Program Makan Bergizi Gratis kembali berjalan seusai liburan sekolah. Harga sejumlah komoditas pangan seperti ayam dan telur pun kembali terdongkrak.
22 Jul 2026 08:20 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/FABIO MARIA LOPES COSTA
Program Makan Bergizi Gratis kembali berjalan sepekan terakhir seiring dimulainya tahun ajaran baru. Tingginya permintaan komoditas pangan untuk program itu kembali memicu kenaikan harga telur dan daging ayam di Kota Bandung, Jawa Barat.
Harga di tingkat agen dan pedagang eceran pun terus terdongkrak. Hal inilah yang dirasakan para pedagang di pasar tradisional.
Kompas memantau langsung kenaikan harga telur dan daging ayam ras pada sejumlah pasar tradisional di Kota Bandung pada Selasa (21/7/2026). Di Pasar Kosambi, yang merupakan pasar tradisional besar di Kota Bandung, harga daging ayam melonjak dari Rp 33.000 menjadi Rp 37.000 per kilogram. Di Pasar Cicaheum, harga ayam juga naik rata-rata menjadi Rp 36.000 per kg.
Adapun harga telur naik dari Rp 20.000 menjadi Rp 24.500 per kg. Harga barang kebutuhan pokok di kedua pasar tradisional ini menjadi acuan pemerintah daerah dalam memantau inflasi yang dipengaruhi harga barang pokok.
Sofyan (54), pedagang ayam di Pasar Kosambi, mengatakan, kenaikan harga daging ayam yang drastis itu diprotes para konsumennya. ”Kenaikan harga daging ayam sangat membebani kami dan konsumen,” kata Sofyan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/21/9a899e684f0f9313e15d12e769e6df7f-IMG_20260721_195829.jpg)
Harga daging ayam naik di tingkat distributor seperti dari daerah Lembang, Bandung Barat. Hal ini yang memicu Sofyan dan para pedagang daging ayam di Pasar Kosambi terpaksa menaikkan harga di tingkat pedagang eceran.
”Kami sama sekali tidak merasakan manfaat MBG, tetapi harus menanggung dampak kenaikan harga,” ujarnya.
Ia meminta pemerintah turun tangan untuk mengatasi dampak kenaikan barang pokok akibat program tersebut. ”Masyarakat hanya ingin mendapatkan pangan dengan harga yang stabil,” ujarnya.
Hal yang sama dikeluhkan Agus, pedagang telur di Pasar Kosambi. Ia mengungkapkan, harga telur naik menjadi Rp 24.900 per kilogram. Padahal, saat program MBG tidak berjalan karena liburan sekolah, harga telur turun menjadi Rp 20.000 per kilogram.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/21/de88cd2e9db1283cb10407281569f814-IMG_20260721_101642.jpg)
”Masyarakat mengeluhkan harga telur yang kembali mahal. Saya harap pemerintah bertanggung jawab atas masalah ini,” harapnya.
Sementara itu, Alan (50), salah seorang pedagang daging ayam broiler di Pasar Cicaheum, mengakui harga ayam merangkak naik menjadi Rp 36.000 per kilogram selama sepekan terakhir. Kenaikan ini bersamaan dengan beroperasinya kembali program MBG.
Kami sama sekali tidak merasakan manfaat MBG, tetapi harus menanggung dampak kenaikan harga.
Ia menuturkan, sebelumnya harga daging ayam potong sempat turun menjadi Rp 33.000 per kilogram. Penurunan harga daging ayam karena dapur MBG tidak beroperasi selama liburan sekolah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/21/7e3d8b5f6368a2494aa96f0e2123abe5-IMG_20260721_075332.jpg)
”Kenaikan harga daging ayam ini bersamaan dengan MBG kembali berjalan. Sebelumnya terjadi penurunan harga, tetapi tidak sampai sebulan saja,” kata Alan.
Sebelumnya Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menanggapi isu kenaikan harga dengan menekankan pentingnya menyesuaikan produksi pangan dengan kebutuhan pasar. Menurut Dedi, tingginya permintaan komoditas pangan untuk MBG harus diimbangi dengan peningkatan produksi.
”Jumlah ikan, daging, telur, sayur, hingga beras harus semakin banyak. Pemerintah perlu membuka ruang investasi di bidang pertanian dan mendorong masyarakat meningkatkan produktivitas tanaman pangan,” katanya.
Pengamat ekonomi Universitas Pasundan, Bandung, Acuviarta Kartabi, menilai, kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok erat kaitannya dengan peningkatan permintaan komoditas pangan untuk program MBG.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/07/21/003b06cdfd25cd1705c1014eea367877-cropped_image.jpg)
Ia menyebut bahwa gejala kenaikan harga sudah terlihat sejak Oktober 2025, terutama pada komoditas telur, daging ayam ras, dan cabai rawit.
Menurut Acuviarta, efek program MBG terhadap pasar muncul dalam dua bentuk. Pertama, dampak langsung peningkatan permintaan. Kedua, munculnya spekulasi harga oleh sebagian pelaku pasar.
”Ada pedagang atau distributor yang menaikkan harga dengan alasan stok berkurang. Di beberapa tempat stok benar-benar menipis, tapi ada juga yang memanfaatkan momentum,” ujarnya.
Penulis:
Fabio Maria Lopes CostaEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto