Melestarikan Indonesia Heritage Rice

Warisan beras Indonesia mencakup pula jejak peradaban budaya dan teknologi pertanian padi serta kearifan lokal menjaga ketahanan pangan.

21 Sep 2025 08:00 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Hendriyo Widi

Indonesia Heritage Rice bukan sekadar branding pemasaran beras-beras khas daerah di Nusantara. Indonesia Heritage Rice juga bukan an sich beras berbasis plasma nutfah padi lokal. Namun, warisan beras Indonesia mencakup pula jejak peradaban budaya dan teknologi pertanian padi serta kearifan lokal menjaga ketahanan pangan.

PT Food Station Tjipinang Jaya adalah pihak yang menginisiasi pelestarian beras khas daerah berbasis plasma nutfah padi lokal. Badan usaha milik Pemerintah Provinsi Jakarta itu menelurkan dua produk beras lokal premium ber-branding Indonesia Heritage Rice.

Kedua jenis produk beras yang diluncurkan sejak Juli 2024 itu bernama Padiwangi dan Ciwangi. Beras Padiwangi bersumber dari padi varietas mentik wangi yang banyak dibudidayakan secara organik di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Adapun beras Ciwangi berasal dari padi varietas pandanwangi dari Cianjur, Jawa Barat. Beras pandanwangi Cianjur itu telah mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG) dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum pada 14 September 2018.

Salah satu produk beras lokal "Indonesia Heritage Rice" yang dikembangkan Food Station

IG merupakan tanda yang menunjukkan asal suatu produk berdasarkan faktor lingkungan geografis, baik alam maupun manusia, yang menghasilkan reputasi, kualitas, dan karakteristik khas pada produk itu. IG mampu memberikan nilai tambah produk, menjaga kualitas dan keaslian produk, serta melestarikan kebudayaan dan pengetahuan tradisional suatu daerah.

Indonesia memiliki banyak jenis beras khas daerah berbasis plasma nutfah padi lokal. Hingga medio September 2025, DJKI telah menerbitkan sertifikat IG bagi delapan jenis beras lokal. Dengan demikian, beras-beras itu menjadi bagian dari 203 produk khas Indonesia yang bersertifikat IG.

Beras-beras itu adalah beras adan Krayan, Kalimantan Utara; pandanwangi Cianjur, Jawa Barat; raja uncak Kapuas Hulu, Kalimantan Barat; dan siam epang Sampit, Kalimantan Tengah. Selain itu, ada juga beras Merauke, Papua Selatan; talun koyem Barito Utara, Kalimantan Tengah; pulu mandoti Enrekang, Sulawesi Selatan; dan beras sintanur lembah raung Bondowoso, Jawa Timur.

Pada tahun ini, sejumlah pemerintah daerah di Indonesia berlomba-lomba mendapatkan sertifikat IG bagi beras khas daerahnya. Pemerintah Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, misalnya, memiliki beras tarone seko. Beras itu berasal dari padi varietas lokal tarone (Oryza sativa Linn var Tarone).

Quote

Hingga medio September 2025, DJKI telah menerbitkan sertifikat IG bagi delapan jenis beras lokal. Dengan demikian, beras-beras itu menjadi bagian dari 203 produk khas Indonesia yang bersertifikat IG.

Delapan beras lokal yang telah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis

Pemerintah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, juga mendaftarkan beras kamba agar memperoleh sertifikat IG. Beras kamba berasal dari jenis padi lokal yang dibudidayakan masyarakat setempat dan memiliki aroma wangi serta tekstur nasi yang pulen.

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Tengah pernah meneliti beras tersebut pada 2023. Hasil penelitian beras itu dituangkan dalam jurnal bertajuk ”Eksplorasi dan Karakteristik Padi Lokal Kamba di Sulawesi Tengah” oleh Irwan S Padang, Ruslan Boy, A Irmadamayanti, dan Saidah.

Dalam jurnal itu disebutkan, padi kamba dibudidayakan di Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, serta Kecamatan Lore Utara, Lore Barat, Lore Selatan, dan Lore Tengah di Kabupaten Poso. Padi varietas itu tergolong sebagai plasma nutfah lantaran sudah dibudidayakan sejak ratusan tahun lalu oleh masyarakat Dataran Bada (Lore Selatan dan Barat), terutama di Desa Bulili.

Padi kamba terdiri atas tiga jenis, yakni kamba pendek, kamba tinggi, dan kamba merah. Namun, hingga kini, yang dibudidayakan tinggal padi kamba pendek saja, sedangkan yang lain telah punah.

Padi tersebut memiliki umur tanam yang relatif panjang, yakni 5-6 bulan. Produktivitasnya pun rendah, yakni 2,5-3 ton per hektar. Inilah yang membuat padi kamba jarang dibudidayakan sehingga hampir punah.

Hamparan area persawahan di Paninggahan, Junjuang Siriah, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Selasa (23/1). Solok dikenal sebagai daerah penghasil beras berkualitas dan dikenal tidak hanya bagi masyarakat Minang tetapi juga dari daerah lain. Beras Solok memiliki tekstur pera atau berderai tetapi tidak keras. Kompas/Heru Sri Kumoro (KUM)23-01-2018untuk Koming

Pemerintah Kabupaten Klaten juga tengah dalam proses mendapatkan sertifikat IG bagi beras rojolele srinuk. Beras itu berasal dari padi varietas rojolele srinuk yang diluncurkan pada 2019. Padi tersebut merupakan hasil pemuliaan plasma nutfah padi rojolele yang dilakukan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan).

Sebelum dikembangkan oleh Batan, beras tersebut nyaris punah. Ini lantaran produktivitas padi rojolele rendah, yakni sekitar 5 ton per hektar, sehingga petani lebih memilih membudidayakan padi varietas lain.

Hal itu berbeda dengan rojolele srinuk. Produktivitasnya di atas 6 ton per hektar. Usia panennya hanya 110-115 hari atau lebih pendek sedikit dari usia panen induknya yang selama 120 hari.

Jejak peradaban beras

Di balik berbagai jenis padi dan beras lokal di Indonesia, tersirat jejak peradaban beras. Hal itu mulai dari sejarah penamaan, mitologi, budaya, teknologi budidaya dan panen, hingga cara-cara masyarakat setempat menjaga ketahanan pangan.

Dari sisi sejarah penamaan, misalnya, padi atau beras rojolele memiliki kisah unik. Rojolele berasal dari kata bahasa Jawa, yakni rojo (raja) dan thole (anak kesayangan). Penamaan itu muncul sejak era Kerajaan Mataram Islam yang dipimpin oleh Pakubuwono II (1726-1749).

Kala itu, Pakubuwono II berkunjung ke Delanggu melihat penanaman padi. Lalu, Pakubuwono memanggil para petani yang sedang menanam padi itu dengan sapaan thole. Sejak itulah, padi atau beras yang semula bernama wulu dinamai rojolele.

Warga melakukan kirab mengelilingi areal persawahan saat mengikuti Festival Mbok Sri Mulih di Dusun Kaibon, Desa Delanggu, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Minggu (30/10/2022). Kegiatan tahunan itu digelar sebagai wujud syukur para petani serta untuk penguatan pertanian di kawasan penghasil beras dengan produk unggulan beras Rojolele tersebut. Tahun ini acara tersebut juga untuk memohon agar serangan hama wereng terhadap padi yang tengah berlangsung segera usai.

Dari sisi mitologi, Indonesia sangat kaya dengan kisah-kisah dewi kesuburan. Di Jawa, masyarakat agraris menyebutnya sebagai Dewi Sri. Di Sulawesi Selatan, masyarakat Bugis mengenalnya sebagai Sangiang Serri.

Di Banten, masyarakat adat Baduy selalu menggelar upacara kawalu sebagai ungkapan syukur kepada Sang Hyang Karesa atas panen padi huma. Padi huma adalah jenis padi tradisional yang ditanam di ladang kering (huma) tanpa irigasi dan pupuk kimia, umumnya di daerah pegunungan atau hutan.

Adapun di Karo, Sumatera Utara, terdapat legenda Beru Dayang Jile-jile. Beru Dayang Jile-jile inilah yang membawa benih padi dan mengajari masyarakat Karo membudidayakan padi. Maka, tidak mengherankan jika namanya diabadikan menjadi sebutan sejumlah jenis padi di Karo. Sebut saja beru daya malembing (padi yang daunnya mirip lembing) dan beru dayang meduk-meduk (padi berdaun rimbun ke bawah).

Mitologi tersebut melahirkan keragaman upacara adat di sektor pertanian. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur terdapat wiwitan atau upacara sebelum panen padi. Di Kalimantan terdapat mangenta atau upacara adat suku Dayak atas panen padi yang berlimpah. Adapun di Nusa Tenggara Timur terdapat tiut kolo atau upacara adat mengusir burung pemakan bulir padi.

Quote

Indonesia memiliki sistem irigasi hidrolik yang dibangun di Banten oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682).

Sejumlah anak memancing di atas sisa-sisa bangunan pintu irigasi yang dibuat Sultan Banten VI Sultan Ageng Tirtayasa pada 1663-1677 di Desa Bendung, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Banten, Minggu (20/1/2013). Kondisi bangunan yang menjadi bagian Situs Tirtayasa itu memprihatinkan karena tidak terawat dan hancur oleh akar pohon beringin. Padahal, bangunan bersejarah itu dapat menjadi bahan studi teknologi dan tata kelola air pada zaman Kasultanan Banten.

Dari sisi budaya dan teknologi pertanian, terdapat tradisi subak atau sistem pengairan sawah di Bali. Sejumlah daerah di wilayah pegunungan atau perbukitan juga menerapkan sistem tanam terasering atau berundak.

Di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sistem tanam itu disebut sebagai nyabuk gunung. Sementara di Jawa Barat dan Bali, sistem itu dikenal masing-masing sebagai ngais gunung dan sengkedan. Tujuannya tidak hanya untuk menghasilkan gabah atau beras, tetapi juga mencegah erosi dan longsor serta mengatur air.

Indonesia juga memiliki sistem pengairan persawahan berbasis waduk dan bendungan yang dibangun pada era kolonial. Tak hanya itu, Indonesia memiliki sistem irigasi hidrolik yang dibangun di Banten oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1682).

Sistem pengairan itu tidak hanya berfungsi sebagai irigasi, tetapi juga untuk mengendalikan dan mengelola air payau dan banjir di daerah rawa pantai Banten. Hingga kini, jejak-jejaknya masih ada di situs Tirtayasa, Desa Bendung, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang.

Selain itu, para petani di Jawa tempo dulu juga memahami pranata mangsa. Pranata mangsa adalah sistem kalender tradisional masyarakat Jawa yang berfungsi sebagai penanggalan dan pedoman pertanian. Sistem ini didasarkan pada pengamatan peredaran matahari dan tanda-tanda alam, seperti arah angin, cuaca, serta perilaku hewan dan tumbuhan untuk menentukan waktu yang tepat untuk bercocok tanam.

Lansekap Bendung Wilalung di Kecamatan Undaan, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (2/3/2023). Seiring dngan semakin meluasnya area terdampak banjir Kudus, pemantauan Bendung yang dibangun pada tahun 1918 ini terus dilakukan secara intensif karena statusnya sudah mendekati awas. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 02-03-2023

Tak berhenti di situ, jejak peradaban beras juga mencakup pula beragam metode pengolahan sawah, penanaman, pemanenan, hingga penyimpanan gabah atau beras. Hal itu tergambar dari peralatan dan sarana tradisional yang digunakan para petani.

Beberapa di antaranya adalah ani-ani, penggaris sawah, luku atau bajak, garpu pacul, lesung, serta gerabah dan lumbung penyimpan gabah atau beras. Ani-ani atau ketam, misalnya, merupakan pisau kecil yang dipakai untuk memanen padi dengan cara memotong satu per satu tangkai bulir padi. Di Kalimantan, masyarakat suku Tidung menyebut ani-ani sebagai lingkap.

Selain itu, sejumlah daerah di Indonesia juga memiliki kekayaan lumbung padi. Suku Baduy memiliki leuit, masyarakat Bali punya jineng, suku Dayak punya rumah padi, dan masyarakat Jawa Tengah memiliki gledhek. Melalui lumbung-lumbung padi itu, masyarakat di sejumlah daerah mampu menjaga ketahanan pangan.

Itulah Indonesia Heritage Rice. Tanpa dijaga dan dilestarikan, warisan perberasan itu bisa kian punah. Padahal, Indonesia Heritage Rice bisa menjadi bagian dari Sistem Warisan Pertanian Penting Global (GIAHS).

GIAHS yang diusung Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) tersebut mengidentifikasi warisan dan jejak peradaban pertanian di dunia yang masih lestari hingga kini. Konsepnya adalah pangan bukan sekadar urusan perut dan ekonomi, melainkan juga cara orang bertahan hidup, keanekaragaman hayati, tradisi dan budaya, serta perubahan iklim.

Leuit atau lumbung padi warga Baduy Luar di Kampung Gajebo, Baduy Luar, Selasa (19/7/2022). Hasil bercocok tanam padi di ladang tanpa pupuk kimia membuat padi bisa tahan hingga puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Leuit di Baduy selalu ditemui di dekat aliran sungai.


Kerabat Kerja

Penulis:

Hendriyo Widi
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti