SEOUL, SELASA — Sudah 27,56 juta pemilih mendatangi tempat pemungutan suara pemilihan Presiden Korea Selatan. Hasil akhir akan diketahui pada Rabu (4/6/2025) dini hari.
Komisi pemilihan umum Korsel, NEC, melaporkan, 27,56 juta dari 44,39 juta pemilih terdaftar mendatangi 14.295 tempat pemungutan suara (TPS) hingga Selasa (3/6/2025) pukul 13.00 waktu Seoul. Jumlah itu setara 62 persen dari keseluruhan pemilih terdaftar.
Seluruh TPS ditutup pada pukul 18.00 waktu setempat. Penghitungan suara dimulai segera TPS tutup dan hasilnya akan diketahui paling cepat Rabu dini hari.
Menurut NEC, penghitungan resmi akan benar-benar tuntas pada Rabu pagi. Sekitar sejam selepas penghitungan resmi selesai, NEC akan menetapkan hasil resmi.
Lalu, pada siang atau sore hari, parlemen akan melantik presiden terpilih. Tidak ada periode transisi pemerintahan dari pemilu yang dipercepat ini.
Pemberi suara, termasuk mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol, dan istrinya, Kim Keon-hee. Mereka memberi suara di Seoul selatan. Sementara Ketua Parlemen Korsel Woo Won-shik mendatangi TPS di Seoul utara.
Selepas memberi suara, Woo berharap kekacauan politik berakhir setelah pemilu. Ia merujuk pada periode gonta-ganti presiden dan perdana menteri Korsel sejak Desember 2024.
Pergantian dipicu keputusan Yoon memberlakukan darurat militer pada awal Desember 2024. Akibat keputusan itu, Yoon dimakzulkan dan kini sedang diadili atas tuduhan pengkhianatan.
Di pemilu kali ini, capresnya adalah Lee Jae-myung (61), Kim Moon-soo (73), Lee Jun-seok (40), Kwon Young-guk (61), dan Song Jin-ho (57). Kecuali Song, semua calon diusung partai.
Sejauh ini, Lee Jae-myung yang dicalonkan Partai Demokrasi diproyeksikan unggul. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan peluang keterpilihannya 40 persen.
Sementara Kim yang diusung Partai Kekuatan Rakyat (PPP) hanya mendapatkan 30 persen peluang terpilih. Adapun Lee Jun-seok dari Partai Reformasi Baru cuma berpeluang 10 persen.
Masalah dan skandal
Para capres di pemilu Korsel punya masalah masing-masing. Lee Jun-seok, calon termuda, pernah disanksi PPP yang kini mendukung Kim. Sanksi kepada Lee Jun-seok karena masalah penyuapan. Selain uang, lulusan Harvard University itu disuap lewat prostitusi.
Sementara Song dibelit 17 perkara penipuan dan kekerasan. Di pemilu kali ini, dia satu-satunya capres yang tidak kuliah.
Sementara Lee Jae-myung sedang diadili dalam kasus pelanggaran aturan pemilu. Selain 2025, ia ikut dan kalah di pilpres 2017 dan 2022.
Selama masa darurat militer 2024, ia dikenal luas karena menayangkan video sedang menerobos barikade militer. Ia menayangkan video dirinya memanjat perintang di depan gedung parlemen.
Di sejumlah debat capres, ia dituding terlibat pengiriman uang tunai ke Korea Utara. Pengiriman itu dinilai melanggar sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum Korsel soal Korut.
Sementara Kim Moon-soo maju mundur dengan PPP. Mantan penggiat serikat buruh itu dikenal keras dan tidak kompromi. Meski demikian, belakangan ia bergabung dengan PPP yang dulu menyokong Yoon di pemilu 2022. (AP/AFP)
SEOUL, SELASA — Sudah 27,56 juta pemilih mendatangi tempat pemungutan suara pemilihan Presiden Korea Selatan. Hasil akhir akan diketahui pada Rabu (4/6/2025) dini hari.
Komisi pemilihan umum Korsel, NEC, melaporkan, 27,56 juta dari 44,39 juta pemilih terdaftar mendatangi 14.295 tempat pemungutan suara (TPS) hingga Selasa (3/6/2025) pukul 13.00 waktu Seoul. Jumlah itu setara 62 persen dari keseluruhan pemilih terdaftar.
Serial Artikel
Korea Selatan Kacau Balau karena Presiden Bolak-balik Ganti
Dalam enam bulan, Korea Selatan empat kali berganti presiden. Warga dan mitra bingung.
Seluruh TPS ditutup pada pukul 18.00 waktu setempat. Penghitungan suara dimulai segera TPS tutup dan hasilnya akan diketahui paling cepat Rabu dini hari.
Menurut NEC, penghitungan resmi akan benar-benar tuntas pada Rabu pagi. Sekitar sejam selepas penghitungan resmi selesai, NEC akan menetapkan hasil resmi.
Lalu, pada siang atau sore hari, parlemen akan melantik presiden terpilih. Tidak ada periode transisi pemerintahan dari pemilu yang dipercepat ini.
Pemberi suara, termasuk mantan Presiden Korsel Yoon Suk Yeol, dan istrinya, Kim Keon-hee. Mereka memberi suara di Seoul selatan. Sementara Ketua Parlemen Korsel Woo Won-shik mendatangi TPS di Seoul utara.
Selepas memberi suara, Woo berharap kekacauan politik berakhir setelah pemilu. Ia merujuk pada periode gonta-ganti presiden dan perdana menteri Korsel sejak Desember 2024.
Pergantian dipicu keputusan Yoon memberlakukan darurat militer pada awal Desember 2024. Akibat keputusan itu, Yoon dimakzulkan dan kini sedang diadili atas tuduhan pengkhianatan.
Serial Artikel
Parlemen Korsel Makzulkan Presiden Yoon Suk Yeol
Selama Presiden Yoon Suk Yeol dibebastugaskan, PM Han Duck-soo jadi penjabat Presiden Korsel. Mahkamah Konstitusi punya waktu 180 hari untuk memproses pemakzulan.
Di pemilu kali ini, capresnya adalah Lee Jae-myung (61), Kim Moon-soo (73), Lee Jun-seok (40), Kwon Young-guk (61), dan Song Jin-ho (57). Kecuali Song, semua calon diusung partai.
Sejauh ini, Lee Jae-myung yang dicalonkan Partai Demokrasi diproyeksikan unggul. Sejumlah jajak pendapat menunjukkan peluang keterpilihannya 40 persen.
Sementara Kim yang diusung Partai Kekuatan Rakyat (PPP) hanya mendapatkan 30 persen peluang terpilih. Adapun Lee Jun-seok dari Partai Reformasi Baru cuma berpeluang 10 persen.
Masalah dan skandal
Para capres di pemilu Korsel punya masalah masing-masing. Lee Jun-seok, calon termuda, pernah disanksi PPP yang kini mendukung Kim. Sanksi kepada Lee Jun-seok karena masalah penyuapan. Selain uang, lulusan Harvard University itu disuap lewat prostitusi.
Sementara Song dibelit 17 perkara penipuan dan kekerasan. Di pemilu kali ini, dia satu-satunya capres yang tidak kuliah.
Sementara Lee Jae-myung sedang diadili dalam kasus pelanggaran aturan pemilu. Selain 2025, ia ikut dan kalah di pilpres 2017 dan 2022.
Serial Artikel
Moon Jae-in Perpanjang Daftar Korupsi Presiden Korea Selatan
Seluruh Presiden Korsel sejak 1980 selalu terbelit korupsi. Moon Jae-in bukti terbarunya. Ia tersangkut karena anak dan menantunya.
Selama masa darurat militer 2024, ia dikenal luas karena menayangkan video sedang menerobos barikade militer. Ia menayangkan video dirinya memanjat perintang di depan gedung parlemen.
Di sejumlah debat capres, ia dituding terlibat pengiriman uang tunai ke Korea Utara. Pengiriman itu dinilai melanggar sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa dan hukum Korsel soal Korut.
Sementara Kim Moon-soo maju mundur dengan PPP. Mantan penggiat serikat buruh itu dikenal keras dan tidak kompromi. Meski demikian, belakangan ia bergabung dengan PPP yang dulu menyokong Yoon di pemilu 2022. (AP/AFP)