Paus Leo XIV memberikan perhatian serius untuk perdamaian dunia. Untuk memperjuangkannya, dunia perlu mewujudkan keadilan, terutama untuk para korban.
21 Mei 2025 06:14 WIB · Opini
Pembicaraan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin, Senin lalu, belum menghasilkan kemajuan berarti.
Tidak ada terobosan berarti yang dicapai oleh Trump dan Putin dalam pembicaraan selama dua jam itu. Yang menjadi ”catatan positif” adalah wacana pertukaran tahanan antara AS dan Rusia serta potensi perdagangan kedua pihak bila perang Rusia-Ukraina berhenti. Selebihnya, awan gelap masih menyelimuti upaya untuk menghentikan perang Rusia-Ukraina.
Dalam pembicaraan tersebut Putin memang berjanji, bersedia mengakhiri pertempuran di Ukraina. Namun, Moskwa tidak menetapkan tenggat soal nota kesepahaman itu. Bahkan, Kremlin justru mengatakan, saat ini bola ada di tangan Ukraina.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/20/622d2b7b3900ca93e917c29348fc8d2d-wires_photo_11.jpg)
Dalam pembicaraan dengan Trump, Putin kembali menolak usulan gencatan senjata tak bersyarat selama 30 hari. Situasi ini seolah mengulang kebuntuan pertemuan Rusia-Ukraina yang digelar secara langsung di Istanbul, Turki.
Dalam pembicaraan selama 90 menit pada Jumat lalu di Istanbul itu perwakilan Rusia-Ukraina tidak mencapai titik temu soal gencatan senjata. Hal positif yang diraih dalam pertemuan itu adalah kesepakatan pertukaran 1.000 tawanan perang. Situasi dari dua peristiwa terakhir itu menyiratkan damai masih harus diupayakan dengan keras.
”Insentif” ekonomi yang diajukan Trump sebagai prospek yang bakal diterima Rusia tak menggoyahkan sikap Putin. Moskwa tetap kukuh pada pendirian dan syarat-syarat yang mereka inginkan, yaitu menghilangkan akar penyebab krisis.
Salah satu isu yang kerap menjadi ganjalan bagi Rusia adalah perluasan keanggotaan NATO ke wilayah Eropa Timur, termasuk memasukkan Ukraina dalam pakta tersebut. Putin menegaskan, kepentingan nasional Rusia harus dihormati. Sebagaimana negara-negara lain inginkan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/995c3f9c-5163-4a30-b82b-f26ff428d2c8_jpg.jpg)
Upaya yang diambil oleh Presiden Trump layak diapresiasi. Akan tetapi, di sisi lain penting juga untuk dilihat lebih dalam karena nasib Ukraina seperti ada dalam ”pertaruhan”.
Terkait perdamaian di Ukraina, layak pula mencecap lagi seruan Paus Leo XIV dalam misa pelantikannya, Minggu (18/5/2025). Saat itu, Paus menyebut tentang Ukraina yang kini menunggu negosiasi untuk perdamaian yang adil dan abadi. Diksi yang digunakan oleh Paus sangat kuat, yaitu adil dan abadi.
Paus hendak menempatkan bahwa kepentingan korban seharusnya menjadi panglima. Menegaskan sikap Paus, Mgr Ignatius Kardinal Suharyo mengatakan, dunia perlu mengimplementasikan adagium baru, yaitu si vis pacem para justicia, jika Anda menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk menegakkan keadilan. Adagium baru itu untuk mengganti adagium lama si vis pacem para bellum. Jika Anda menginginkan perdamaian, bersiaplah untuk perang.
Penulis:
RedaksiEditor:
Andreas Maryoto, Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari