MBS Coba Pikat Donald Trump dengan Investasi Rp 9.685 Triliun di AS

Trump meminta Arab Saudi menaikkan investasi ke AS jadi 1 triliun dollar AS (Rp 16.148 triliun). Jika dipenuhi, ia menjanjikan Saudi jadi tujuan lawatan pertamanya.

24 Jan 2025 14:32 WIB · Internasional

Oleh Irene Sarwindaningrum

DUBAI, JUMAT — Arab Saudi menawarkan investasi dengan nilai fantastis sebesar 600 miliar dollar AS atau sekitar Rp 9.685 triliun selama empat tahun ke depan sebagai jurus untuk memikat Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump menaikkan tawaran itu menjadi 1 triliun dollar AS atau Rp 16.148 triliun.

Jika tawaran tersebut dipenuhi Riyadh, Trump menjanjikan Arab Saudi bakal menjadi negara pertama yang akan ia kunjungi.

Trump menyebutkan tawaran itu saat tampil sebagai pembicara secara daring pada Forum Ekonomi Dunia (WEF) yang berlangsung di Davos, Swiss, Kamis (23/1/2025) waktu setempat.

”Saya akan meminta Putra Mahkota, orang yang hebat itu, untuk membulatkan tawarannya menjadi sekitar 1 triliun dollar AS. Saya pikir mereka akan melakukannya karena selama ini kami telah sangat baik kepada mereka,” kata Trump secara daring dari Washington DC.

(From L) Santander Bank executive chairperson Ana Botin, Bank of America CEO Brian Thomas Moynihan, French energy group TotalEnergies CEO Patrick Pouyanne, Blackstone CEO Stephen A. Schwarzman World Economic Forum President and CEO Borge Brende attend a session as US President Donald Trump is seen on a giant screen during his address by video conference at the World Economic Forum (WEF) annual meeting in Davos on January 23, 2025. (Photo by Fabrice COFFRINI / AFP)

Pada forum ekonomi tahunan yang dihadiri para pemimpin negara dan lembaga ekonomi Eropa dan negara lain itu, Trump juga menyatakan akan meminta Riyadh dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menurunkan harga minyak.

Sebelumnya, Kamis pagi, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) mengatakan kepada Trump bahwa Kerajaan Arab Saudi ingin berinvestasi 600 miliar dollar AS di AS selama empat tahun ke depan. Tawaran itu disebutkan dalam pembicaraan melalui telepon dengan Trump.

”Putra Mahkota menegaskan niat kerajaan untuk meningkatkan investasi dan perdagangannya dengan Amerika Serikat selama empat tahun ke depan sebesar 600 miliar dollar AS dan berpotensi lebih dari itu,” demikian laporan kantor berita Arab Saudi, Saudi Press Agency (SPA).

Laporan itu tidak merinci bentuk maupun sektor investasi dan perdagangan yang dimaksud.

Pembicaraan via telepon dengan MBS merupakan pembicaraan telepon pertama Trump dengan pemimpin negara lain sejak pelantikannya, Senin (20/1/2025). Dalam pembicaraan itu, MBS mengucapkan selamat kepada Trump sekaligus menyampaikan salam dari ayahnya, Raja Salman bin Abdulazis al-Saud.

Mengulang 2017

Cara Arab Saudi memikat Trump pada periode keduanya ini sama dengan cara yang digunakan pada periode pertamanya. Pada 2017, Arab Saudi menanamkan investasi sebesar 450 miliar dollar AS ke Amerika Serikat.

Investasi itu diganjar dengan kunjungan Trump ke kerajaan itu sebagai lawatan luar negeri pertamanya sebagai presiden AS. Hal ini mematahkan tradisi lawatan pertama presiden AS yang baru saja dilantik yang biasanya ke Inggris.

Quote

Jika Arab Saudi mau membeli 450 miliar atau 500 miliar dollar AS lagi, kami menaikkan karena inflasi, saya pikir saya mungkin akan pergi (ke Arab Saudi).

Tawaran MBS pada Kamis pagi itu muncul setelah Trump pada hari pelantikannya, Senin lalu, mengatakan niatnya untuk mengunjungi Arab Saudi sebagai lawatan pertamanya lagi. Syaratnya, Riyadh melipatgandakan investasinya

”Perjalanan luar negeri pertama (presiden AS) biasanya ke Inggris, tetapi saya melakukannya dengan Arab Saudi terakhir kali karena mereka setuju untuk membeli produk kami senilai 450 miliar dollar AS,” kata Trump di Ruang Oval, Senin.

”Jika Arab Saudi mau membeli 450 miliar atau 500 miliar dollar AS lagi, kami menaikkan karena inflasi, saya pikir saya mungkin akan pergi (ke Arab Saudi),” kata Trump.

FILE- President Donald Trump shakes hands with Saudi Deputy Crown Prince and Defense Minister Mohammed bin Salman during a bilateral meeting, in Riyadh, May 20, 2017. (AP Photo/Evan Vucci, File)

Hal itu juga menekankan kedekatan pemerintahan Trump dengan para penguasa negara-negara Teluk yang kaya minyak itu. Bisnis pribadi Trump dan keluarganya juga banyak berkembang di negara-negara Teluk yang kaya itu.

Di antaranya, proyek-proyek perusahaan real estate milik Trump dan keluarganya. Salah satunya, rencana pembangunan Trump Tower oleh Trump Organization di ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

Pembangunan itu sebagai bagian dari perluasan real estate di kawasan tersebut. ”Pembangunan juga akan dilakukan di ibu kota (Uni) Emirat (Arab), Abu Dhabi,” kata Eric Trump, akhir Desember 2024.

Menantu Trump, Jared Kushner, melaporkan investasi Arab Saudi di perusahaan ekuitas swasta miliknya mencapai lebih kurang 2 miliar dollar AS.

Separuh PDB Arab Saudi

Tawaran investasi terbaru MBS sebesar 600 miliar dollar AS itu merupakan jumlah fantastis. Jumlah ini sekitar 50 persen dari produk domestik bruto (PDB) Arab Saudi dan jauh lebih besar dari PDB banyak negara.

Sementara itu, MBS juga tengah membutuhkan anggaran besar untuk melanjutkan proyeknya senilai 500 miliar dollar AS di NEOM, kota baru di gurun barat laut Arab Saudi di ujung utara Laut Merah.

Kota itu juga membutuhkan bangunan stadion dan infrastruktur baru senilai puluhan miliar dollar AS sebelum Arab Saudi menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 2034.

Mengenai kemungkinan lawatan Trump ke Arab Saudi, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan, dirinya belum mengetahui adanya rencana tersebut untuk saat ini.

Citra rekaan seniman menggambarkan Sindalah, sangraloka di Laut Merah yang sedang dibangun Arab Saudi. Menjadi bagian proyek NEOM yang digagas Putra Mahkota Arab Saudi Mohamed bin Salman, Sindalah dikenalkan sebagai Taman Bermain Para Konglomerat.

Pasang surut AS-Saudi

Selama beberapa tahun terakhir, AS semakin mengurangi ketergantungan pada ekspor minyak dari Arab Saudi. Sebelumnya, selama puluhan tahun, ketergantungan AS terhadap ekspor minyak Arab Saudi ini menjadi landasan hubungan dua negara itu.

Sementara itu, dana investasi pemerintah (sovereign wealth fund/SWF) Arab Saudi juga telah ditanamkan di sejumlah saham perusahaan besar di AS. Saat ini, Arab Saudi bergantung pada AS di sektor senjata dan sistem pertahanan buatan AS.

Kunjungan Trump tahun 2017 ke Kerajaan Arab Saudi disusul dengan gerakan pemboikotan terhadap Qatar oleh empat negara Arab, yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain.

Boikot yang baru berakhir pada 2021 itu didasari tuduhan Qatar mendukung terorisme. Saat itu, Trump mengaku berperan dalam boikot tersebut.

Foto yang diambil pada 20 Maret 2018 memperlihatkan Donald Trump (kanan) tengah memperlihatkan gambar persenjataan militer yang telah dijual ke Arab Saudi pada putra mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (kiri) di Gedung Putih, Washington, AS. Setelah beberapa tahun dibekukan, pemerintah AS di bawah Presiden Joe Biden memberi lampu hijau pada penjualan kembali persenjataan militer pada Arab Saudi. (Photo by MANDEL NGAN / AFP)

Selama periode pertama, Trump mempertahankan hubungan dekat dengan Arab Saudi, bahkan hingga setelah MBS dituduh terlibat dalam pembunuhan dan mutilasi kolumnis The Washington Post, Jamal Khashoggi, di Istanbul, Turki, tahun 2018.

Selama masa jabatan pertama Trump, empat negara Arab (Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan) menormalisasi hubungan dengan Israel berdasarkan Perjanjian Abraham (Abraham Accords) tahun 2020.

Selama pemerintahan Presiden AS Joe Biden, Riyadh semakin mengerucutkan rencana untuk mengakui Israel secara diplomatis. AS menjanjikan perlindungan pertahanan AS dan dukungan lainnya kepada Riyadh sebagai imbalan atas normalisasi hubungan dengan Israel.

Namun, Arab Saudi menghentikan pembicaraan itu setelah perang Gaza berkecamuk. Sepanjang perang yang dimulai 7 Oktober 2023 itu, Riyadh berulang kali menegaskan tidak akan mengakui Israel tanpa berdirinya negara Palestina.

Pemerintahan Trump yang baru diperkirakan akan mencoba mengulangi pembicaraan soal normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel itu mengikuti upaya yang telah dilakukan pada era Biden.

Tercapainya gencatan senjata di Gaza disertai meredanya ketegangan regional di Timur Tengah menjadi peluang baru untuk kelanjutan pembicaraan tersebut.

Bahas Timur Tengah

Gedung Putih mengatakan, dalam pembicaraan telepon hari Kamis, selain tentang ekonomi, Trump dan MBS juga membahas upaya untuk membawa stabilitas ke Timur Tengah. Keduanya juga membahas upaya untuk memperkuat keamanan regional dan memerangi terorisme.

”Selain itu, membahas ambisi ekonomi internasional Kerajaan Arab Saudi selama empat tahun ke depan serta perdagangan dan peluang lain untuk meningkatkan kemakmuran bersama Amerika Serikat dan Kerajaan Arab Saudi,” kata pernyataan Gedung Putih tanpa merinci lebih lanjut.

US Senator Marco Rubio (R-FL), President-elect Donald Trump's nominee to be Secretary of State, arrives ahead of trump's inauguration as the 47th president of the United States in the Rotunda of the US Capitol in Washington, DC, on January 20, 2025. Trump takes office for his second non-consecutive term as the 47th president of the United States. (Photo by Kevin Lamarque / POOL / AFP)

Secara terpisah, MBS, yang saat ini sebagai penguasa de facto Kerajaan Arab Saudi, juga berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Dalam panggilan telepon itu, mereka membahas Suriah, Lebanon, Gaza, dan Iran.

”Mereka juga membahas manfaat kemitraan ekonomi AS-Arab Saudi dan peluang untuk mengembangkan ekonomi mereka di berbagai bidang, termasuk di bidang akal imitasi (AI),” kata juru bicara Rubio. (AFP/AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Irene Sarwindaningrum
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan