Mayoritas Pemilih Telah Beri Suara di Pilpres Korea Selatan

Sudah 62 persen pemilih memberi suara di pemilihan untuk mencari pengganti Yoon Suk Yeol sebagai Presiden Korsel. Hasil resmi diketahui Rabu pagi.

03 Jun 2025 13:10 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

SEOUL, SELASA — Sudah 27,56 juta pemilih mendatangi tempat pemungutan suara pemilihan Presiden Korea Selatan. Hasil akhir akan diketahui pada Rabu (4/6/2025) dini hari.

Komisi pemilihan umum Korsel, NEC, melaporkan, 27,56 juta dari 44,39 juta pemilih terdaftar mendatangi 14.295 tempat pemungutan suara (TPS) hingga Selasa (3/6/2025) pukul 13.00 waktu Seoul. Jumlah itu setara 62 persen dari keseluruhan pemilih terdaftar.

Seluruh TPS ditutup pada pukul 18.00 waktu setempat. Penghitungan suara dimulai segera TPS tutup dan hasilnya akan diketahui paling cepat Rabu dini hari.

Menurut NEC, penghitungan resmi akan benar-benar tuntas pada Rabu pagi. Sekitar sejam selepas penghitungan resmi selesai, NEC akan menetapkan hasil resmi.

Lalu, pada siang atau sore hari, parlemen akan melantik presiden terpilih. Tidak ada periode transisi pemerintahan dari pemilu yang dipercepat ini.

TOPSHOT - South Korea's ex-president Yoon Suk Yeol votes at a polling station during the presidential election in Seoul on June 3, 2025. (Photo by YONHAP / AFP) / - South Korea OUT / NO ARCHIVES -  RESTRICTED TO SUBSCRIPTION USE

Pemberi suara, termasuk mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol, dan istrinya, Kim Keon-hee. Mereka memberi suara di Seoul selatan. Sementara Ketua Parlemen Korsel Woo Won-shik mendatangi TPS di Seoul utara.

Selepas memberi suara, Woo berharap kekacauan politik berakhir setelah pemilu. Ia merujuk pada periode gonta-ganti presiden dan perdana menteri Korsel sejak Desember 2024.

Pergantian dipicu keputusan Yoon memberlakukan darurat militer pada awal Desember 2024. Akibat keputusan itu, Yoon dimakzulkan dan kini sedang diadili atas tuduhan pengkhianatan.

Di pemilu kali ini, capresnya adalah Lee Jae-myung (61), Kim Moon-soo (73), Lee Jun-seok (40), Kwon Young-guk (61), dan Song Jin-ho (57). Kecuali Song, semua calon diusung partai.

Sejauh ini, Lee Jae-myung yang dicalonkan Partai Demokrasi diproyeksikan unggul. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan peluang keterpilihannya 40 persen.

Sementara Kim yang diusung Partai Kekuatan Rakyat (PPP) hanya mendapatkan 30 persen peluang terpilih. Adapun Lee Jun-seok dari Partai Reformasi Baru cuma berpeluang 10 persen.

People wait in line to cast their votes for the presidential election at a polling station in Seoul, South Korea, Tuesday, June 3, 2025. (AP Photo/Lee Jin-man)

Masalah dan skandal

Para capres di pemilu Korsel punya masalah masing-masing. Lee Jun-seok, calon termuda, pernah disanksi PPP yang kini mendukung Kim. Sanksi kepada Lee Jun-seok karena masalah penyuapan. Selain uang, lulusan Harvard University itu disuap lewat prostitusi.

Sementara Song dibelit 17 perkara penipuan dan kekerasan. Di pemilu kali ini, dia satu-satunya capres yang tidak kuliah.

Sementara Lee Jae-myung sedang diadili dalam kasus pelanggaran aturan pemilu. Selain 2025, ia ikut dan kalah di pilpres 2017 dan 2022.

Selama masa darurat militer 2024, ia dikenal luas karena menayangkan video sedang menerobos barikade militer. Ia menayangkan video dirinya memanjat perintang di depan gedung parlemen.

Di sejumlah debat capres, ia dituding terlibat pengiriman uang tunai ke Korea Utara. Pengiriman itu dinilai melanggar sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum Korsel soal Korut.

Sementara Kim Moon-soo maju mundur dengan PPP. Mantan penggiat serikat buruh itu dikenal keras dan tidak kompromi. Meski demikian, belakangan ia bergabung dengan PPP yang dulu menyokong Yoon di pemilu 2022. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Nur Hidayati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .