Setiap lansia memiliki kondisi yang berbeda-beda sehingga MBG yang diberikan tidak bisa diseragamkan seperti halnya pada anak sekolah.
20 Jan 2026 16:28 WIB · Kesehatan
KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA
JAKARTA, KOMPAS — Rencana pemerintah memperluas program Makan Bergizi Gratis atau MBG kepada kelompok lanjut usia perlu dipertimbangkan secara mendalam. Setiap lansia memiliki kondisi yang berbeda-beda sehingga MBG yang diberikan tidak bisa diseragamkan seperti halnya pada anak sekolah.
Pendiri dan CEO Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), Diah Satyani Saminarsih, mengatakan, setiap lansia memiliki kebutuhan nutrisi dan kondisi kesehatan yang sangat spesifik dan kompleks. Selain itu, lansia juga memiliki kerentanan ekonomi, sosial, dan geografis yang berbeda-beda.
Dia mencontohkan, banyak lansia yang hidup dengan penyakit tidak menular (PTM), seperti diabetes, kardiovaskular, gangguan ginjal, atau setidaknya memiliki risiko tinggi mengidap penyakit tersebut. Di sisi lain, tak sedikit pula lansia yang hidup sendirian, bahkan telantar.
”Apabila lansia tersebut memang sudah didiagnosis PTM, maka harus ada rencana makanannya sendiri. Berapa lemak, protein, karbohidrat yang bisa dia konsumsi itu beda-beda tergantung kondisi atau hasil pemeriksaan laboratorium. Enggak bisa semua dipukul rata dalam MBG,” kata Diah saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (20/1/2026).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/31/3d4b8d55-6d41-4a5b-9e47-507bfa83e6b0_jpg.jpg)
Makanan untuk lansia sebaiknya memiliki protein yang cukup serta mikronutrien krusial seperti kalsium, vitamin D, B12, zat besi, dan zinc. Kemudian, kalorinya perlu disesuaikan agar lebih rendah nan padat gizi.
Selain itu, kandungan gula, garam, dan lemak jenuhnya harus sesuai dengan kondisi medis. Dan selayaknya MBG yang ideal, sebaiknya tidak berbentuk makanan olahan (UPF/ultraprocessed food).
Diah mewanti-wanti, satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang memasak untuk lansia harus higienis dan menyajikan makanan yang benar-benar bergizi, tanpa kesalahan. Ini becermin dari ribuan kasus keracunan makanan pada penyelenggaraan MBG untuk anak sekolah.
”Kita tidak mau menambah risiko tersebut kepada lansia, yang kalau sampai terjadi akan lebih sulit untuk mengembalikan kondisi kesehatannya," ucapnya.
Secara umum, lansia di Indonesia berada pada kelompok yang rentan secara ekonomi dan sosial. Mereka sering mengalami penurunan pendapatan akibat berkurangnya produktivitas, hidup di bawah garis kemiskinan, memiliki akses terbatas ke program perlindungan sosial, serta menghadapi risiko kesehatan dan disabilitas yang meningkat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/02/26/a7eccff4-c895-4c3f-9252-123e8cc0061a_png.png)
Menurut studi Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan SMERU tahun 2020, sebanyak 11 persen penduduk lansia hidup dalam kemiskinan. Sekitar setengah dari jumlah penduduk lansia mengalami gangguan kesehatan, seperempatnya mengalami sakit, dan 44,8 persen memiliki disabilitas.
Oleh karena itu, penyediaan program perlindungan sosial yang memadai merupakan hal penting. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah sudah memiliki beberapa program perlindungan sosial untuk penduduk lansia, tetapi jumlah penerima manfaatnya sangat terbatas.
Memberi makan kepada lansia juga bukan program baru. Kementerian Sosial telah melakukannya melalui program permakanan untuk lansia tunggal dan disabilitas sejak akhir 2022.
Dalam tiga tahun terakhir, program ini telah menjangkau sekitar 100.000 warga lansia tunggal dan 33.774 penyandang disabilitas di seluruh Tanah Air. Makanan bagi warga lansia dan penyandang disabilitas diberikan sebanyak dua kali sehari.
Setiap porsi nilainya Rp 15.000 dengan menu nasi atau makanan sejenis, lauk-pauk, sayur, buah potong, dan air mineral. Makanan itu dimasak oleh 1.644 kelompok masyarakat (pokmas) di seluruh Indonesia yang bertugas memastikan makanan dibuat dengan baik dan sampai kepada penerima dengan baik. Mereka pun mendapatkan honor yang sepadan atas kesukarelaannya membantu sesama.
Sekitar setengah dari jumlah penduduk lansia mengalami gangguan kesehatan, seperempatnya mengalami sakit, dan 44,8 persen memiliki disabilitas.
Sebagai contoh, Pokmas Ciracas Barokah 1 terdiri atas enam ibu rumah tangga yang diberdayakan untuk memasak 200 porsi bagi 100 lansia di Kecamatan Ciracas pada 2024. Mereka dibayar Rp 60.000 per hari atau setara dengan Rp 1,8 juta per bulan.
Setelah matang dan selesai dikemas, makanan diantarkan oleh tiga kurir yang dibayar Rp 2.000 per alamat antar. Dalam sebulan, kurir bisa menerima penghasilan berkisar Rp 100.000 hingga Rp 120.000 per hari atau sekitar Rp 3,6 juta per bulan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/07/e18c2068-ffc0-4675-8b47-1bb0cc96b9f5_jpg.jpg)
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menjelaskan, pemerintah kini sedang mengkaji pengembangan permakanan menjadi program MBG. Selain memberi makan, pemerintah juga akan menjaring perawat lansia (caregiver) bersertifikat dan memberikan gaji untuk merawatnya.
”Karena rata-rata lansia dan disabilitas hidup sendiri, jadi ada caregiver, semacam pengasuh gitu yang sudah terlatih bersertifikat sehingga bisa melayani, bisa mendampingi, bisa membantu para lansia yang tinggal sendirian,” kata Saifullah.
Dengan begitu, pemerintah tidak hanya hadir untuk memastikan lansia mendapat makanan, tetapi juga mendampingi dan merawat yang layak agar mereka dapat menjalani hari tua dengan lebih sehat, aman, dan bermartabat. MBG bagi lansia harus dilakukan secara lebih hati-hati, manusiawi, dan berbasis kebutuhan.
Penulis:
Stephanus AranditioEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti