbalik dengan ajang lain di Jakarta yang berlangsung pada hari yang sama. Ajang itu mendapat komentar negatif karena isi paket lomba kurang banyak dan variatif.

Dari perdebatan itu, muncul pertanyaan. Apakah pelari menjadikan isi paket lomba sebagai pertimbangan untuk memilih ajang? Kebetulan, sekitar sepekan berselang pada Sabtu (14/12/2024), sedang digelar pengambilan paket lomba Semarang 10K . Beberapa pelari memberikan opini mereka.

Peserta lari saat menunggu rekan mereka mengantre pengambilan perlengkapan race pack untuk Semarang 10K di The Park Mall, Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (14/12/2024). Semarang 10K merupakan ajang lari tahunan yang diselenggarakan Pemerintah Kota Semarang, Harian Kompas dan sejumlah pihak sponsor. Sebanyak 2.500 pelari akan mengikuti ajang Semarang 10K yang bertema "Step Up Your Limit" dengan melintasi rute salah satunya Kota Lama. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 13-12-2024

Pelari asal Kendal, Jateng, Naufal Erzal (26), salah satunya. Dia datang ke The Park Mall, Semarang, untuk mengambil paket lomba. Setelah memvalidasi data diri, dia diberikan tas jinjing putih. Naufal langsung memeriksa dua barang “keramat” yang tak boleh terlewat, yaitu jersei dan nomor bib.

Jersei sudah pas sesuai ukuran dan nomor bib juga ada. Naufal bergegas meninggalkan antrean seusai ritual pemeriksaan itu. “Intinya jersei dan nomor bib. Kalau tidak dua-duanya, kan, tidak bisa lomba. Jadi harus dipastikan paling awal,” katanya.

Di dalam tas itu juga terdapat produk yang bervariasi dari sponsor lomba, seperti makanan ringan, minuman isotonik, susu, obat-obatan, deodoran, dan lampu bohlam. Walaupun bervariasi, jumlahnya kebanyakan hanya satu untuk setiap produk. Semuanya muat dalam tas jinjing berukuran sedang.

Berbeda dengan kaum “mendang-mending”, Naufal ternyata lebih menyukai paket lomba yang minimalis. Makanan dan minuman dari sponsor bahkan tidak cukup penting baginya. Kebanyakan barang justru membuat tas jadi berat. “Kalau saya ingin yang simpel-simpel saja. Semestinya yang ada kaitan sama lomba. Tidak perlu beraneka ragam,” ujarnya.

Pretty Sihite, pelari elite nasional, punya pandangan agak berbeda. Juara bertahan Semarang 10K itu tidak mengharapkan isi paket lomba segudang, seperti habis belanja bulanan. Namun, dia juga tidak keberatan jika penyelenggara memberikan produk-produk sponsor, selama berguna.

Antusiasme pelari saat pengambilan perlengkapan lomba (racepack) lomba lari Runhub 2024 di Stasiun BNI City, Jakarta Pusat, Sabtu (21/9/2024). Runhub 2024 dengan tema ÓBeyond RunningÓ akan dilaksanakan pada Hari Minggu (22/9/2024) dengan titik start dan finis di Taman Mini Indonesia Indah.

“Buat saya sebagian isi paket lomba penting, sebagian lagi tidak penting. Kalau seperti makanan ringan yang tidak bergizi itu kurang penting. Kalau seperti obat pereda nyeri, sabun, multivitamin masih berfungsi karena bisa digunakan sehari-hari,” tutur Pretty.

Jangan harap sembako

Paket berisi sembako tidak akan ditemukan dalam berbagai ajang lomba lari ternama di negara-negara maju. Singapore Marathon yang berlangsung pada 29 November - 1 Desember 2024, contohnya. Pelari hanya diberikan tas ransel berisi jersei dan nomor bib.

Tokyo Marathon yang masuk dalam World Marathon Majors, tidak jauh berbeda. Selain jersei dan bib, pelari hanya dimodali gelang tangan penanda identitas peserta dan buku panduan lomba. Tidak ada makanan dan minuman, apalagi produk-produk rumah tangga.

Pegiat lari, Agus Hermawan atau yang dikenal dengan Abah Ush, merasakan sendiri pengalaman turun di Singapore Marathon pada dua pekan lalu. “Tidak ada apa-apa isi tasnya. Orang-orang di sana juga tidak peduli. Tidak terlalu ngejar barang kayak gitu. Cuma di Indonesia saja,” katanya.

Menurut penulis buku Enggak Lari, Enggak Keren tersebut, ada dua tipe pelari yang ada di Indonesia. Pertama yang sudah lama berlari. Mereka lebih mengutamakan kualitas lomba, seperti rute steril dan pos hidrasi lengkap. Performa dan kenyamanan berlari ada di atas segalanya.

Wartawan Kompas, dengan bib Tokyo Marathon 2018.Kompas/Agus Hermawan (USH)

Kedua merupakan kategori pelari yang kebanyakan masih baru. Mereka menilai uang pendaftaran lomba itu cukup mahal, sehingga butuh isi paket yang banyak untuk balik modal. Prinsip yang dipakai, “Kalau bisa untung kenapa tidak?” Lomba pun dijadikan ajang berburu sembako.

“Padahal pelari umumnya hanya membayar 20-30 persen dari biaya total untuk ikut lomba. Jadi mereka sebenarnya sudah disubsidi (oleh penyelenggara). Sering kali, sponsor menjadikan lomba sebagai ajang promosi. Jadi mereka menaruh barang gratisan sebanyak mungkin ke race pack,” pungkas Abah Ush.

Tentu para pelari bebas menentukan ingin ikut ke lomba apa pun. Setiap lomba punya kelebihan dan segmen masing-masing. Namun, jika terus membandingkan isi paket lomba dalam setiap ajang, pertanyaan itu akan selalu muncul. Ingin ikut lomba lari atau berburu sembako, runners?


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa, Nino Citra Anugrahanto
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .