Di tengah kehidupan Jakarta yang serba cepat, anak muda di kota ini kini melambat dengan mengisi waktu luang melalui seni.
26 Jul 2025 09:15 WIB · Metropolitan
Di tengah ritme ibu kota yang serba cepat, sebagian anak-anak muda Jakarta memilih untuk melambat. Mereka mengisi waktu luang dengan kegiatan seni, mulai dari menyulam, melukis, hingga membentuk keramik dari tanah liat. Aktivitas yang menyenangkan sekaligus untuk melepas penat.
Tren hobi membuat keramik dan melukis tengah menggeliat di kalangan anak muda Jakarta. Tak sekadar seru, aktivitas seni ini menjadi pelarian kreatif untuk mengasah konsentrasi, merangsang imajinasi, melatih kesabaran, sekaligus menenangkan jiwa.
Beragam studio seni pun mulai bermunculan di Jakarta, salah satunya Kina Art Studio di Jakarta Pusat. Di studio ini, Leny (27), seorang peserta dari sebuah kantor di SCBD, duduk dengan penuh perhatian di depan meja.
Tangannya perlahan menekan tanah liat yang ada di hadapannya, memulai proses untuk membentuk kerangka pottery (seni pengolahan tanah liat menjadi berbagai barang seperti guci, piring, hingga mangkuk).
Bagi Leny, memilih pottery untuk kegiatan outing kantor ini merupakan keputusan yang tepat. Bersama rekan-rekannya, ia ingin merasakan pengalaman yang lebih mendalam dan seru, di luar kegiatan rutin.
”Kami ingin mencoba sesuatu yang baru, yang dapat mengasah kreativitas, memberi relaksasi, dan tentunya menyenangkan. Kebetulan kantor kami dekat dengan Kina Art Studio, jadi ini adalah pilihan yang pas,” ujar Leny saat ditemui di studio tersebut, Jumat (25/7/2025) siang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/ccf911c9f78e71f855041cdfa01600e5-FAK_8211.jpg)
Meski baru pertama kali mencoba pottery, Leny dengan sabar mengikuti setiap instruksi dari instruktur berpengalaman. Ia berusaha keras menyesuaikan tekanan jari agar bisa membentuk mangkuk yang lebih rapi dan proporsional.
Di Kina Art Studio, Leny dan rekan-rekannya, yang mayoritas adalah generasi Z, tidak hanya belajar cara membentuk tanah liat, tetapi juga berinteraksi, berbagi ide, dan menikmati waktu bersama. Menurut Leny, kegiatan seni ini juga memiliki dampak positif dalam mempererat hubungan tim dan membangun rasa kebersamaan di antara rekan kerja.
Sementara itu, Karin (22), rekan Leny, membuat mangkuk untuk rice bowl atau ramen. Ia berhasil menyelesaikan pembuatan dengan cepat, menghasilkan keramik yang halus.
”Ini pertama kali saya mencoba membuat pottery, sebelumnya saya hanya pernah melukis saja,” ujar Karin.
Karin merasa senang karena pottery memberinya kesempatan untuk refleksi diri, sekaligus menjadi cara yang efektif untuk melepas stres. Selain itu, ia merasa puas bisa membawa pulang hasil karyanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/4d89019e7c28acd208a62751e985a2f5-FAK_8243.jpg)
Tak hanya populer di kalangan teman atau rekan kerja, pottery juga semakin digemari sebagai alternatif kencan oleh pasangan muda Jakarta. Salah satunya adalah Risa (25), warga Jakarta Selatan, yang menganggap pottery date sebagai cara efektif untuk melepaskan stres sekaligus menghabiskan waktu berkualitas bersama pasangannya.
”Kegiatan ini memberi kami waktu untuk benar-benar fokus satu sama lain, tanpa gangguan ponsel atau pekerjaan. Kami bisa sepenuhnya menikmati momen tersebut tanpa harus memikirkan apa pun, selain apa yang ada di depan kami,” jelasnya.
Lebih dari sekadar membuat barang, pottery date juga memberi kesempatan bagi Risa dan pasangannya untuk memperdalam ikatan emosional mereka.
”Kami bisa berbicara, tertawa, dan belajar hal baru bersama. Ini tidak hanya soal membuat karya seni, tetapi juga menciptakan kenangan berharga untuk kami simpan,” kata Risa.
Aktivitas pottery date mengajarkan Risa banyak hal tentang pentingnya kerja sama dan saling menghargai dalam sebuah hubungan. Bahkan ketika terjadi kesalahan kecil, seperti tanah liat yang tidak terbentuk sesuai keinginan, Risa dan pasangannya belajar menghadapi kegagalan bersama dan meningkatkan komunikasi antara satu sama lain.
”Mungkin, banyak orang berpikir, ’Hanya membuat keramik, apa istimewanya?’ Tapi bagi saya, ini lebih dari itu. Ini tentang bagaimana kami berdua terlibat dalam proses, saling memberi ide, dan mengatasi tantangan bersama,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/725f878fcf56f40a920b83dc4057d88f-FAK_8232.jpg)
Co-founder Kina Art Studio, Leona Gumulya, menjelaskan bahwa studio ini tidak hanya menyediakan kelas keramik (pottery), tetapi juga berbagai kelas seni lainnya, seperti resin art, tufting gun, dan macrame. Pengunjung nantinya dapat membawa pulang hasil kerajinan mereka sebagai kenang-kenangan.
Dengan harga mulai dari Rp 99.000 hingga Rp 200.000-an, peserta dapat memilih jenis seni yang mereka ingin pelajari, dengan berbagai pilihan sesuai minat dan anggaran.
Meski demikian, pottery menjadi salah satu kelas yang paling diminati, terutama di kalangan anak muda Jakarta. Pembuatan keramik ini dimulai dengan menyiapkan tanah liat (clay), yang kemudian dibasahi sedikit air untuk memudahkan pembentukan.
Setelah itu, tanah liat dibentuk menggunakan teknik seperti coiling, pinch pot, atau roda putar. Keramik yang telah dibentuk dibiarkan mengering hingga setengah keras. Terkadang, proses ini dipercepat menggunakan hair dryer.
Untuk memberikan warna dan kilau pada keramik, dapat dipolesi cat sesuai keinginan. Setelah cat atau glasir kering, keramik kemudian dibakar dalam oven dengan suhu tinggi. Kemudian, keramik dibiarkan dingin dan siap untuk dinikmati sebagai karya seni fungsional.
Leona mengatakan, usia bukan halangan untuk belajar kerajinan ini. Banyak pekerja Jakarta yang memilih mengikuti kelas pottery atau kerajinan lainnya sebagai cara untuk melepas penat usai bekerja.
”Kelas seni ini menjadi alternatif bagi banyak orang untuk menenangkan pikiran setelah seharian bekerja,” kata Leona.
Tak hanya kelas luring, Leona juga melihat potensi besar dalam membawa kelas seni ke platform daring. Kelas daring memungkinkan lebih banyak orang dari sejumlah daerah untuk mengeksplorasi kreativitas tanpa batasan geografis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/55f4b2ca1468c71d442d6986197c09c0-WhatsApp_Image_2025_07_25_at_18.21.31.jpeg)
Seperti halnya Kina Art Studio, Bartega Studio di Jakarta Selatan juga menawarkan pengalaman seni yang menyenangkan. Berdiri sejak 2017, Bartega fokus pada berbagai bidang seni, seperti melukis, pottery, dan sketsa. Studio ini tidak hanya menjadi tempat untuk belajar, tetapi juga ruang bagi jiwa-jiwa kreatif dari berbagai kalangan.
Jazz Pratama, selaku co-founder Bartega, meyakini bahwa seni adalah wadah yang sempurna untuk pertumbuhan dan eksplorasi diri. Dalam suasana yang menyenangkan, seni memberikan ruang bagi setiap individu untuk mengembangkan potensi mereka.
”Kelas seni kami terbuka untuk semua kalangan, dari pemula hingga yang berpengalaman, anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga pasangan yang ingin menghabiskan waktu bersama,” ujar Jazz.
Harga kelas berkisar antara Rp 200.000-an hingga Rp 350.000 per sesi, tergantung apakah peserta memilih kelas dengan panduan instruktur atau tidak.
Instruktur yang memandu kelas bisa berasal dari tim internal studio atau bahkan seniman dan artis tamu. Hasil lukisan dan keramik yang dibuat selama sesi juga bisa langsung dibawa pulang sebagai kenang-kenangan.
Saat ini, Bartega telah hadir di Jakarta dan Bali, buka setiap hari dari pukul 10.00 hingga pukul 22.00. Jazz berharap Bartega dapat terus berkembang dan dikenal lebih luas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/c2e9642d1139318dd5e598c561564557-WhatsApp_Image_2025_07_25_at_18.21.32.jpeg)
Menurut pengamat sosial dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, minat anak muda Jakarta terhadap seni bukan sekadar tren estetika, melainkan respons terhadap kebutuhan ruang batin di tengah kehidupan urban yang padat dan penuh tekanan. Aktivitas seni kini berfungsi sebagai bentuk katarsis, yakni sebuah cara bagi anak muda untuk melepaskan ketegangan psikologis dengan cara yang konstruktif.
Dengan demikian, seni tidak hanya menawarkan hiburan, tetapi juga membantu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dalam menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari.
”Seni memberikan sensasi kontrol, ekspresi diri, dan mindfulness yang tidak didapatkan dalam dunia kerja atau media sosial. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kelas seni dengan tarif ratusan ribu rupiah per sesi terus diminati,” kata Devie.
Devie menuturkan, beberapa faktor yang memicu ketertarikan anak muda Jakarta terhadap seni, di antaranya kelelahan digital dan burnout sosial. Dalam era digital yang penuh notifikasi dan layar, banyak anak muda yang merasa tertekan oleh konsumsi informasi yang berlebihan.
”Generasi muda yang terus-menerus terpapar layar dan notifikasi cenderung mencari kegiatan dengan irama yang lebih lambat dan mendalam,” ujar Devie.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/94979d2df48b8ef44c1a9bf07ea51652-WhatsApp_Image_2025_07_25_at_18.25.58.jpeg)
Seni menawarkan solusi yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi tantangan tersebut. Dengan memberikan pengalaman yang lebih santai dan reflektif, seni menjadi alternatif yang lebih konstruktif dibandingkan konsumsi pasif seperti scrolling di media sosial.
Selain itu, seni analog seperti melukis dan membuat keramik juga memberikan umpan balik taktil yang menenangkan sistem saraf dan membantu mengurangi kecemasan yang disebabkan oleh gangguan digital.
Aktivitas seni ini juga memberi kesempatan untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan, memungkinkan anak muda untuk berinteraksi dengan diri mereka sendiri dan lingkungan secara lebih dalam.
”Seni memberikan ruang bagi anak muda untuk menjadi kreator, bukan hanya konsumen. Dan itulah yang mereka cari, yakni kebebasan, ekspresi diri, dan ruang untuk bertumbuh,” kata Devie.
Dengan tumbuhnya berbagai ruang seni seperti studio keramik, co-working kreatif, dan pasar seni digital, anak muda semakin diberi kesempatan untuk mengeksplorasi kreativitas mereka, bahkan menjual karya mereka.
”Keberadaan tempat-tempat ini memberikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan kreativitas dan meningkatkan rasa percaya diri,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/25/214220d20e973c2d9f0086802d596621-WhatsApp_Image_2025_07_25_at_18.27.50.jpeg)
Devie mengatakan, dampak positif dari kegiatan seni ini tidak hanya memberikan kebahagiaan sesaat, tetapi juga memberi dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental dan psikososial. Seni membantu mengurangi stres dan kecemasan, dengan menciptakan keadaan flow yang memfokuskan perhatian.
”Bergabung dalam komunitas seni atau mengikuti kelas bersama memberi ruang untuk saling mendengar, saling validasi, dan merajut solidaritas,” ujar Devie.
Melihat perkembangan ini, Devie menilai bahwa seni kini bukan lagi hanya dianggap sebagai aktivitas sekunder, melainkan sebagai bagian penting dari urban self-care toolkit. Seni berfungsi sebagai cara untuk merawat kesehatan mental dan menghubungkan kembali jejaring sosial yang terkoyak oleh kesibukan dan kesendirian.
Devie juga menekankan pentingnya peran pemerintah, institusi pendidikan, dan sektor swasta dalam memandang seni sebagai alat untuk intervensi preventif terhadap krisis mental di kalangan anak muda urban.
”Pemerintah kota, institusi pendidikan, dan sektor swasta perlu melihat seni sebagai solusi untuk mengatasi krisis mental yang semakin berkembang di kalangan anak muda di kota besar,” ujar Devie.
Dengan memberikan ruang lebih banyak bagi anak muda untuk mengekspresikan diri melalui seni, diharapkan mereka bisa mengatasi tekanan hidup di dunia urban yang penuh tantangan ini.
Di tengah dunia digital yang serba instan, tren seni ini mencerminkan dorongan masyarakat untuk kembali ke aktivitas manual dan berproses. Kegiatan seni kini bukan sekadar hobi, melainkan menjadi ruang teduh untuk merawat diri dan meredakan stres.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al HamasyEditor:
Harry SusiloPenyelaras Bahasa:
Rosdiana Sitompul