Mbok Sarinah dan Jalan Gastrodiplomasi S’RASA

Direktur Eksekutif Levantine Public Diplomacy Paul Rockower menyebut gastrodiplomasi sebagai metode menjangkau hati dan pikiran orang-orang melalui rasa dan perut.

31 Agt 2025 16:22 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Hendriyo Widi

Indonesia menyeriusi jalan gastrodiplomasi melalui program S’RASA, atau Rasa Rempah Indonesia. Melalui S’RASA, Indonesia ingin mengatasi ketertinggalan dari sejumlah negara yang sudah terlebih dahulu menempuh jalan gastrodiplomasi. Mbok Sarinah menjadi saksi bisunya.

S’RASA merupakan program memopulerkan kuliner khas Nusantara berbasis bumbu rempah di seluruh penjuru dunia melalui restoran-restoran Indonesia. Beberapa makanan Indonesia yang kaya akan rempah itu adalah rendang; sate; gado-gado; nasi goreng; rawon; gudeg; ayam betutu, taliwang, dan woku; serta aneka soto dan mangut.

Model percontohannya akan dilakukan di sejumlah restoran di lima kota besar di lima negara. Kelima kota besar itu adalah London, Inggris; Tokyo, Jepang; Sydney, Australia; Amsterdam, Belanda; dan New York, Amerika Serikat.

Sejumlah restoran di lima kota di lima negara itu bakal dikurasi dan dijadikan wadah representasi kuliner otentik atau khas Indonesia. Restoran-restoran tersebut akan didukung dengan pasokan bumbu rempah asli Indonesia dan bantuan pembiayaan.

S’RASA merupakan kelanjutan dari program Indonesia Membumbui Dunia (Indonesia Spice Up the World/ISUTW) yang berlangsung pada 2021-2024. Program itu merupakan hasil kolaborasi Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian BUMN, Kementerian Pariwisata, Kementerian Ekonomi Kreatif, dan Kementerian UMKM.

Mereka meluncurkan jalan gastrodiplomasi S’RASA di Skydeck Sarinah, Thamrin, Jakarta, Kamis (28/8/2025) malam. Sarinah merupakan pusat perbelanjaan terbesar pertama di Indonesia yang diresmikan Presiden pertama RI Sukarno pada 1966.

Quote

S’RASA menjadi jembatan diplomasi kuliner Indonesia. Selain itu, S’RASA juga menjadi wadah mendorong ekspor rempah, bumbu, dan sejumlah produk lainnya.

Kementerian Perdagangan bersama lima kementerian lain meluncurkan program S’RASA, Rasa Rempah Indonesia, di Skydeck Sarinah, Thamrin, Jakarta, Kamis (28/8/2025) malam.

Sejak awal didirikan, Sukarno mendedikasikan Sarinah sebagai etalase produk-produk pertanian, kerajinan, dan industri rakyat serta sentra barang-barang kebutuhan pokok bagi masyarakat. Nama Sarinah diambil dari pengasuh Sukarno kecil, yakni Mbok Sarinah.

”...Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Dia mbok saya. Dia membantu ibu saya, dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia, saya dapat banyak pelajaran mencintai orang kecil. Dia sendiri orang kecil. Tetapi budinya selalu besar”, tulis Soekarno dalam pengantar bukunya, Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia.

Selama hampir tiga dekade, Sarinah menjadi simbol sekaligus saksi bisu pembangunan dan perkembangan ekonomi kerakyatan dan kreatif Indonesia. Tidak mengherankan jika keenam kementerian memilih meluncurkan jalan gastrodiplomasi S’RASA di ”rumah” Mbok Sarinah.

Kuliner dan UMKM

Dalam peluncuran S’RASA, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, S’RASA menjadi jembatan diplomasi kuliner Indonesia. Selain itu, S’RASA juga menjadi wadah mendorong ekspor rempah, bumbu, dan sejumlah produk lain sebagai bahan baku dan pelengkap sajian kuliner Indonesia di berbagai belahan dunia.

”Melalui S’RASA, kami tidak hanya mengenalkan kuliner khas Indonesia berbumbu rempah, tetapi juga membuka jalan berbagai produk ekspor pendukungnya ke kancah dunia,” katanya melalui siaran pers di Jakarta.

Produk rempah-rempah dipamerkan dalam Trade Expo Indonesia 2019 di Indonesia Convention Exhibition, BSD City, Tangerang, Banten, Rabu (16/10/2019). Pameran dagang terbesar di Indonesia ini dibuka oleh Wakil Presiden M Jusuf Kalla dan akan berlangsung hingga 20 Oktober 2019. Kompas/Priyombodo (PRI)16-10-2019

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rachman berpendapat senada. Ia menyebut jalan gastrodiplomasi S’RASA sebagai salah satu ekosistem untuk memperkuat UMKM, khususnya sektor bumbu dan rempah, di pasar internasional.

Selain itu, program S’RASA juga didukung sejumlah perusahaan besar yang bergerak di sektor makanan dan minuman Indonesia, seperti Kecap Bango, produk bumbu Indofood, dan minuman herbal Acaraki. Melalui program itu, perusahaan-perusahaan besar diharapkan semakin meningkatkan kerja sama dengan UMKM.

Kementerian Perdagangan mencatat, pada 2024, Indonesia merupakan eksportir rempah terbesar keempat dunia setelah India, Vietnam, dan China. Pada tahun itu, nilai ekspor rempah RI ke dunia mencapai 989,5 juta dollar AS dengan tren pertumbuhan 1,94 persen dalam lima tahun terakhir. Produk rempah ekspor unggulan Indonesia adalah lada, cengkeh, dan pala.

Keberadaan restoran Indonesia di luar negeri juga menopang pertumbuhan ekspor produk selain rempah, yakni kopi dan teh. Total nilai ekspor rempah-rempah, kopi, dan teh Indonesia pada Januari-Juni 2025 mencapai 1,63 miliar dollar AS. Nilai ekspor tersebut tumbuh 86,5 persen dibandingkan Januari-Juni 2024 yang sebesar 874,1 juta dollar AS.

Dalam peluncuran itu, Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha C Nasir menuturkan, S’RASA bakal mendorong standardisasi rasa sehingga kuliner Nusantara dapat disajikan dengan cita rasa konsisten di restoran-restoran Indonesia di luar negeri. Kementerian Luar Negeri akan menjadikan perwakilan RI di sejumlah negara sebagai ujung tombak gastrodiplomasi.

”Kami juga telah mengembangkan Dashboard Gastrodiplomasi Indonesia sebagai referensi informasi restoran dan rempah Indonesia,” katanya.

Yayasan Nusa Gastronomi Indonesia, melalui program Pusaka Rasa Nusantara, mendokumentasikan resep jajanan tradisional di Desa Perpat, Membalong, Kabupaten Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (19/7/2022). Program ini merupakan kerja sama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat melalui hibah Ambassador Fund for Cultural Preservation. *** Local Caption *** Ruti burong atau roti berbentuk

Adapun Menteri Pariwisata Widiyanti Putri menekankan, program S’RASA sejalan dengan program unggulan Kementerian Pariwisata, yakni Quality Tourism. Salah satu fokus utama program Quality Tourism adalah pengembangan gastronomi sebagai salah satu upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi kuliner berkualitas.

”Keberadaan restoran Indonesia di luar negeri berperan penting untuk meningkatkan kesadaran tentang suatu negara melalui cita rasa dan suasana. Hal ini akan menumbuhkan rasa ingin tahu dan kedekatan emosional sehingga mendorong minat masyarakat di luar negeri berkunjung ke Indonesia,” kata Widiyanti.

Langkah itu juga sejalan dengan inisiatif Pemerintah Indonesia menjadikan jalur rempah sebagai warisan budaya dunia oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Inisiatif ini bertujuan mengangkat kekayaan budaya dan sejarah bahari Nusantara, yang mencakup interaksi bangsa-bangsa melalui perdagangan rempah, serta menjadi dasar bagi pembangunan berkelanjutan dan identitas bangsa Indonesia yang majemuk.

Global Thai dan ”quinoa”

Gastrodiplomasi sebenarnya berakar dari diplomasi kuliner yang dikembangkan sejak zaman perkembangan sejumlah kerajaan di berbagai belahan dunia. Kini, di era modern, duta besar setiap negara mengembangkan kuliner sebagai salah satu jalan diplomasi.

Sejumlah negara bahkan mengembangkan diplomasi kuliner itu dengan mengadopsinya sebagai program ”menginvasi” dunia melalui kuliner dan budaya. Bahkan, upaya-upaya itu sampai memunculkan istilah ”gastrodiplomasi”.

Direktur Eksekutif Levantine Public Diplomacy Paul Rockower memperkenalkan istilah tersebut untuk pertama kali. Ia menyebut gastrodiplomasi sebagai metode menjangkau hati dan pikiran orang-orang melalui rasa dan perut.

Kemudian, oleh Sam Chapple-Sokol, penulis dan peneliti diplomasi pangan, istilah tersebut didefinisikan dengan lebih tepat. Gastrodiplomasi merupakan metode pemanfaatan makanan dan kuliner sebagai instrumen untuk menciptakan pemahaman lintas budaya dengan harapan dapat meningkatkan interaksi dan kerja sama (Soft Power with Flavour, Tanja Strugar, Conflux Center).

Suasana di Warung SCI Prikhpun Manow, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (9/4/2025). Penikmat kuliner harus jauh-jauh hari memesan untuk bisa menikmati menu di restoran Thailand tersebut.

Lalu, bagaimana praktiknya di sejumlah negara? Thailand memulai jalan gastrodiplomasi dengan program Global Thai pada 2002 dan dikembangkan menjadi Kitchen of the World pada 2023.

”Negara gajah putih” tersebut berupaya mengenalkan kuliner khas Thailand, seperti tom yum dan thai tea, ke kancah dunia. Caranya adalah dengan membangun restoran dan waralaba kuliner khas Thailand di sejumlah negara di dunia.

Thailand juga membangun sistem Thai SELECT, yakni sistem sertifikasi yang ketat untuk menjamin keaslian dan kualitas restoran Thailand di seluruh dunia. Untuk mendapatkan lisensi itu, sebuah restoran harus memenuhi sejumlah syarat, antara lain menggunakan bahan-bahan asli Thailand, mempekerjakan koki Thailand bersertifikat, dan 60-80 persen menunya berupa hidangan otentik Thailand.

Quote

Jumlah restoran penyaji kuliner khas Thailand di sejumlah negara meningkat signifikan. Dalam 22 tahun terakhir atau periode 2022-2024, jumlahnya bertambah dari 5.500 restoran menjadi 17.500 restoran.

Tidak hanya itu, Pemerintah Thailand juga memberikan permodalan secara selektif melalui pinjaman lunak dari Export-Import Bank of Thailand. Setiap warga negara atau diaspora Thailand yang berminat membuka atau mengembangkan restoran Thailand di luar negeri dapat meminjam dana hingga 3 juta dollar AS.

Hasilnya, jumlah restoran penyaji kuliner khas Thailand di sejumlah negara meningkat signifikan. Dalam 22 tahun terakhir atau periode 2022-2024, jumlahnya bertambah dari 5.500 restoran menjadi 17.500 restoran.

Korea Selatan juga mengembangkan diplomasi kuliner pada 2009 melalui Diplomasi Hansik. Hansik merupakan makan tradisional Korsel, antara lain seperti kimchi (acar sayuran fermentasi), bulgogi (daging panggang), bibimbap (nasi campur sayuran dan daging), tteokbokki (kue beras pedas), dan jjigae (sup).

Langkah tersebut merupakan bagian dari pengembangan Hallyu atau Gelombang Korea yang diawali dengan K-pop pada 1997. Gelombang penyebaran budaya populer modern dan tradisional Korea itu kemudian merambah ke K-drama, film, kuliner, dan mode.

Di era tahun 2000-an, Malaysia dan Peru juga mengadopsi cara-cara seperti itu. Malaysia menelurkan program Malaysia Kitchen for the World pada 2010. Peru menginisiasi Mucho Gusto (senang berjumpa denganmu) untuk mengembangkan gastronomi.

Seorang pembeli tengah berbelanja ikan asin di Pasar Gyeongdong, Seoul, Korea Selatan, Kamis (24/4/2025).

Bahkan, pada 2013, Peru bersama Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menginisiasi pengembangan quinoa. Quinoa adalah biji-bijian dari wilayah Andes yang dianggap sebagai induk biji-bijian oleh suku Inca. Quinoa merupakan bahan baku nasi, sup, bubur, dan bir khas Peru.

Melalui Mucho Gusto dan pengembangan quinoa, Peru berupaya memadukan pengembangan ketahanan pangan dan pariwisata. Ini mengingat Peru memiliki sejumlah situs warisan dunia, termasuk Machu Picchu, sebuah situs Inca yang terkenal di Pegunungan Andes.

Sementara itu, Indonesia telah memperbarui jalan gastrodiplomasi dari ISUTW menjadi S’RASA. Melalui program ISUTW, Indonesia menargetkan ekspor rempah tumbuh 25 persen menjadi 2 miliar dollar AS dan terjadi penambahan 4.000 restoran Indonesia di luar negeri pada 2024.

Hasilnya? Ekspor rempah-rempah Indonesia baru mencapai 989,5 juta dollar AS pada 2024. Berdasarkan survei Kementerian Luar Negeri dari 132 perwakilan RI di luar negeri, jumlah restoran yang menyajikan kuliner Indonesia mencapai 1.221 restoran.

Apakah jalan gastrodiplomasi selanjutnya, yakni S’RASA, bakal menyempurnakan atau bahkan melampaui target sebelumnya? Mbok Sarinah bakal menjadi saksi bisunya.

Kinerja Ekspor Rempah infografik


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti