Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu bangkit dari berbagai krisis dengan semangat persatuan dan gotong royong.
05 Sep 2025 08:00 WIB · Artikel Opini
Indonesia, sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, tengah menghadapi tantangan serius dalam menjaga kualitas dan esensi demokrasi. Kondisi demokrasi yang semestinya menjadi wadah untuk menyalurkan aspirasi rakyat dan menjamin keadilan sosial kini menunjukkan tanda-tanda keretakan.
Polarisasi yang semakin tajam, praktik politik yang pragmatis, lemahnya penegakan hukum, serta kekerasan aparat dan arogansi pejabat publik yang sampai memakan korban jiwa di kalangan sipil, menjadi ancaman nyata bagi demokrasi yang kita bangun bersama. Momentum Maulid Nabi Muhammad 1447 H menjadi saat yang tepat untuk melakukan refleksi mendalam tentang kondisi demokrasi kita dan mencari inspirasi dari teladan Nabi Muhammad SAW.
Demokrasi Indonesia saat ini sering kali terjebak dalam dinamika politik yang tidak sehat. Persaingan politik yang seharusnya berlangsung secara elegan dan beradab berubah menjadi ajang saling menjatuhkan. Media sosial yang seharusnya menjadi ruang dialog dan edukasi malah kerap menjadi ladang penyebaran hoax dan ujaran kebencian. Akibatnya, masyarakat terpecah dan sulit menemukan titik temu. Kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi menurun, dan ini berpotensi mengancam stabilitas nasional.
Lebih mengkhawatirkan lagi adalah munculnya kekerasan aparat dan arogansi pejabat publik yang tidak jarang berujung pada korban jiwa di kalangan sipil. Kasus-kasus penanganan demonstrasi yang berlebihan, tindakan represif terhadap kelompok masyarakat yang menyuarakan aspirasi, serta penyalahgunaan kekuasaan oleh pejabat publik menunjukkan bahwa demokrasi kita belum sepenuhnya menghormati hak asasi manusia dan prinsip keadilan.
Kekerasan semacam ini bukan hanya melukai korban secara fisik dan psikologis, tetapi juga merusak kepercayaan masyarakat terhadap negara dan sistem demokrasi itu sendiri.
Dalam konteks ini, kita dapat mengambil pelajaran berharga dari kehidupan Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad bukan hanya seorang pemimpin spiritual, melainkan juga pemimpin politik dan sosial yang berhasil membangun masyarakat Madinah yang plural dan harmonis. Beliau mengajarkan nilai-nilai keadilan, musyawarah, dan toleransi yang menjadi fondasi penting dalam demokrasi. Nabi Muhammad selalu mengedepankan dialog dan mufakat dalam menyelesaikan perbedaan, bukan kekerasan atau paksaan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/16/d791d5f9-92d4-4924-863f-5075a2418f29.jpg)
Salah satu contoh konkret adalah Piagam Madinah, sebuah dokumen yang mengatur hubungan antarkomunitas yang berbeda agama dan suku di Madinah. Piagam ini menunjukkan bagaimana Nabi Muhammad mampu menciptakan kesepakatan yang adil dan menghormati keberagaman. Dalam demokrasi Indonesia yang majemuk, semangat Piagam Madinah sangat relevan untuk diterapkan agar perbedaan tidak menjadi sumber konflik, melainkan kekayaan yang memperkuat persatuan.
Selain itu, akhlak mulia Nabi Muhammad seperti kejujuran, amanah, dan kesabaran harus menjadi teladan bagi para pemimpin dan seluruh elemen masyarakat. Demokrasi yang sehat membutuhkan pemimpin yang berintegritas dan masyarakat yang cerdas serta kritis.
Ketika pemimpin mengutamakan kepentingan pribadi atau kelompok, maka demokrasi akan kehilangan maknanya sebagai sistem pemerintahan rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.
Maulid Nabi Muhammad 1447 H juga mengingatkan kita akan pentingnya ukhuwah atau persaudaraan. Dalam konteks demokrasi, ukhuwah berarti membangun solidaritas dan rasa saling menghormati antarwarga negara. Demokrasi bukan ajang untuk saling menjatuhkan, melainkan sarana untuk bersama-sama membangun bangsa. Dengan semangat ukhuwah, kita dapat mengatasi perbedaan politik dan ideologi dengan cara yang damai dan konstruktif.
Refleksi ini harus menjadi panggilan bagi seluruh elemen bangsa, mulai dari pemerintah, partai politik, media, hingga masyarakat sipil. Pemerintah harus memastikan penegakan hukum yang adil dan transparan, serta menciptakan ruang partisipasi yang luas bagi masyarakat.
Partai politik perlu mengedepankan etika dan program yang prorakyat, bukan sekadar mengejar kekuasaan. Media harus bertanggung jawab dalam menyajikan informasi yang akurat dan membangun, bukan memecah belah. Masyarakat juga harus aktif dan kritis dalam mengawal demokrasi agar tidak disalahgunakan.
Kita juga perlu menguatkan pendidikan politik dan nilai-nilai kebangsaan sejak dini agar generasi muda memahami pentingnya demokrasi dan peran mereka dalam menjaga keutuhan bangsa. Pendidikan yang menanamkan nilai-nilai toleransi, keadilan, dan musyawarah akan melahirkan warga negara yang dewasa dan bertanggung jawab.
Dalam menghadapi tantangan demokrasi yang kompleks, kita tidak boleh kehilangan harapan. Sejarah telah membuktikan bahwa bangsa Indonesia mampu bangkit dari berbagai krisis dengan semangat persatuan dan gotong royong. Semangat kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai ujian, termasuk dalam memperbaiki sistem demokrasi yang tengah mengalami berbagai masalah.
Dengan meneladani akhlak dan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, kita dapat memperbaiki demokrasi Indonesia agar menjadi sistem yang benar-benar melayani rakyat dan menjamin keadilan sosial. Kepemimpinan Nabi yang mengedepankan kejujuran, keadilan, dan musyawarah menjadi contoh nyata bagaimana sebuah pemerintahan dapat berjalan dengan baik tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk diterapkan dalam konteks demokrasi Indonesia saat ini.
Momentum Maulid Nabi Muhammad 1447 H adalah waktu yang tepat untuk introspeksi dan memperkuat komitmen kita terhadap nilai-nilai luhur yang menjadi dasar demokrasi. Mari kita jadikan peringatan kelahiran Nabi sebagai inspirasi untuk membangun demokrasi yang beradab, inklusif, dan berkeadilan. Dengan demikian, Indonesia akan mampu menghadapi tantangan zaman dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang sejati.
Fadlillah Achmad, Guru Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Al-Ikhlas, Bontang, Kalimantan Timur
Penulis:
Fadlillah AchmadEditor:
Johanes Waskita Utama, Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase