Tim peneliti di Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada mengembangkan GAMA Rain Filter. Inovasi teknologi ini bisa memanen air hujan menjadi air bersih dan kelebihannya diresapkan ke alam.
15 Nov 2021 07:30 WIB · Ilmu Pengetahuan & Teknologi
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/11/ccf715cb-c8f5-42db-99b9-1ba1353fc534_jpg.jpg)
Air hujan merupakan berkah alam yang menjadi sumber kehidupan. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, air hujan bisa membawa petaka seperti banjir, longsor, hingga bencana kekeringan. Teknologi tepat guna GAMA Rain Filter bisa membantu memanen air hujan hingga menjadi air bersih dan kelebihannya bisa diresapkan ke alam.
Alat penampung dan penyaring air hujan ini dikembangkan oleh dosen di Departemen Teknik Sipil Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada, Agus Maryono, dan mendapatkan paten pada tahun 2020. Meski demikian, Agus mempersilakan masyarakat menirunya untuk tujuan sosial.
”Kalau untuk sosial, masyarakat boleh meniru,” kata Agus, ahli hidrologi yang pada 2015 dinobatkan sebagai Pelopor Restorasi Sungai oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Penghargaan diberikan atas kepeloporannya dalam merestorasi sungai-sungai di Yogyakarta agar bisa kembali ke esensi sungai sebagai penjaga ekosistem.
GAMA Rain Filter mulai dikembangkan Agus bersama Sekolah Vokasi UGM sejak 2010 dan pada 2016 diajukan patennya. Alat dibuat untuk mengatasi meningkatnya kelangkaan sumber air bersih. Menurut Agus, sebagai negara tropis yang memiliki curah hujan tahunan tinggi, Indonesia seharusnya tidak akan kekurangan air jika bisa memanen air hujan.
Baca juga: Ayo, Sadar Bencana Hidrometeorologi
Agus mengatakan, riset tentang mutu air hujan di Yogakarta pada 2015 menunjukkan, kualitasnya amat baik dan bersih, yakni 20-50 kali lebih baik dari standar air yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Kandungan zat padat terlarut hanya 15 miligram per liter, kekeruhan hanya 2 NTU (nephelometric turbidity units), dan unsur kimia lain yang terkandung di dalamnya relatif masih rendah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/11/4715ab40-1c3f-45a6-a25a-392fd84f1dd2_jpg.jpg)
Sifat mikrostruktur air hujan juga memberikan efek sangat baik terhadap kesehatan karena mudah menembus dinding sel. Air hujan dapat memasukkan nutrisi ke dalam sel dan mengeluarkan oksidan dari dalam sel dengan relatif lebih mudah.
Sekalipun demikian, air hujan yang ditampung melalui atap memang bisa tercemar debu atau kotoran lain sehingga perlu ada perlakuan khusus. Dengan GAMA Rain Filter, air hujan bisa dipanen dari atap sehingga bisa dipakai sebagai air bersih dan jika ada kelebihan air hujan ini bisa dimasukkan ke sumur resapan.
Dalam skala besar, meresapkan kelebihan air hujan juga menjaga hidrologi air tanah dan menjadi cadangan di musim kemarau, serta mengurangi risiko banjir di musim hujan. Artinya, jika upaya memanen air hujan ini dilakukan dalam skala lingkungan yang luas, dampaknya bisa sangat besar terhadap penghematan air dan juga pengurangan risiko banjir.
Oleh karena itu, diperlukan gerakan untuk tidak membuang begitu saja air hujan yang ada, tetapi harus ditampung, dimanfaatkan dan diresapkan ke tanah. ”Cara kita melihat hujan harus diubah. Jangan lagi dilihat hujan sebagai sumber bencana, tetapi sumber berkah. Di musim La Nina seperti sekarang, kita bisa memanen air bersih lebih banyak sebagai bekal saat El Nino dan kemarau,” tuturnya.
Adaptasi perubahan iklim
Sejumlah studi menunjukkan, perubahan iklim telah memicu perubahan pola hujan di Indonesia. Berdasarkan data observasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mulai dari tahun 1981-2018, sebagian besar wilayah Indonesia memiliki tren peningkatan intensitas hujan walaupun di beberapa wilayah justru turun dengan besaran bervariasi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/11/8dd4e275-5de0-41fc-ba0d-79efd214fd5f_jpg.jpg)
Sebagai contoh jika kita lihat lokasi di Stasiun Meteorologi Hasanuddin, Makassar, yang memiliki tren peningkatan pada semua besaran intensitas hujannya. Misalnya, untuk intensitas hujan 20 milimeter (mm) per hari cenderung meningkat sebesar 0,624 persen setiap dekadenya.
Baca juga: Hadapi Bencana Hidrometeorologi
Studi peneliti iklim BMKG, Siswanto, yang dimuat di jurnal Royal Meteorological Society (2015) menyebutkan, pada 1866-2010, jumlah hari hujan di Jakarta berkurang, tetapi proporsi curah hujan lebat melebihi 50 mm per hari dan 100 mm per hari pada total hujan tahunan, naik signifikan. Jadi, meskipun akumulasi curah hujan tahunan menurun, frekuensi hujan ekstrem skala jam atau harian meningkat.
Cara kita melihat hujan harus diubah. Jangan lagi dilihat hujan sebagai sumber bencana, tetapi sumber berkah.
Dengan perubahan pola ini, risiko terjadinya bencana bakal meningkat. Di musim hujan, risiko banjir meninggi karena meningkatnya frekuensi hujan ekstrem, demikian sebaliknya di musim kemarau karena intensitas hujan tahunan menurunkan, risiko kekeringan juga meningkat.
GAMA Rain Filter diharapkan bisa membantu masyarakat beradaptasi dengan pola hujan yang berubah ini dengan memanen, menampung dan meresapkan air hujan yang berlebih ke tanah. Diharapkan, semakin banyak air yang diresapkan, cadangan dan kualitas air tanah akan membaik.
Alat ini didesain untuk menangkap air hujan dari atap dan secara otomatis menyaringnya sebelum dimasukkan ke tangki air, sehingga menjadi air besih. Sistem penyaring pertama untuk mencegah daun masuk ke tangkit, berupa pipa yang dipasangi kawat kasa bagian atasnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/11/20211111TAM-19_1636715709.jpg)
Air hujan awal, kira-kira 5 menit sampai 10 menit dari mulai hujan turun, yang umumnya membawa debu halus dan kasar sdialirkan ke konstruksi penyaring atau penjebak debu kasar. Setelah itu, air hujan akan mengalir ke filter debu halus yang dipasang pada bagian dalam penutup tangki, baru kemudian air hujan masuk ke tangki.
Jika tangki sudah penuh, katup ke tangki akan tertutup secara otomatis sehingga air hujan bisa dialirkan ke sumur resapan. Air hujan yang telah disaring ini juga bisa dimasukkan ke sumur. Jika hendak menjadikan air hujan ini siap minum, bisa ditambahkan dengan pipa penyinaran ultraviolet untuk membunuh virus dan bakteri.
Pada hujan minggu pertama dan kedua musim hujan, sebaiknya air hujan tidak ditampung ke dalam tangki, karena umumnya atap masih amat kotor, tetapi bisa langsung diresapkan. Demikian juga jika terjadi hujan abu vulkanik, air hujannya tidak akan dimasukkan ke tangki. Namun, di luar kondisi ini, katup akan selalu terbuka.
Baca juga: Perubahan Iklim Menjadi Krisis Iklim
Menurut Agus, alat ini untuk dipakai masyarakat secara luas di perdesaan maupun perkotaan yang kekurangan sumber air bersih. Alat itu juga ditujukan untuk kawasan industri, perkantoran, dan fasilitas umum lainnya yang biasanya mempunyai atap bangunan cukup luas, dan sekaligus memerlukan air bersih berjumlah relatif besar.
Di lingkungan perkantoran atau pabrik, misalnya, jika mereka mau memanen air hujannya dengan sistem ini, kebutuhan air bersih dari sumur atau aliran PDAM bisa dikurangi. Selain bisa menghemat pemakaian air, hal ini juga bisa menghindari pengambilan air tanah berlebih, yang selama ini menjadi sumber masalah di sejumlah kota kita.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/wp-content/uploads/2021/11/8989c867-06da-464d-8c50-4ae726e502d8_jpg.jpg)
Menurut Agus, upaya memanen air hujan sudah menjadi praktik masyarakat tadisional di Indonesia, terutama yang hidup di daerah rawa, sepanjang pinggir sungai, pegunungan dan daerah tandus. Alat penampung air hujan tradisional biasanya langsung memasukkan air hujan dari atap ke penampungan, belum menggunakan filter untuk menyaring dan menjernihkan air hujan.
Di pasaran, umumnya alat pemanen air hujan belum memakai penyaring debu halus, dan secara sistemik belum didesain untuk mengatasi masalah debu akibat hujan abu vulkanik dan kotoran daun. Padahal, beberapa daerah di Indonesia, termasuk Yogyakarta, memiliki pengalaman berhadapan dengan hujan abu vulkanik.
Oleh karena itu, GAMA Rain Filter diharapkan meningkatkan mutu air hujan hasil tangkapan masyarakat. Di samping itu, alat ini dapat dibuat dan dipasang dengan mudah oleh para tukang lokal setelah mendapat pengarahan sehingga bisa direproduksi secara meluas. ”Sejauh ini sudah ada 1.000-an yang dibangun di sejumlah daerah di Indonesia, misalnya di Kecamatan Ternate (Maluku Utara) dan Kecamatan Tegalrejo (Yogyakarta),” kata Agus.
Penulis:
Ahmad ArifEditor:
evyrachmawati