Melambat, Ekonomi Triwulan III-2025 Tumbuh 5,04 Persen

Perekonomian tumbuh melambat dibandingkan triwulan II-2025 dengan konsumsi rumah tangga masih tumbuh di bawah level 5 persen.

05 Nov 2025 19:47 WIB · Ekonomi & Bisnis

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO

Oleh Agustinus Yoga Primantoro

JAKARTA, KOMPAS — Ekonomi Indonesia tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada triwulan III-2025. Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga, kinerja ekspor perdagangan, serta realisasi investasi. Perekonomian tumbuh melambat dibandingkan triwulan II-2025 dengan konsumsi rumah tangga masih tumbuh di bawah level 5 persen.

Demikian disampaikan Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS), Moh Edy Mahmud, dalam konferensi pers terkait Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Triwulan III-2025, di Jakarta, Rabu (5/11/2025). Selain itu, BPS juga turut mengumumkan Indeks Pembangunan Manusia 2025 dan Keadaan Ketenagakerjaan Indonesia Agustus 2025.

Edi memaparkan, produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku (ADHB) pada triwulan III-2025 tercatat sebesar Rp 6.060 triliun. Sementara itu, pada periode yang sama, PDB atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp 3.444,8 triliun.

”Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi triwulan III-2025, apabila dibandingkan dengan triwulan III-2024 atau secara tahunan, tumbuh sebesar 5,04 persen secara tahunan,” ujarnya.

Pertumbuhan ekonomi 5,04 persen pada triwulan III-2025 ini lebih rendah dibandingkan capaian pada triwulan II-2025 yang sebesar 5,12 persen.

Pertumbuhan tersebut utamanya ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 4,89 persen dan berkontribusi 53,14 persen persen terhadap PDB. Berikutnya, diikuti pembentukan modal tetap bruto (PMTB) yang tumbuh 5,04 persen dan menyumbang 29,09 persen terhadap PDB.

Komponen penopang lainnya adalah ekspor yang tumbuh 9,91 persen dan menyumbang 23,64 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Adapun konsumsi pemerintah tumbuh 5,49 persen dan berkontribusi 7,17 persen terhadap pembentukan PDB.

Pertumbuhan Ekonomi Triwulan III-2025

Konsumsi melambat

Meski demikian, pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih berada di bawah 5 persen, yakni 4,89 persen. Angka ini juga lebih rendah dibanding triwulan II-2025 yang mencapai 4,97 persen dan triwulan III-2024 yang sebesar 4,91 persen.

Edy menjelaskan, konsumsi rumah tangga tetap tumbuh seiring dengan mobilitas penduduk, penjualan eceran bahan bakar kendaraan, peningkatan jumlah penumpang angkutan rel dan laut, serta perjalanan wisatawan domestik.

Di sisi lain, pertumbuhan PMTB terjadi seiring dengan peningkatan impor barang modal jenis mesin, investasi domestik, serta impor kendaraan. Pertumbuhan ini juga sejalan dengan peningkatan realisasi investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebesar 13,89 persen pada triwulan III-2025.

Sementara itu, kinerja positif ekspor didukung oleh peningkatan nilai dan volume komoditas nonmigas, seperti lemak dan minyak nabati, besi dan baja, mesin dan peralatan listrik, serta kendaraan dan bagiannya. Kinerja ekspor juga didukung peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara.

”Kebijakan ekonomi juga turut menopang kinerja perekonomian pada triwulan III-2025, seperti kebijakan pemerintah dalam pengendalian inflasi, penetapan BI Rate (suku bunga acuan) September 2025 pada level 4,75 persen sebagai upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi,” ujar Edy.

Deretan gedung perkantoran dan hunian bertingkat di kawasan Senen dan Psaar Baru, Jakarta, Minggu (28/9/2025). Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 menjadi 4,9 persen dari proyeksi sebelumnya, 4,7 persen.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
28/09/2025

Selain itu, pemerintah melalui kebijakan fiskal juga turut mendorong efektivitas belanja melalui pelaksanaan program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG), penguatan dan proteksi daya beli, stabilisasi harga dan produksi, serta peningkatan sarana-prasarana dan produktivitas.

Adapun dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi ditopang oleh lima lapangan usaha utama, yaitu industri pengolahan yang tumbuh 5,54 persen, pertanian (4,93 persen), perdagangan (5,49 persen), konstruksi (4,21 persen), dan pertambangan (-1,98 persen). Pertambangan menjadi satu-satunya sektor penopang pertumbuhan yang pertumbuhannya terkontraksi.

Belum berkualitas

Sebelumnya, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) dalam laporan ”Seri Analisis Makroekonomi Indonesia Economic Outlook” memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II-2025 dalam kisaran 4,86-4,95 persen secara tahunan.

”Di tengah angka pertumbuhan Triwulan-II 2025 yang mengejutkan, pertumbuhan ekonomi masih belum berkualitas dan berpotensi tumbuh di bawah 5 persen untuk keseluruhan tahun ini,” ujar ekonom LPEM FEB UI, Teuku Riefky.

Kondisi tersebut salah satunya disebabkan oleh minimnya faktor musiman pada triwulan-III 2025 sehingga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Alhasil, ekonomi Indonesia akan tumbuh sebesar 4,88 persen secara tahunan pada triwulan-III 2025.

Secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi pada 2025 diperkirakan mencapai 4,95 persen atau dalam rentang 4,93-4,97 persen. Oleh sebab itu, dibutuhkan transformasi, dari solusi temporer, seperti subsidi dan stimulus fiskal, menuju penyelesaian masalah struktural, deregulasi secara substansial serta penegakan dan kepastian hukum.

Kesibukan para pedagang saat menyiapkan sayuran dagangannya di Pasar senen, Jakarta, Jumat (8/8/2025). Menurut Badan Pusat Statistik, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II-2025. Kontribusinya mencapai 2,64 persen.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK)
08-08-2025

Jika upaya tersebut berhasil, Riefky melanjutkan, pertumbuhan ekonomi tidak hanya meningkat, tetapi juga berkualitas dan merata. Sebaliknya, apabila gagal, permasalahan ini akan terus berlanjut ke 2026 dan bahkan dalam jangka yang lebih panjang.

”Kami cenderung pesimistis bahwa transformasi struktural akan diimplementasikan dalam jangka waktu dekat. Oleh karena itu, kami memperkirakan pertumbuhan PDB Indonesia akan stagnan di sekitar 4,9-5 persen secara tahunan pada seluruh 2026,” ujarnya.

Menurut Riefky, kunci utama dari permasalahan ekonomi saat ini berada pada fokus kebijakan untuk mengatasi masalah mendasar. Masalah-masalah itu meliputi produktivitas, penciptaan lapangan kerja, daya beli, dan iklim usaha.

Di sisi lain, ekonom Bright Institute Awalil Rizky turut memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2025 berada dalam kisaran 5,02 persen secara tahunan atau berada di bawah torehan pada triwulan II-2025 yang mencapai 5,12 persen.

”Lebih rendah dari triwulan II 5,12 persen karena faktor musiman. Pertumbuhan triwulan III memang selalu lebih rendah dibanding triwulan II pada tahun bersangkutan,” katanya.

Aktivitas pemuatan peti kemas ke dalam kapal barang di Terminal peti kemas New Priok Container Terminal (NPCT) 1, Jakarta Utara, Selasa (17/1/2023). Menurut data Badan Pusat Statistik, total ekspor RI selama tahun 2022 mencapai 291,98 miliar dollar AS, sementara impornya 237,52 miliar dollar AS. Hal itu membuat neraca perdagangan RI tahun lalu surplus 54,46 miliar dollar AS. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 17-01-2023

Secara keseluruhan, perkiraan tersebut telah disesuaikan dengan metode BPS pada saat menghitung PDB pada triwulan II-2025. Sebaliknya, apabila tanpa penyesuaian, pertumbuhan ekonomi diperkirakan tidak akan mencapai 4,9 persen.

Sementara itu, konsensus 30 ekonom yang dihimpun Bloomberg memproyeksikan nilai tengah pertumbuhan ekonomi pada triwulan III-2025 sebesar 5 persen secara tahunan. Meski lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun lalu, angka ini melambat dibanding triwulan sebelumnya yang sebesar 5,12 persen.


Kerabat Kerja

Penulis:

Agustinus Yoga Primantoro
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto