Membaca Arah Kemarahan Publik terhadap Bupati Pati

Kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan yang diterapkan Bupati Pati Sudewo hingga 250 persen memicu reaksi keras publik. Perlawanan rakyat di tengah kesulitan ekonomi.

10 Agt 2025 10:01 WIB · Politik & Hukum

Oleh Andreas Yoga Prasetyo

Sudewo, Bupati Pati, Jawa Tengah, tiba-tiba menyita atensi publik. Informasi seputar ”Bupati Pati”, antara lain, dicari warganet melalui mesin pencarian di internet, Google. Dalam satu pekan, 2-8 Agustus 2025, Google Trends menangkap skor pencarian informasi tentang ”Bupati Pati” berada di angka 100 pada Rabu, 6 Agustus 2025 pukul 12.00.

Dari rentang skala 0-100 yang digunakan, Google Trends merekam antusiasme warganet tersebut berada di titik tertinggi. Skor pencarian pada angka 100 kembali terjadi pada Kamis, 7 Agustus 2025 pukul 19.48.

Dari topik informasi berdasar pencarian warganet, informasi seputar Bupati Pati berkaitan dengan masalah Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Sementara dari kueri yang banyak digunakan, pencarian informasi oleh warganet banyak didominasi oleh kata: Riyoso, Riyoso Pati, dan Bupati Pati menaikkan PBB. Jika Sudewo merupakan Bupati Pati, Riyoso yang dimaksud merupakan sosok Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pati.

Hampir senada, konten terkait Bupati Pati juga mendapat atensi warganet di media sosial. Pantauan melalui aplikasi Talkwalker menunjukkan, sepanjang 2-8 Agustus 2025 muncul 15.488 unggahan dan 333.769 interaksi dari pengguna media sosial Youtube dan X. Sebagaimana di mesin pencari Google, puncak atensi warganet terhadap konten Bupati Pati terjadi pada 6 Agustus 2025 pukul 14.00-15.00.

Serupa pula dengan Google Trends, konten yang paling banyak mendapat atensi warganet di media sosial ialah Riyoso (Sekda Pati). Konten yang menampilkan Riyoso diunggah oleh akun Youtube Harian Surya pada 6 Agustus 2025 pukul 16.15. Konten yang berjudul ”Adu Mulut Massa Demo Vs Sekda Pati Imbas Bupati Tantang 50 Ribu Warga” ini telah ditonton sebanyak 1.385.023 views dan 11.000 likes hingga 8 Agustus 2025.

Selanjutnya, konten kedua yang paling banyak mendapat atensi warganet ialah aksi unjuk rasa warga terhadap Bupati Pati Sudewo. Konten video ini diunggap akun Youtube Kompas.com pada 6 Agustus 2025 pukul 15.19 dengan judul ”Demo Tolak Gubernur Naikkan PBB 250 Persen di Pati, Logistik Warga Diangkut Satpol PP”. Video ini telah ditonton sebanyak 282.780 views dan menghasilkan 6.100 likes hingga 8 Agustus 2025.

Masalah unjuk rasa warga juga menjadi konten berikutnya yang mendapat atensi tinggi warganet. Konten ini diunggah oleh akun X @yaniarsim yang menyebutkan Bupati Sudewo menantang warganya yang ingin berdemo menentang kebijakannya. Unggahan konten pada 5 Agustus 2025 pukul 11.11 ini telah mendapatkan 71.200 impresi dan 2.900 interaksi pengguna X.

Tangkapan layar video perdebatan antara warga dengan Penjabat Sekretaris Daerah Pati, Riyoso di depan kantor Bupati Pati, Jawa Tengah, Rabu (6/8/2025). Warga yang sedang membuka posko penerimaan bantuan logistik demonstrasi diminta pindah lokasi karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Rencananya, warga bakal menggelar demonstrasi menolak kenaikan PBB-P2 sebesar 250 persen pada Rabu (13/8/2025).

Arogansi kepemimpinan

Dari atensi terbanyak warganet ini, setidaknya tergambar tiga penyebab mengapa publik bereaksi keras terhadap kebijakan Bupati Pati Sudewo. Pertama, ialah sensitivitas kebijakan publik yang diterapkan di tengah tekanan ekonomi masyarakat. Konten berisi protes terhadap kebijakan Bupati Pati ini menjadi salah satu topik atensi tertinggi warganet pada saat-saat awal isu ini muncul, yakni 6 Agustus 2025.

Hal ini dapat dimengerti mengingat pada satu-dua bulan terakhir ini banyak  masyarakat yang sedang membutuhkan uang untuk membiayai sekolah anak. Ditambah fenomena pelemahan daya beli, pemutusan hubungan kerja (PHK), dan makin susahnya mencari pekerjaan, kebijakan menaikkan pajak hingga 250 persen dirasakan sebagai penambah beban masyarakat.

Faktor kedua dipicu oleh pembubaran paksa dan penyitaan barang donasi oleh Satpol PP Kabupaten Pati. Respon keras Pemkab Pati  dengan tindakan fisik (penyitaan) saat menghadapi unjuk rasa warga yang mempertanyakan kebijakan bupati malah menambah retensi publik. Atensi warganet tertumpahkan dalam konten penyitaan barang donasi warga yang berujung ricuh.

Meski berupa minuman dan makanan, donasi ini bukanlah bantuan biasa. Donasi tersebut merupakan simbol solidaritas warga Pati yang terhadap para pengunjuk rasa yang tengah memperjuangkan aspirasi rakyat, bahkan hingga berdebat sengit dengan Sekda Pati Riyoso. Sebagaimana, konten tentang sensitivitas kebijakan publik, konten penyitaan donasi warga saat unjuk rasa juga banyak mendapat atensi warganet pada 6 Agustus 2025.

Faktor ketiga ialah arogansi kepemimpinan. Sorotan warganet terhadap konten kepemimpinan Bupati Sudewo juga banyak mendapat atensi warganet pada 6 Agustus 2025. Arogansi Bupati Pati terucap setelah Sudewo menantang warga Pati yang menolak kenaikan Pajak Bumi Bangunan Perkotaan.

Alih-alih menyurutkan nyali warga, aksi masyarakat menolak kebijakan Bupati Sudewo justru terus membesar. Kemarahan warga ini juga tergambar dari pemantauan atensi warganet pada periode 3-9 Agustus 2025.  Konten terbanyak yang mendapat atensi pada peride tersebut ialah unggahan akun Youtube HAR Jurnalis pada 7 Agustus 2025 pukul 13.54. Video yang diunggah tersebut berjudul ”5000 Aliansi Santri Siap Geruduk Bupati Pati Demo Tolak PBB 250 Persen 13 Agustus!!?”.

Konten yang disertai caption ”Bupati Pati Makin Ketar-Ketir” ini sudah mendapat  1.143.427 views dan 10.000 likes hingga 9 Agustus 2025 pukul 08.00. Konten ini pula yang paling banyak mendapat atensi warganet pada pemantauan 3-9 Agustus 2025 menggeser konten adu mulut pengunjuk rasa dengan Sekda Pati, Riyoso.

Infografik riset Atensi Warganet Terkait Konten ”Bupati Pati” (2-9 Agustus 2025)

 

Bupati Gerindra di kandang PDI-P

Situasi yang terus memanas ini bisa jadi membuat Bupati Pati benar-benar makin ketar-ketir. Kebijakan publik yang kurang peka, respon keras/fisik, dan arogansi kepemimpinan yang menantang warga berubah menjadi gejolak politik di Pati. Di Google Trend, kueri ”Bupati Pati Sudewo dari partai apa” melejit sebagai top kueri dalam pantauan satu pekan terakhir (2-9 Agustus 2025).

Arah gejolak politik menjadi babak baru protes warga Pati terhadap kepemimpinan Bupati Sudewo. Melihat peta politik Pati, Sudewo patut mempertimbangkan kekuatan politiknya untuk meredam gejolak politik. Hal ini mengingat Sudewo tidak memiliki dominasi politik kuat di Kabupaten Pati.

Saat pemilihan kepala daerah (pilkada) 2024, Sudewo berpasangan dengan Risma Ardhi Chandra. Pasangan ini dicalonkan oleh koalisi Partai Gerindra, Partai Nasdem, PKB, Golkar, Perindo, PKN, PSI, dan Gelora. Sudewo-Chandra berhasil memenangi pilkada dengan mendapat 419.684 suara atau 53,54 persen suara.

Meski demikian, Sudewo-Chandra mendapat saingan dari koalisi PDI-P,  PKS, dan Partai Demokrat yang mencalonkan Wahyu Indriyanto-Suharyono. Koalisi PDI-P ini meraih 335.318 suara atau 42,77 persen. Satu pasangan calon lain, yakni Budiyono-Novi Eko Yulianto dari koalisi PAN-PPP mendapat 28.946 suara atau 3,69 persen.

Walau Sudewo menang pilkada, kekuatan politik di Pati sebenarnya lebih banyak didominasi PDI-P. Kabupaten Pati merupakan wilayah solid bagi PDI-P di pemilu legislatif. Dalam empat pemilu terakhir (2009-2024), PDI-P selalu memenangkan wilayah Pati.

Pada pemilu 2009, PDI-P mendapat 141.547 suara, disusul Demokrat (95.590 suara), dan Golkar (56.569 suara). PDI-P juga meraih suara terbanyak pada Pemilu 2014 dengan mengumpulkan 117.644 suara, unggul atas Gerindra yang mendapatkan 112.599 suara.

Selanjutnya, pada Pemilu 2019, PDI-P berhasil meraih 163.112 suara, disusul Demokrat yang mendapat 91.742 suara dan Gerindra yang memperoleh 88.079 suara. Terbaru, pada Pemilu Legislatif 2024, PDI-P memperoleh dukungan suara terbanyak, yakni 201.840 suara disusul Gerindra  (94.573 suara) dan PKB (86.937 suara).

Dari sebaran wilayahnya, PDI-P berhasil menyapu bersih kemenangan di lima daerah pemilihan di Pati. Capaian ini membuat sepertiga kursi DPRD Kabupaten Pati periode 2024-2029 diisi kader-kader PDI-P (14 kursi). Jumlah kursi PDI-P ini lebih banyak dibanding kursi Gerindra, PKB, dan PPP yang masing-masing mendapat enam kursi. Dari aspek geopolitk, komposisi seperti ini tidak menguntungkan untuk Bupati Sudewo.

Nelayan menyandarkan kapal di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo, Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (1/3). Di PPP Bajomulyo, kemarin, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mendata dan memverifikasi lebih dari 100 kapal cantrang terkait peralihan ke alat tangkap ramah lingkungan.

 

Kepemimpinan kreatif

Dalam perkembangan terbaru, Bupati Sudewo kemudian meminta maaf atas kebijakannya. Sudewo juga mendatangi posko donasi warga di alun-alun Pati pada Jumat (8/8/2025) malam. Di media sosial, respon permintaan maaf Sudewo ini juga terpantau mendapat atensi warganet seperti yang diunggah akun Youtube Tempodotco pada 7 Agustus 2025 pukul 14.17. Konten ini berjudul ”Bupati Pati Minta Maaf Soal Tantang Warganya Demo” dan telah ditonton sebanyak 109.909 kali.

Meski sudah meminta maaf, respons likes warganet terhadap video berdurasi 2 menit 35 detik ini terpantau masih minim (603 likes). Di sisi lain, secara keseluruhan, atensi warganet terhadap konten ”Bupati Pati” justru terpantau meningkat. Sepanjang periode 3-9 Agustus 2025, jumlah unggahan terkait ”Bupati Pati” bertambah menjadi 20.979 konten dan menghasilkan 599.558 interaksi.

Konten-konten yang menyerang Bupati Pati Sudewo juga terpantau mulai muncul, seperti saat Sudewo ”menyawer” dua penyanyi pada April 2025. Secara umum, dari jumlah unggahan dan interaksi tersebut, sentimen terhadap Bupati Pati Sudewo cenderung lebih banyak negatif (55,8 persen) dibanding positif (3,3 persen).

Reaksi dan sentimen negatif publik ini sejatinya bukan hanya mengungkapkan ekspresi jangka pendek berupa penolakan kenaikan pajak. Meski minor, warganet juga memunculkan keinginan memiliki kepemimpinan yang inovatif dan kebijakan yang efektif dalam meningkatkan pendapatan daerah.

Banyak contoh keberhasilan pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan daerah. Secara berkala Kementerian Dalam Negeri memberikan Anugerah APBD Award. Penganugerahan ini diberikan untuk memacu pemerintah daerah (pemda) melakukan cara kreatif dalam meningkatkan kapasitas fiskal.

Upaya tersebut diperlukan agar pendapatan asli daerah (PAD) terus meningkat dan bukan hanya mengandalkan pendapatannya dari pajak semata.  Cara-cara yang dapat ditempuh ialah mendorong ekonomi kreatif dan optimalisasi anggaran daerah yang ditujukan untuk peningkatan infrastruktur agar pembangunan ekonomi daerah bisa semakin pesat.

Contoh nyata ialah Pemerintah Kota (Pemkot) Dumai yang mendapat Anugerah APBD Award 2024. Pemkot Dumai mendorong pertumbuhan sektor kuliner dan investasi perusahaan besar di Dumai.

Keberhasilan lain ialah Pemerintah Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan yang membuat pelayanan publik yang lebih baik dan mempercepat pembangunan di berbagai sektor. Pemda juga mengoptimalkan potensi besar yang dimiliki Tanah Laut, mulai dari sektor kelautan, pertanian, dan perkebunan.

Kabupaten Pati memiliki potensi besar seperti Dumai dan Tanah Laut. Pati yang dikenal dengan ”Bumi Mina Tani” memiliki potensi perikanan dan pertanian untuk menggerakkan perekonomian. Beberapa kecamatan sebagai penghasil perikanan dan pertanian, seperti Kecamatan Juwana, Tayu dan Gabus.

Sektor penopang perekonomian lain ialah industri pengolahan dan perdagangan.  Inilah potensi besar yang dapat dikembangkan oleh Bupati Pati daripada mengambil kebijakan politik yang memicu gejolak masyarakat. Gejolak politik di tengah tekanan ekonomi ini memiliki risiko politik tinggi, sebagaimana pernah terjadi pada Reformasi 1998. (LITBANG KOMPAS)

 

 


Kerabat Kerja

Penulis:

Andreas Yoga Prasetyo
 | 

Editor:

Yohan Wahyu
 | 

Infografik:

Gunawan Kartapranata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase