Membangun Kembali Sistem Keolahragaan Nasional

Indonesia Sport Summit jangan sekadar menjadi seremonial pemangku industri dan kebijakan olahraga, tetapi arena bagi pembangunan sistem olahraga nasional.

02 Des 2025 11:00 WIB · Artikel Opini

Kompas/Supriyanto

Oleh Meistra Budiasa

Kementerian Pemuda dan Olahraga akan mengadakan Indonesia Sport Summit di Jakarta, 6-7 Desember 2025. Ajang ini menjadi sejarah pertama bangsa ini mengadakan konferensi khusus tentang olahraga.

Konferensi itu menurut laman Kemenpora bertujuan membangun ekosistem baru antara berbagai pemangku kebijakan, dari komponen pelaku olahraga dan berbagai industri. Hal ini meyakinkan dan membangun optimisme dunia olahraga yang selama beberapa dekade mengalami pasang surut prestasi dengan beragam persoalan.

Dengan konferensi ini diharapkan ada secercah harapan bagi pertumbuhan olahraga khususnya dari sisi ekonomi dan industri, yang diharapkan melahirkan prestasi dan kesejahteraan. Pertemuan ini menghadirkan semua kepentingan untuk memfasilitasi berbagai macam ide, usulan, bahkan rekomendasi bagi sistem keolahragaan nasional.

Di balik semua itu ada beberapa hal yang perlu mendapatkaan perhatian khusus sekaligus menjadi bagian reflektif bagi semua yang terlibat dalam dunia olahraga. Terutama berbagai tantangan dan persoalan yang menghambat kemajuan sistem keolahragaan nasional.

Konflik organisasi dan pembinaan atlet

Dinamika organisasi berupa konflik berkepanjangan menjadi rutinitas yang terjadi di induk organisasi olahraga nasional dan daerah. Isunya terkait kepemimpinan, kepengurusan, sampai anggaran. Konflik ini tidak saja menguras energi tetapi juga berdampak kepada pengembangan dan pembinaan atlet, cabang olahraga, serta rencana strategis keolahragaan baik dari tingkat pusat sampai daerah.

Dalam hal pembinaan juga tidak kalah dinamikanya, mulai dari fasilitas olahraga, nutrisi atlet, sampai pemusatan latihan yang terkendala berkenaan dengan pendanaan. Atlet dan pelatih terkadang menjalankan program dengan penuh keterbatasan, tetapi  harus terus fokus agar dapat meraih prestasi pada suatu ajang olahraga seperti PON hingga Olimpiade.

Belum lagi transparansi pada proses pembinaan yang tidak sedikit menjadi benih konflik di dalam induk olahraga hingga berdampak konflik organisasi. Semuanya menjadi sebuah lingkaran tak kunjung usai, organisasi olahraga menjadi ajang perebutan kuasa politik maupun ekonomi sehingga pengelolaannya hampir persis seperti organisasi sosial politik.

Berbagai cara dilakukan agar kondisi itu tidak berlangsung lama, namun konflik organisasi olahraga semakin meruncing. Negara kadang dengan mudah menyelesaikannya melalui kebijakan anggaran yang akhirnya semakin melatenkan konflik.

Ilustrasi Memulai Olahraga

Masuknya industri olahraga

Olahraga di Indonesia mulai menjadi sasaran sektor industri secara regulasi dimulai tahun 2005, dan direvisi tahun 2022 melalui Undang-undang Keolahragaan Nasional, lalu diturunkan menjadi DBON. Dalam peraturan itu terdapat pasal terkait industri olahraga, yang secara legitimasi perkembangannya semakin pesat.

Olahraga menjadi suatu ekosistem ekonomi dari berbagai sektor sehingga banyak menciptakan peluang bagi elemen masyarakat untuk berpartisipasi. Hari-hari ini kita saksikan bagaimana popularitas olahraga rekreasi menguat, event olahraga merebak dari kelas fun sampai kompetisi internasional, produk lokal olahraga juga semakin deras berproduksi.

Geliat industri olahraga meluas menjadi solusi kekurangan anggaran pada bidang ini. Pemangku kebijakan dari pusat sampai daerah membuat program sport tourism sebagai peluang besar pemasukan negara.

Bersamaan dengan itu, minat masyarakat berolahraga menciptakan stimulus yang kuat, mulai dari loyalitas penggemar olahraga, maraknya komunitas olahraga, dan media sosial yang dipenuhi oleh konten olahraga menjadikan sebuah ekosistem tersendiri. Popularitas ini adalah modal yang dapat dikonversi jadi nilai ekonomi, melalui sponsor, cenderamata, event, dan konten.

Industri olahraga selain mampu menjaga daya tahan ekonomi juga dapat membantu institusi olahraga mengatasi kekurangan pendanaan. Di sisi lain, geliat industri ini akan menghadirkan beragam pertanyaan implementatif seperti bagaimana korelasinya dengan pengembangan olahraga nasional? Seperti apa wujud nyata membantu kesejahteraan atlet, saat aktif maupun setelah pensiun? Bagaimana perkembangan infrastruktur olahraga mendukung prestasi atlet di kancah nasional atau internasional?

 Jawaban atas pertanyaan itu harus terimplentasi dengan baik, meski saat ini pemerintah terus berupaya mewujudkan itu. Setidaknya sudah sedikit terlihat dengan renovasi sejumlah fasilitas olahraga yang bisa dinikmati publik luas. Tetapi dari sisi prestasi, masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Membangun, mengemas

Olahraga bisa menjadi komponen ekonomi karena sifatnya dapat menjadi komoditas dan dapat dikemas melalui pemasaran. Mengemas olahraga menjadi industri menghadirkan manfaat ekonomi, tetapi kita perlu melihat bahwa terkadang dapat menyimpan paradoks. Industri olahraga dapat berkembang sebagai komoditas yang memunculkan komersialisasi. Namun, harus dipastikan muaranya adalah peningkatan prestasi. Olahraga jangan sekadar menjadi komoditas industri, melainkan harus menjadi tempat pembinaan yang bagi atlet dan sarana penguatan identitas.

Ilustrasi

Indonesia Sport Summit jangan hanya menjadi seremonial pemangku industri dan kebijakan olahraga, tetapi harus menjadi arena bagi pembangunan sistem olahraga nasional yang lebih visioner. Dengan demikian, setiap investasi, promosi, dan kemasan industri olahraga perlu diarahkan mendukung pencapaian prestasi yang membanggakan, agar olahraga tidak kehilangan makna utamanya sebagai arena kompetisi perjuangan, disiplin, dan kebanggaan bangsa.

Seperti diingatkan Lawrence A. Wenner (2021) dalam Media, Sports, and Society, komodifikasi olahraga melalui media dan industri berisiko menggeser nilai sportivitas, sehingga penting menjaga agar komersialisasi tetap berpihak pada prestasi.

Yang paling penting adalah industri olahraga harus mampu membangkitkan kembali prestasi khususnya di arena multiajang, kejuaraan internasional dan cabang olahraga andalan Indonesia kembali Berjaya di dunia.

Meistra Budiasa, Peneliti Komunikasi Olahraga dan Dosen Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta


Kerabat Kerja

Penulis:

Meistra Budiasa
 | 

Editor:

Yohanes Krisnawan, Johanes Waskita Utama
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase